Ads

Ads
Menu
Results for "Cerita Rakyat"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

- Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibentuk ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini dipakai untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang populer akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.
Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang berjulukan Cerita Rakyat : Nyale Rienkarnasi Putri Keraton Putri Mandalika
Hewan Laut "Nyale"

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan manis jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan manis ia populer ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi pujian para rakyatnya.

Semua rakyat sangat besar hati mempunyai raja yang pintar dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala santunan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, kondusif dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur hingga ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cinta. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa sanggup mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat marah mendapatkan kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan bahaya hancurnya kerajaan Tonjang Beru kalau lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan bahaya yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak sanggup makan, tak sanggup tidur, sang putri hasilnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.



Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang berjulukan Cerita Rakyat : Nyale Rienkarnasi Putri Keraton Putri Mandalika

Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul peristiwa manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri menerima inspirasi biar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para permintaan diminta tiba dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang tiba dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak hingga kakek - kakek pun tiba memenuhi permintaan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun tiba dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.
Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang berjulukan Cerita Rakyat : Nyale Rienkarnasi Putri Keraton Putri Mandalika

Betul ibarat janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang manis dan anggun ini hadir dengan diusung memakai usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua permintaan yang menunggu berhari - hari hanya sanggup termenung kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri tiba dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak usang kemudian, sang putri melangkah, kemudian berhenti di onggokan batu, membelakangi bahari lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan bunyi lantang dengan berseru : :Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang saya cintai. Hari ini saya telah menetapkan bahwa diriku untuk kau semua. Aku tidak sanggup menentukan satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki biar saya menjadi Nyale yang sanggup kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal ketika munculnya Nyale di permukaan laut."
Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada gundah rakyat pun ikut gundah dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas kerikil dan menceburkan diri ke dalam bahari yang eksklusif di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di kawasan itu. Pada ketika mereka pada kebingungan muncullah hewan kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka hewan itulah jelmaan dari sang putri Mandalika. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil hewan itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada ketika program Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa kini ini, mereka semenjak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi program dengan peresean, membuat kemah dan mengisi program malam dengan banyak sekali kesenian tradisional ibarat Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.

Setiap tanggal dua puluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari sehabis bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung program menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing bahari yang hidup di lubang - lubang kerikil karang di bawah permukaan laut.

Penduduk setempat mempercayai Nyale mempunyai tuah yang sanggup mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya. "Itulah yang berkembang selama ini" ujar Lalu Wirekarme yang pernah menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akhir efek keadaan alam dan teladan kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang fundamental akan kebesaran Tuhan, membuat alam dengan segala isinya termasuk hewan sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat sehabis purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan bahari bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.

Dalam acara ini terlihat yang paling menonjol ialah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang sanggup terus dipertahankan alasannya ialah ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng wacana insiden yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan kisah yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang renta yang kemudian tersusun dalam naskah wacana legenda Nyale.



Sumber http://catatanlombok.blogspot.com

- Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibent...
Ha Njo Dolan Sabtu, 18 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata

RAGAM LOMBOK - Saat belum mempunyai nama, Pulau Lombok masih berupa perbukitan yang dipenuhi hutan belantara dan belum dihuni manusia. Pulau ini hanya dihuni oleh ratu jin yang berjulukan Dewi Anjani didampingi seorang patih berjulukan Patih Songan. Dewi Anjani mempunyai banyak prajurit dari bangsa jin dan seekor burung peliharaan yang berjulukan Beberi. Burung itu berparuh perak dan berkuku baja yang sangat tajam. Dewi Anjani beserta para pengikutnya tinggal di puncak Gunung Anjani yang terdapat di pulau itu di tempat sembalun.

 Pulau Lombok masih berupa perbukitan yang dipenuhi hutan belantara dan belum dihuni manus Penghuni Pertama Pulau Lombok : Alkisah Leluhur

Suatu hari, sepulang dari berkeliling mengitari seluruh daratan Pulau Lombok, Patih Songan tiba menghadap kepada Dewi Anjani.  “Ampun, Tuan Putri! Izinkanlah hamba untuk memberikan sesuatu,” kata Patih Songan sambil memberi hormat.
“Kabar apa yang hendak kau sampaikan, Patih? Katakanlah!” seru Dewi Anjani.
“Begini, Tuan Putri. Hamba gres saja final mengelilingi pulau ini. Hamba melihat pulau ini semakin penuh dengan pepohonan. Maka itu, Hamba menyarankan biar Tuan Putri segera memenuhi pesan kakek Tuan Putri untuk mengisi pulau ini dengan manusia,” ungkap Patih Sangon.

Setelah itu Dewi Anjani mengutus para perajurintnya untuk mengakibatkan kaumnya menjdi insan dan membuatkannya sebuah perkampungan lengkap dengan sawah dan rumah tempat mereka bersingah dan hidup selayaknya manusia, dibutlah jin menjadi manusia, jin tersebuat termasuk ayahnya Doyan Nada, yang menjabat sebagai kepala suku di kampong tersebut. Hal itu,  bisa di cermati dari pada kutipan berikut ini.

Setelah itu, Dewi Anjani segera mengubah sepuluh pasang suami istri dari prajuritnya menjadi insan dan salah seorang di antaranya dijadikan sebagai kepala suku. Kesepuluh pasangan suami istri tersebut kemudian menetap di tempat itu dan hidup sebagai petani.

B.  Kejehatan Kepala Suku Pada Anaknya
Istri sang kepala suku pun hamil dan melahirkan seorang anak yang berjulukan Doyan Nada, namun sang anak sangt doyan makn dan menghabiskan semua panenya sehingga menciptakan sang ayah murka dan merasa di rugikan mempunyai anak yang selalu memebutuhkan bnyak untuk makanya.
Membuat pikiran picik sang ayah, sang ayahpun mencoba untuk memebunuh Doyan Nada dengan banyak sekali cara di lakukan demi membunuh anaknya tersebut, namun Dewi Anjani selalu ada untuk membantu sang Doyan Nada,  sang anak mati suri 3 kali oleh sang ayah, tetapi ia selalu hidu, di hidpkan oleh Dewi Anjani. Beberapa kutipan dari dongeng rakyat Dayan Nada sebagi berikut.

Sang istri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah sehabis mendengar klarifikasi suaminya. Sementara itu, sang kepala suku segera menyusun rencana untuk menghabisi nyawa Doyan Nada. Pada esok harinya, ia mengajak anaknya ke hutan untuk menebang pohon besar. Tanpa merasa curiga sedikit pun, Doyan Nada menuruti saja permintaan sang ayah.

Setibanya di hutan, sang ayah menentukan pohon yang paling besar dan segera menebangnya. Dengan sengaja ia mengarahkan pohon besar itu roboh ke tempat Doyan Nada berdiri. Begitu roboh, pohon besar itu menindih badan Doyan Nada hingga tewas seketika. Melihat anaknya tidak bernyawa lagi, sang ayah segera meninggalkan tempat itu.

Rupanya, Dewi Anjani menyaksikan semua insiden tersebut dari puncak Gunung Anjani.
“Beberi, cepat percikkan banyu urip (air hidup) ke badan Doyan Nada!” seru Dewi Anjani kepada burung peliharaannya.

C.  Kekuatan Doyan Nada Dalam Cerita Rakyat Nusantara Doyan Nada
Doyan Nada  adalah  seorang  anak   kepala  suku  di  daerah  selaparang  Lombok Timur Nusa Tengara Barat Indonesia, ia sangat besar lengan berkuasa dan sangat doyan makan seberapapun banyak kuliner akan habis jika di depanya, maka dari itulah ia mempunyai nama Doyan Nada dan mempunyai badan yang sangat kekar dan sangat kuat.

Siapapun musuhnya akan takluk kalok bertemu denganya, seorang butu ijo pun pernah di taklukanya, dikala itu ia sedang mengebara karna di usir orang tuanya yang sudah tidak bisa untuk memberinya makanan. Hal itu,  bisa di cermati dari pada kutipan berikut ini.
“Berhenti, hai raksasa tengik!” seru Doyan Nada, “Kembalikan dendeng yang kau curi itu!”
“Hai, anak manusia! Menyingkirlah dari hadapanku, atau kau akan kujadikan mangsaku!” ancam Limandaru.

“Aku tidak akan menyingkir sebelum kau serahkan dendeng itu kepadaku,” kata Doyan Nada.
Merasa ditantang, Limandaru menjadi murka dan eksklusif menyerang Doyan Nada. Tanpa diduga, ternyata anak kecil yang dihadapinya ialah seorang sakti mandraguna. Serangannya yang tiba secara bertubi-tubi sanggup dihindari oleh anak kecil itu dengan mudah. Karena kesal, Limandaru terus menyerang Doyan Nada dengan cara membabi buta. Namun begitu ia lengah, tiba-tiba sebuah tendangan keras dari Doyan Nada mendarat sempurna di lambungnya. Tubuhnya yang besar itu pun terpelanting jauh dan terjatuh di tanah hingga tidak sadarkan diri.

D.  Pran Tameng Muter dan Sigar Panjahitan

Tameng Muter          
Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi raja di pulau Lombok ini Tameng Muter termasuk orang yang ingin mempunyai kekuasaan di pulau Lombok ini, sangking ingnya menjadi raja di pulau ini ia bertapa selama 10 tahun, namun ahirnya terkabul sehabis bertemu dengan seorang pengembara yakitu Doyan Nada dan ia pun menjadi raja di pejangik Lombok Timur.  Hal itu,  bisa di cermati dari kutipan berikut ini.

Suatu hari, dikala melewati sebuah hutan lebat, Doyan Nada dikejutkan oleh bunyi orang berteriak meminta tolong. Ia pun segera menolongnya. Rupanya, orang itu ialah seorang pertapa yang terlilit oleh akar beringin. Pertapa yang berjulukan Tameng Muter itu kemudian bercerita kepada Doyan bahwa dirinya sudah sepuluh tahun bertapa alasannya ialah ingin menjadi raja di pulau itu. Akhirnya, mereka pun menjadi sahabat dan pergi mengembara tanpa arah dan tujuan.

Singar Panjahitan
Dia adah seorang pengelana namun sama tujuanya dengan  Tameng Muter ingin menjadi raja di pulau Lombok ini, ia jugak betapa, namun ia bertapa cukup usang lebih usang dari pada Tameng.

Panjahitan bertapa selama 12 tahun tetapi blm jugak menjadai raja, perjalanan hidupnya hamper sama dengan tameng, tetapi sehabis bertemu dengan seorang pengelana yatu Doyan Nada. Diapun menjadi raja di tempat sembalun Lombok Timur. Berikut beberapa kutipan yang bisa di cermati.

Dalam perjalanan mereka menemukan seorang pertapa yang dililit oleh akar beringin yang sangat besar. Pertapa yang berjulukan Sigar Penjalin itu sudah dua belas tahun bertapa alasannya ialah ingin juga menjadi raja di Pulau Lombok. Akhirnya, ketiga orang tersebut dekat dan pergi mengembara bersama-sama.

Doyan Nada, Tameng muter  dan  Sangar Pajahitan
Ketiga orang ini menjadi sahabat dan mereka menemukan bidadri di dalam gua dan dinikahi dan ketiga sahabt ini menjadi raja di desa yang merka inginkan, yaitu desa-desa Selaparang, Sembalun dan pejangik. berikut beberapa cuplikan tersebut.

Doyan Nada bersama kedua sahabatnya masuk ke dalam gua. Betapa terkejutnya mereka dikala mendapati tiga orang putri bagus yang menjadi tawanan Limandaru. Ketiga putri tersebut ialah putri dari Madura, Majapahit, dan Mataram. Akhirnya, Doyan Nada menikahi putri dari Majapahit, Tameng Muter menikahi putri dari Mataram, dan Sigar Penjalin menikahi putri dari Madura.

Setelah itu, ketiga sahabat tersebut masing-masing mendirikan kerajaan di pulau tersebut. Doyan Nada mendirikan kerajaan di Selaparang tempat kelahirannya, Tameng Muter mendirikan kerajaan di Penjanggi, sedangkan Sigar Penjalin mendirikan kerajaan di Sembalun. Mereka mempimpin kerajaan masing-masing dengan pintar dan bijaksana.



Sumber http://catatanlombok.blogspot.com

RAGAM LOMBOK - Saat belum mempunyai nama, Pulau Lombok masih berupa perbukitan yang dipenuhi hutan belantara dan belum dihuni manusia. Pu...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Pada zaman dahulu kala tersebutlah seorang raja yang berjulukan Datu Pejanggiq. Raja ini  ter­kenal sangat berani, bertampang gagah dan juga amat sakti. Ia berkulit putih kuning, populer adil dan bijaksana. Ia juga sangat populer dengan kesak­tiannya alasannya yaitu mempunyai suatu benda keramat yang berjulukan Gu­mala Hikmat. Di samping itu Datu pejanggiq amat gemar me­mikat kerata, yaitu sejenis ayarn hutan yang mempunyai bunyi yang amat nyaring.

Datu Pejanggiq, mempunyai seorang permaisuri, yang berjulukan Puteri Mas Dewi Kencana. Puteri itu yaitu seorang puteri jelita dari Raja Kentawang. Dari permaisuri itu ia memperoleh seorang putra. Sifat dan sikap dan sepertinya sarna dengan’- Datu Pejanggiq, sehingga ia pun sangat dikasihi oleh masyarakat, di sarnping oleh ayahanda dan ibunya sendiri.

Pada zaman dahulu kala tersebutlah seorang raja yang berjulukan Datu Pejanggiq Cerita Rakyat Sasak Lombok : Datu Pejanggiq, Raja Bijaksana Pemimpin Negeri

Pada suatu ketika Datu Pejanggiq berangkat ke hutan Lengku­kun ‘untuk “menangkap burung kerata. Ia diiring oleh patih Batu Bangka. Tiba-tiba hujan pun turun dengan lebatnyadisertai sa­bungan kilat dan sambaran petir. Datu Pejanggiq hanya bernaung di bawah sebatang pohon. Pakaiannya menjadi berair kuyup dan mereka pun menggigil kedinginan. Dengan keadaan yang demi­kian Datu Pejanggiq menyuruh Demung Batubangka untuk me­lihat keadaan sekitar, kalau-kalau di temp at itu ada rumah tempat berteduh.

Demung Batubangka berangkat meneliti tempat sekitarnya. Dan akhimya di suatu tempat yang tidak jauh ia menemukan sebuah gubuk berpenghuni dan dijaga oleh seorang lelaki jabut. Ia pun segera melaporkan kepada Datu Pejanggiq bahwa tidak jauh dari tempat berteduh itu terdapat sebuah rumah yang dijaga oleh lelaki jabut. Datu Pejanggiq menyuruh Batu Bangka meminta ijin untuk berteduh. Dengan segala keikhlasan lelaki jabut itu mempersilakan mereka, lebih-lebih sesudah diketahui yang’ber­teduh itu yaitu Datu Pejanggiq yang memang populer dimana-mana: Setelah mendengar kesediaan lelaki jabut itu untuk mene­rimanya, Datu Pejanggiq berangkat diiringi oleh Demung Batu­bangka dengan pakaian yang berair kuyupp.Setiba di rumah ltu lelaki jabut itu pun mendapatkan dengan segala kehormatan

Tak usang kemudian hujan pun reda, angin masih berembus dengan keras. Dan hembusan angin itu telah membantu memper­cepatkeringnya pakaian Datu Pejanggiq. Tiba-tiba ketika mereka sedang duduk bertiga Datu Pejanggiq melihat seberkas sinar yang gemerlapan. Sinar itu tiba dari barat daya. Cahaya apa gerangan yang gemerlapan itu. terlin­tas dalam hati Datu Pejanggiq, bahwa rumah tempat mereka ber­ada itu bukanlah rumah sembarang orang.
Memang pemilik rumah itu yaitu searang raja jin yang mem­punyai seorang putri bagus rupawan. Ketika itu’ ia sedang mandi di suatu telaga dalam taman, diiringi oleh dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Cahaya yang gemerlapan yang terlihat oleh Datu Pejanggiq yaitu cahaya yang tiba dari putri jin itu alasannya yaitu letak telaga itu searah dengan arah duduk Datu Pejanggiq. Pada ketika itu Sang Putri pun mencicipi hal yang sama. Terasa olehnya suatu cahaya tiba dari arah tenggara. Karena itu putri jin itu segera berhenti mandi dan berkemas pulang. Setiba di rumah pandangannya bertemu dengan pandangan Datu Pejanggiq yang menjadikan keduanya jatuh pingsan.

Melihat insiden yang serba tiba-tiba ini lelaki jabut itu pun tak bisa berbuat apa kecuali mundar-mandir tak tentu tujuan. Begitu juga Demung Batubangka sangat gelisah melihat insiden luar biasa ini. Namun ia tidak kehilangan akal. Ia berusaha mem­buat supaya Datu Pejanggiq sadar dari pingsannya dengan jalan me­mercikkan air pada mukanya. Setelah Datu Pejanggiq sadar kemu­dian lelaki itu pun berbuat sarna kepada putrinya. Setelah kedua­nya sadar, keduanya kembali bertatapan mata. Datu Pejanggiq segera menghampiri putri dan berkata:
“Duhai gadis jelita, sungguh pertemuan yang tak diduga ini telah menciptakan diriku tak bisa berbuat sesuatu, kecuali untuk me­nyerahkan diri pada dirimu. Dapat kiranya kamu menerimaku sebagai suami.”

Demikianlah kata Datu Pejanggiq seraya ingin membelai badan putri jin itu. Tetapi putri itu menolak dengan sapan santun sambil berkata:
“Wahai perjaka tampan, daku berharap supaya tuan sadar dan sabar dahulu. “Daku belum tahu niscaya siapa gerangan tuan ini, dari mana tuan datang, hendak ke mana, dan siapa gerangan nama tuan jelaskan semua itu kepadaku.”

Mendengar itu sadarlah Datu Pejanggiq bahwa dirinya telah hampir bertindak ceroboh.
“Kiranya tata caraku kurang berkenan di hatimu, hendaklah dimaafkan. Tetapi yakinlah bahwa tindakan itu semata-mata terdorong oleh suatu perasaan yang sulit diIukiskan. Aku telah jatuh hati kepadamu. Karena itu satu permintaanku kepadamu, yaitu bersediakah hendaknya kamu berumah tangga denganku.”

Saat itu kembali Datu Pejanggiq kehilangan keseimbangan. tangannya terangkat untuk membelai sang putri. Tetapi dengan impulsif namun penuh hormat, belaian itu dielakkan.
“Tuan muda yang tampan. Kuharap jangan tuan berlaku meliwati batas. Keinginan tuan tentu saja akan saya pikirkan, asalkan tuan katakan dulu siapa tuan, dari mana dan hendak ke mana.”
Karena itu Datu Pejanggiq berceritera panjang lebar wacana dirinya, asal-usulnya serta tujuannya, sampai terdampar di rumah itu. Sebagaimana halnya Datu Pejanggiq, sang putri pun semenjak pandangan pertama telah dihinggapi perasaan gila dan simpati serta cinta kepada Datu Pejanggiq. Tetapi ia bisa mengendaIikan perasaannya sendiri.

Demikianlah sesudah Datu Pejanggiq cukup usang membujuk dan merayunya, sang putri pun bersedia untuk diperistri oleh Datu Pejanggiq dengan satu syarat. Dengan disaksikan oleh Demung Batubangka dan ayahnya putri jin itu mengajukan syarat, hendaknya Datu Pejanggiq bisa menjadikan Hutan Lengkukun itu menjadi suatu kerajaan tanah yang subur, berpenduduk cukup dan sehat dengan sebuah istana yang lengkap dengan perabotnya.
Setelah mendengar syarat yang diajukan oleh putri jin itu, maka Datu Pejanggiq pun menyanggupi kemudian minta diri dan pribadi menuju ke suatu temp at yang berjulukan Tibu Mong.

Dengan terang terlihat oleh Demung Batubangka, bahwa apa yang dikehendaki aleh putri jin itu telah terjadi. Ia melihat sebuah kerajaan yang aman, makmur, lengkap dengan rakyat serta istananya, telah bangun di hutan Lengkukun.

Segera sesudah impian Datu Pejanggiq menjadi kenyataan, maka ia pun menuju kembali menemui putri jin itu dan kemudian melangsungkan perkawinan. Perkawinan itu menawarkan kebaha­giaan kepada mereka. Mereka hidup dalam suasana kasih menga­sihi. Tiada berapa usang antaranya putri jin itu pun hamil. Tetapi setelah. kandungan. berumur tiga bulan Datu Pejanggiq merasa perlu untuk, kembali kekerajaan yang usang ditinggalkannya. Putri jin itu pun tidak berkeberatan atas keheridak Datu Pejanggiq, alasannya yaitu sadar bahwa suaminya mempunyai kiprah lain yang lebih besar.

Demikianlah sebelum berpisah, Datu Pejanggiq meninggalkan pesan kepada putri jin itu.
“Kelak. bila kamu melahirkan seorang putra, berikanlah Leang dan cincin ini,” kata Datu Pejanggiq serta menawarkan kedua jenis benda itu kepada permaisurinya.
“Sebaliknya bila kelak kamu melahirkan seorang putri, maka wewenangmulah untuk menawarkan nama dan mengurusnya.” Setelah itu Datu Pejanggiq melangkahkan kaki, diikuti oleh doa restu dan ditemani sampai gerbang istana.

Demikianlah beberapa bulan kemudian, putri jin itu melahir­kan seorang putra, yang amat tampan. Atas berkat Tuhan, putra itu sanggup berbicara semenjak dilahirkan. Karena itu putri jin itu segera menawarkan leang dan cincin proteksi Datu Pejanggiq kepada putranya.
Putra Datu Pejanggiq sungguh luar biasa. Berapa banyaknya hidangan yang disuguhkan, semua dilalap habis. Demikian pun ketika tam materi dihidangkan, disuguhkan berulang-ulang, semuanya disikat habis.

Melihat hal itu,’ Datu Pejanggiq merasa sangat malu. Karena itu denganr rahasia ia meninggalkan ruang pesta. Kemudian dengan melalui negeri Pejanggiq ia menuju ke UjungPandang. Di ujung Pandang ia menuju ke tempat salah seorang saudara kandungnya.Kepergian Datu Pejanggiq tak diketahui oleh ‘siapa pun juga. Setelah usang Datu Pejanggiq tak tampak barulah orang bertanya-tanya. Putranya pun menjadi gelisah kemudian minta diri untuk mencari ayahnya.

Datu Pejanggiq pergi ke suatu tempat yang berjulukan Kemaliq Toro. Di tempat itulah Datu Pejanggiq berdoa dengan doa Istikoq. Tiada berapa usang antaranya hujan pun turun se­lama tujuh hari tujuh malam. Di Kemaliq itu Datu Pejanggiq memerintahkan untuk meletakkan’ sebuah kerikil besar. Demikian jugalah yang dilakukan di Pakulan, sesudah doanya terkabul dan hujan turun dengan lebat selama tujuh hari tujuh malam.
Setelah kedua insiden itu Datu Pejanggiq berpesan, bila kelak terjadi flora padi rusak alasannya yaitu penyakit, hendaknyalah dicari­kan air penawar di kedua tempat tadi. Atas karunia Tuhan tanam­an akan baik kembali.

Demikianlah sesudah menawarkan tanda di Pakulan, Datu Pe­janggiq pribadi menuju Seriwa, diikuti oleh empat puluh empat pengiring. Setiba di tempat itu Datu Pejanggiq berkata:
“Sekarang telah tiba saatnya kita akan berpisah. Janganlah ka­lian mencariku. Biarlah aku’ yang mencarimu.” Mendengar kata­kata itu segera pengiIing-pengiring itu menangis semuanya sambil menutup mata. Tiba-tiba sesudah tangis mereka reda dan mata mereka buka kembali, Datu Pejanggiq telah sirna. Mereka hanya menemukan bekas ujung tongkat Datu Pejanggiq yang mirip sumur. Setelah itu para pengiring yang beljumlah empat puluh empat orang itu kembali ke Pejanggiq dan memberikan isu wacana insiden yang dialami baik kepada keluarga Datu Pe­janggiq maupun kepada rakyat kebanyakan. Demikianlah selan­jutnya air sumur itu dipergunakan untuk mengobati banyak sekali jenis penyakit padi.



Sumber http://catatanlombok.blogspot.com

– Pada zaman dahulu kala tersebutlah seorang raja yang berjulukan Datu Pejanggiq. Raja ini  ter­kenal sangat berani, bertampang gagah dan ...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

RAGAM LOMBOK – Dikisahkan Pada zaman dahulu di tempat Lombok selatan pesisir pantai takar-akar tinggallah seorang kyai beserta seorang istrinya. Sang suami namanya Penghulu Alim, ia dipanggil Pengghulu Alim karna ia yaitu seorang kyai dan sering diundang  dalam program perkawinan sekaligus menjadi penghulunya. 

Dikisahkan Pada zaman dahulu di tempat Lombok selatan pesisir pantai takar Cerita Rakyat Sasak, Doyan Medaran (Doyan Makan) Sketsa Cerita Lombok

Pada suatu hari, penghulu alim diundang keacara kawinan, dan pada dikala itu istrinya sedang dalam keadaan hamil, penghulu alim akan pergi beberapa bulan sehingga sebelum berangkat, sang penghulu alim menyerahkan seutas sabuk dan selendang kepada istrinya seraya berkata “ istriku,,, nanti kalau anak kita lahir dan sudah bisa berjalan suruhlah untuk mencariku ditempat program kawinan itu, dan ikatkan sabuk dan selendang itu sebagai pakaiannya semoga saya sanggup mengenalinya”. istrinya dengan penuh kelembutan pun menjawab “ oke kakak” seraya menyiapkan perbekalan untuk suaminya sang penghulu alim

Sepergi suaminya Penghulu Alim, lahirlah Si Kuat Makan(Si Kuat Medaran) dan dirawat oleh sang ibunya seorang. Ketika si berpengaruh medaran sudah menginjak beberapa bulan ia sudah bisa berjalan dengan lincahnya. Namun selama kelahiran ia belum tau siapa dan dimana ayahnya. Akhirnya si berpengaruh medaran  pun bertanya pada ibunya “ibu… dimanakah ayahku?. Kata Si Kuat Medaran kepada ibunya. Ibunya menjawab; ayahmu diundang ke program kawinan tempat sebelah, “tapi kenapa hingga kini belum juga pulang.. Bu?  . Kata si berpengaruh medaran lagi kepada ibunya.Sambil mengelus anaknya ibunya pun menjawab,”mungkin ayahmu sibuk disana, karna banyak undang yang harus dipenuhi, kalau kau mau melihat ayahmu maukah kau menyusulnya anakku..!. kata ibunya seraya menatap Si Kuat Medaran.“Mau ibu, tapi dimanakah tempat ayah….“berjalanlah desa diutara, nanti kalau kau menemukan ada program (begawe), tanyalah kepada warga disana wacana ayahmu Penghulu Alim..” kata ibunya“kalu begitu oke buuu…”jawab Si Kuat MedaranAkhirnya dengan perasaan cemas ibunya menyiapkan perbekalan untuk Si Kuat Medaran. Walaupun masih kecil tapi Si Kuat Medaran mempunyai kekuatan yang sangat tinggi. 

Setelah perbekalan sudah siap si berpengaruh medaran pun berangkat. Selama dalam perjalanan Si Kuat Medaran tidak pernah menemukan suatu halangan yang berarti, walaupun masih kecil namun anak ini mempunyai kekuatan yang sangat  tinggi dan anehnya lagi sang anak mempunyai kebiasaan makan yang banyak tanpa pernah puas itulah sebabnya ia di juluki Si Kuat Medaran(makan). Sesampai ditempat itu, Si Kuat Medaran bertemu dengan beberapa anak kampung yang sedang bermain-main di luar pagar pembatas dusun itu, dan kebetulan disana kebetulan lagi ada program kawinan atau begawe (roah ) dalam bahasa sasaknya. Sang anak pun ikut bermain dengan belum dewasa itu, namun keganjilan terjadi, setiap anak yang disentuh selalu mencicipi kesakitan, ada yang nangis. Melihat hal itu ada anak asing yang tiba kedusun mereka yang mempunyai kekuatan aneh, kesannya penduduk dusun itu pun membawa Si Kuat Medaran ketempat begawe atau program itu, dan kebetulan ayahnya ada disana lagi pimpin program ijab kabul itu.

Penduduk desa membawa si berpengaruh medaran keberanda atau betaran dan dikasih makan oleh penduduk setempat. Namun si berpengaruh medaran selalu minta makanannya ditambah, penduduk setempat menuruti kemauan si berpengaruh medaran, sampai-sampi persedian masakan untuk tamu yang lain pun habis. Sehingga ditempat inilah ia mulai dipanggil dan dijuluki si berpengaruh medaran (makan). Mendengar ada kegaduhan dengan kedatangan anak masih kecil tetapi makannya tidak pernah kenyang kesannya sang penghulu alim pun melihatnya dengan penuh penasaran. Dengan raut wajah yang kaget sang penghulu alim terkejut bukan main ketika melihat si berpengaruh medaran itu yaitu anaknya sendiri. Sang penghulu alim mengetahuinya dari pakaian dan sabuk yang digunakan Si Kuat Medaran karna itu yaitu pemberiannya kepada istrinya dulu ketika sedang hamil.

Dengan persaan aib penghulu alim tidak mengakui bahwa itu yaitu anaknya sendiri. Penghulu alim pun pamit dan mebawa si berpengaruh medaran untuk pulang kerumahnya menanyakan kepada istrinya apakah benar si berpengaruh medaran itu yaitu anaknya.Setelah bencana ditempat program begawe itu, penghulu alim jadi sangat membenci si berpengaruh medaran karna ia merasa telah dipermalukan oleh anaknya sendiri sebagai seoarang kyai. Ketika hingga dirumahnya sang penghulu alim pun eksklusif menemui istrinya kemudian bertanya”“istriku,,,! Panggil sang Penghulu Alim terhadap istrinya.“Yaa suamiku…” jawabnya dengan nada lemah lembut “apakah benar anak ini yaitu anak kita” kata Penghulu Alim dengan nada sedikit garangSang istri pun menjawabnya; “yaaa…  emang benar itu yaitu anak kita, memangnya ada apa dengan anak kita”Dengan rasa hirau dan besar kepala sang penghulu laim pun berkata “dia telah mempermalukan aku, di tempat program begawe itu, dengan kebiasaan makannya yang tidak puas dan merasa kenyang hingga persedian masakan ditempat itu habis dimakan oleh anak kita itu”Namun si berpengaruh medaran membisu tak berkata, walaupun ayahnya memarahinya dan kini sudah membenci dirinya namun ia tetap penurut terhadap ayahnya penghulu alim. 

Sang penghulu alim sendiri sangat membenci anaknya sehingga ia berniat membunuh si berpengaruh medaran meski ia yaitu anak kandungnya sendiri.Pada suatu hari sang penghulu alim berniat mau membunuh si berpengaruh medaran. Dia mengajak si berpengaruh medaran kesebuah sumur tanpa sepengetahuan istrinya. Sesampainya di sumur itu, sang penghulu alim eksklusif mengajak si berpengaruh medaran untuk membuang air sumur itu. Tanpa banyak bicara si berpengaruh medaran menuruti seruan ayahnya meskipun Sang Penghulu Alim sangat membencinya. Akhirnya ketika air sumur sudah mau mengering  sang penghulu pun istirahat dan menyuruh Si Kuat Medaran untuk mengumpulkan ikan-ikan yang ada dalam sumur itu. Sang penghulung pun naik dari sumur itu, dan mencungkil sebuah kerikil yang sangat besar kemudian digelindingkankan kedalam sumur itu. Si berpengaruh medaran yang lagi asyik mengumpulkan ikan didalam sumur itu pun eksklusif tertimpa oleh kerikil yang besar itu. Dengan perasaan puas telah membunuh anaknya yang dibencinya, penghulu alim eksklusif pulang.

Ibunya Si Kuat Medaran duka dan gelisah sejak kepergian suaminya dan  si berpengaruh medaran yang  tak pulang-pulang juga. Ketika melihat sang suami penghulu alim sudah pulang sementara Si Kuat Medaran tak kunjung pulang, sang ibu bertanya kepada suaminya itu.
 “suamiku… apakah kau melihat anakmu si berpengaruh medaran” Tanya sang ibu dengan perasaan cemas.

Penghulu alim pun menjawabnya dengan tanggapan yang singkat dan hirau “ah… tadi saya liat ia di hutan lagi mengejar burung” jawabnya hirau sembari masuk kedalam kamar dan tidur, lantaran merasa puas telah bisa membunuh si berpengaruh medaranSementara ibunya Si Kuat Medaran gelisah bercampu cemas, karna anaknya tak jua pulang, hingga matahari sudah masuk diperaduannya si berpengaruh medaran masih belum juga pulang kerumah. Dengan perasaan cemas dan berlinang air mata sang ibu duduk diberanda rumahnya menunggu kepulangan anaknya Si Kuat Medaran. Ketika dipertengahan malam sang ibu yang lagi duduk duka menunggu anaknya dikejutkan dengan kedatangan anaknya Si Kuat Medaran dengan membawa kerikil dipundaknya yang begitu besar seraya berkata;
“ibu… ibuuuu… dimanakah  aku taruh kerikil besar ini”
 “Oohh taruhlah disana anakku” jawab ibunya dengan perasaan kaget campur bahagia karna anaknya sudah kembali.Si Kuat Medaran pun membanting kerikil itu hingga terjadinya gempa disekitar rumahnya. Sementara Penghulu Alim yang lagi nyenyak tidur kaget dengan adanya gempa , ia eksklusif keluar rumah. Dan yang lebih mengagetkan dan membingungkan yaitu pulangnya Si Kuat Medaran sambil membawa kerikil besar yang ia gunakan untuk membunuhnya tadi siang.  

Konon kerikil itu hingga kini di sebut kerikil penyenger (yaitu kerikil dari sifat murka campur kesal dai penghulu alim Melihat bencana ini,  lagi- lagi Penghulu Alim semakin berniat untuk  membunuh anaknya. kemarin ia gagal membunuhnya dengan menimpakan kerikil besar, kali ini penghulu alim berencana untuk mengajaknya  menebang pohon dihutan. Tapi Kali ini Penghulu Alim meminta izin kepada istrinya,,, untuk mengajak si berpengaruh medaran untuk menebang pohon di hutan. Tanpa berpikir dan merasa mau dibunuh si berpengaruh medaran pun menuruti seruan ayahnya, begitu juga ibunya pun mengizinkannya.Akhirnya keesokan harinya, ketika matahari mulai menyongsong sang ibu menyiapkan bekal seadanya dan peralatan untuk suami dan anaknya Si Kuat Medaran.

Si Kuat Medaran dan ayahnya Penghulu Alim pun berangkat kehutan. hutan yang dipilihnya yaitu hutan yang punya pohon-pohon yang besar. Setelah menemukan target yang sempurna dan pohon yang besar dan tinggi, penghulu alim pun eksklusif memulai untuk menebang pohon ini, sementara Si Kuat Medaran disuruh untuk istirahat dulu. Beberapa waktu kemudian penghulu alim sudah kelelahan, ia pun menyuruh anaknya si berpengaruh medaran untuk melajutkannya. Setelah selang beberapa waktu pohon pun sudah punya gejala mau tumbang, dengan cepat penghulu alim menggantikan Si Kuat Medaran kemudian menyuruhnya untuk duduk ketempat dimana arah pohon itu akan tumbang. Tanpa berkomentar Si Kuat Medaran pun menuruti saja kemauan ayahnya. Ketika Si Kuat Medaran duduk ditempat yang disuruhnya sang Penghulu Alim melanjutkan untuk menebang pohon itu yang sudah mau tumbang. Dengan cepat  tumbanglah pohon itu sempurna dimana si berpengaruh medaran duduk. Karna besarnya pohon ini Si Kuat Medaran pun belum sempat untuk menghindar dan tertimpa oleh pohon ini hingga tidak berkutik. Lagi-lagi penghulu alim pulang dengan perasaan bahagia karna usahanya untuk membunuh si berpengaruh medaran pun berhasil. 

Sesampai dirumah sang ibu pun bertanya kepada suaminya,,,Kakanda suamiku,,, kemana anakmu Si Kuat Medaran. Kenapa ia tak pulang bersamamu…???Penghulu alim ; “anakmu masih asyik bermain-main dihutan tadi, sudah saya ajak pulang tapi tidak mau….!!Seperti hari-hari sebelumnya sang Penghulu Alim pun masuk kedalam kamar rumahnya. Sementara ibunya si berpengaruh medaran mencemaskan anaknya.  Malam sudah tiba, tapi si berpengaruh medaran tak juga ada yang pulang. Ibunya duka campur gelisah menanti kepulangan anaknya diteras rumah. Dengan cara sebelumnya, ketika dipertengahan malam, si berpengaruh medaran pun pulang dengan membawa pohon besar beserta ranting-rantingnya kerumahnya. “Ibu,,,, ibu,,, ayah… dimanakah saya menaruh pohon ini???” ,,,kata Si Kuat Medaran“Taruhkan saja disana anakku…” jawab sang ibu dengan bahagia lantaran anaknya telah kembali, namun ia kaget dan gundah dengan tingkah anaknya yang bisa membawa kerikil besar dan pohon yang besar. Sementara sang penghulu alim semakin menbenci kelakuan Si Kuat Medaran. Namun si berpengaruh medaran masih menuruti kemauannya.

Setelah bencana itu sang Penghulu Alim semakin membenci anaknya si berpengaruh medaran, namun Si Kuat Medaran tetap menuruti kemauan ayahnya. Sang penghulu alim gundah dengan cara apa untuk melenyapkan anaknya itu. Sehingga kali ini ia berpikir untuk mengusirnya tanpa sepengetahuan ibunya. Si berpengaruh medaran pun menuruti kemauan ayahnya sehingga ia pun pergi kearah barat di wilayah Poret yaitu salah satu dusun kecil didaerah pesisir pantai. Setelah beberapa usang tinggal ditempat itu, dengan kelakuannya yang kalau makan tak pernah kenyang menciptakan masyarakat di didusun Poret ini enggan untuk mengasihnya makan. Pada suatu waktu si berpengaruh medaran merasa lapar sekali, dan meminta masakan pada penduduk. Sehingga salah satu warga yang mempunyai sebuah lumbung padi yang mau mengasihnya makan tapi dengan memberi satu syarat. Orang ini akan memberi makan apabila Si Kuat Medaran bisa mengangkat lumbung padi miliknya dan bila bisa mengangkatnya, ia boleh membawa pulang lumbung padi itu. tanpa banyak komentar si berpengaruh medaran menuruti syarat itu. Dengan kesaktian yang dimilikinya ia mengangkat lumbung itu, dan bergegas pulang. Sementara orang itu tercengang kaget melihat bencana itu, ia merasa menyesal telah meremehkan Si Kuat Medaran.Sambil membawa lumbung padi beserta isinya, Si Kuat Medaran pulang kerumahnya. Ibunya sudah usang menunggu kepulangannya. Sesampai dirumahnya, Sang Penghulu Alim dan sang ibu kaget dengan anaknya itu. Kali ini sebuah lumbung yang dibawa pulang. Sang penghulu alim melihat kepulangan Si Kuat Medaran, semakin membencinya dan semakin kesal terhadapnya. Dengan segala perjuangan untuk melenyapkan si berpengaruh medaran namun selalu gagal.

Kini Si Kuat Medaran sudah tumbuh dewasa, namun ayahnya tetap membencinya. Tak ada rasa kasih saying yang diberikan ayahnya untuknya. Ayahnya berharap tidak mau melihatnya. dengan itulah Si Kuat Medaran merasa harus pergi jauh dari hadapan ayah untuk selamanya. Dia pun berbicara kepada ibunya dan menjelaskan wacana ayahnya yang selama ini membencinya dan tak pernah mengangganya sebagai anaknya. Si berpengaruh medaran meminta izin dan restu ibunya untuk pergi jauh mengembara untuk selamanya. Walupun berat hati walau ibu maupun si berpengaruh medaran namun tidak pilihan lain baginya kecuali pergi. Sang ibu dengan berat hati mengizinkan anakmya itu.

Keesokan harinya sang ibu  menyiapkan perbekalan untuk anaknya Si Kuat Medaran dengan seadanya. Sang ibu menyiapkan tujuh buah ketupat, satu pisau kecil dan moto siu (adonan dari beras merah yang dicampur parutan kelapa).ibunya menyediakan pisau untuk membelah ketupatnya. Setelah perbekaln sudan siap si berpengaruh medaran pun berpamitan kepada ibunya dan juga ayahnya penghulu alim. Dengan menangis sang ibu memeluk anaknya erat-erat karna ini yaitu pelukan terakhir untuk anaknya itu, sedangkan sang penghulu tetap biasa saja, ,malah ia bahagia sekali atas kepergian Si Kuat Medaran.

Seusai berpelukan Si Kuat Medaran pun berangkat dan pergi mengembara kearah timur.Selama dalam pengembaraannya ia bertemu dengan dua seorang cowok yaitu Seger Penyalin dan Kambing Moter. Dengan kedua sahabatnya itu ia jalani hari-harinya dan melawan jin-jin maupun seorang raksasa yang menggangunya hingga mereka bertemu dengan tiga orang gadis. Salah satu gadis itu berpakaian kotor lantaran dilumuri lumpur. Merka sangat menginginkan seorang untuk menemaninya selama dalam pengembaraannya. Mereka pun melaksanakan undian siapa yang menang ia yang sanggup yang paling cantik. Namun Si Kuat Medaran selau kalah dan dengan terpaksa ia mendapat gadis yang kotor itu. Namun Si Kuat Medaran sangat terpesona akan kecantikan gadis itu sehabis gadis itu membersihkan dirinya. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya.

Tidak hanya Si Kuat Medaran yang terpana melihatnya, seger penyalin dan kambing moter pun melihatnya tanpa berkedip dan merasa iri terhadap si berpengaruh medaran. Malah mereka ingin mengulangi undian itu.Selama dalam pengembaraannya Si Kuat Medaran dan teman-temannya itu, menunjukkan nama setiap tempat yang di lewati diantaranya dusun Tambuk dan Gunung Junjung. Dan konon ceritanya Si Kuat Medaran Ini yaitu nenek moyang dari raja pejanggik di Lombok timur.



Sumber http://catatanlombok.blogspot.com

RAGAM LOMBOK – Dikisahkan Pada zaman dahulu di tempat Lombok selatan pesisir pantai takar-akar tinggallah seorang kyai beserta seorang is...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Cerita Rakyat Sasak suku yang ada di Lombok Nusa Tenggara Barat selalu menjadi hidangan buat diceritakan secara turun temurun di Pulau Lombok. Dalam dongeng rakyat sasak kali ini saya mencoba memposting banyak sekali adegan dongeng melalui bentuk drama. Cerita Sabuk Bidadari yaitu salah satu dongeng yang disadur dari banyak sekali sumber yang pribadi di dalam masyarakat sasak Lombok, namun kali ini goresan pena kisah yang di dalamnya masih memakai bahasa sasak (Lombok) dan hal-hal yang belum dimengerti sanggup berdiskusi pribadi dengan saya. Mari kita simak adegan dongeng rakyat suku sasak “ SABUK BIDADARI”

Cerita Rakyat Sasak suku yang ada di Lombok Nusa Tenggara Barat selalu menjadi hidangan buat d Cerita Rakyat Sasak Lombok Sabuk Bidadari


SABUK BIDADARI
Prolog:             Niki araq sopoq waranan siq bejejuluk Sabuk Bidedari. Tekocapang leq zaman laeq lekes, to punclak Gunung Rinjani gunung siq paling beleq tiya daya, turn araq siwaq anak Bidedari lengan Kayangan. Anak-anak Bidedari sino, teceritayang selapuqna dedare inges baruq beleq. Sulit gen ta peta insan siq maraq angkun Bidedari sino engesna.

B1 :                  Ngumbe kane adiq-kakaq? Payu utawi endeq ita pada lalo bekedeq tipaq Segara Anak?
Bsemua:           Payu, kakak,....payu adiq,... silaq mangkin tiang ngiring berangkat
Prolog:             Tekocapan beterus, iya pada angkat kelampan lengan kayangan. Leq Gunung Rinjani sino mulana terkenal, mulana kesurah ojok senugaq gumi paer,jangka jangka dateng kayangan entan leq punclakna sino araq sopoq segara kodeq siq tersebut danau, arana danau segara anak. Iye taoqna melet laloq pada bekerem leq sopoq taoq pemandiqan siq bejejuluk aiq kalak dakuqna.

Jeraqna pada mandiq, gene taek bait tangkong kerengna, makaq makaq endeqna arak sopoq sopoq. Berari bidadari bidadari sino maliq tipaq aiq segara.
B2:                   "Adik, kakak, selapuq pekakasta  ndarak, pada telang. Nggumbe caranta pada ulek tipak Kayangan?"

B3:                   "Apaa??? Peta ye juluk,, jelas kelepangne siq angin. Uwah sekenean, harus te jelap dait pekakas te selapuk."
B2:                  "Ndarak kakak. Adik,,  apa arak dengan nyebok pekakas ta."
B4:                   "Cobak te peta leq sekitar danau niki,. Dendek ta mikir lain lain juluk"
B5:                   "Lamuna selapuq pekakas jangka telang, musti araq dengan tela siq gen ngorayang iya."

B6:                   "Jari, sai dengan tela siq ngorayang pekakas te selapuq? Leq sekitar danau niki ndarak dengan ta gitak."
Raksasa:          "Ambun wong, . . . ambun wong. . . !"
B.semua:           "sai ino besurak, maraq ongkat raksasa. Raksasa sino nyebok tangkong kerengta."
B3:                   "kakak, adik, raksasa sino dateng. Endekku bani dait raksasa sino"
B1:                   "Eeee raksasa, makat anta nyeboq tangkong-kerengku? Masa kau endeq periak?"
Raksasa:           "Ambun wong,. . . ambun wong, . . .hahahahahahahha "          
                        "Lamuna anta pada mele bait bendang kereng dait senugaq pekakas anta malik, harusna ita pada pinaq upak-upak atau janji juluq."

B4:                   "Ngumbe upak-upak siq kanggoqda??"
Raksasa:          "Ngene, . . .! selapuq bedereq leq sedin telaga sini, sopoq gen ku pilen jak bakal tepu tene. Endeq ku beang lalo ulek maliq tipaq kayangan. Gen ku pinaq jari seninangku. Lamunbi sepakat, baruq ku baitang anta pekakasbi selapuqna!"

B1:                   "aoq uwah aneh"
B5:                   "Ngumbe angkan adiq becat laloq kena aoq?"
B6:                   "apa adiq mele tepu tene jari seninaqna raksasa sino?"                         
B1:                   "Endeqna ngeno kaka, laguk sementaranta dait akal. Ita pada meta cara ngalahang raksasa sini, endeqna inik lamuna selapuqta masih bekeren leq dalem aiq"

B2:                   "Laun lamuna uwah bepekakas baruq ta mikir. Ngumbe jakna pendait ta leq kala nika."
B3:                   "Manjur genta pada taeq belondan selapuq ta,,,...ndek ta kanggo sampek peteng tene."                

Saksakadi:       "Hahhh, Ongkat surak raksasa jahat ino, niscaya araq dengan siq nyekena dait kesulitan pinaqna sik raksasa sino. Meh ku nulung ya.."
Raksasa:          "Ni kakenanku..... ambun wong.... ni kakenanku..."
Saksakadi:       "Araq apa ni??"
Raksasa:          "Tedoq anta, anta endeq taon apa-apa. Endeq meq kanggo milumilu turut campur. Sine endeqna duduk perkara anta. Ngumbe,...... siq embe jaq bani piwal eleq perentahku, genku entaq iya kataq-kataq."

B4:                   "Ngene nani raksasa. Beng uwah adingku pekakasna. Alur selapuk semeton merok tene ngabdi jari seninaq meq."
Raksasa:           "Bagus lamuna ngeno."
B5:                   "Nunas tulung...... nunas pinjaman sareng pelungguh sanak....raksasa niki endeqna taon moral gati-gati"

B1:                   "Endeq tiang suka reda gen merariq timpal raksasa. Lamuna pelungguh nenten bepekayunan nulung tiang dait semeton tiang, sejari jari beras bekerem. Tiang irak selapuk semeton tiang ngangkat siat"

Raksasa:           "Eee manusia,....! endeq pinaqang diriq meq penyusah. Entak ku baduk meq laun...."

Saksakadi:        "Eee raksasa,, saya sini endeqku girang nyampurin urusan dengan lain. Lagu kau mula tulen tau salq. Kewajibanku siq kebaos manungsa gen nulung nulung dengan siq lemah, dengan siq dait penyusah, sengak kau sini tuwi teparan tau jahat. Endaq luwek laloq sesumbar meq.

Saksakadi:        "Ngumbe angkuunda pada nengkesur tipaq kayangan mangkin?"
B6:                   "Inggih sanak, tiang masih susah  niki. Kelempan tipaq kayangan niki begaq  jaogna. Nenten arak pengalaman endah bekelampan kemalem.

Saksakadi;       "Lamun marak nika, dewek tiang pesilaq pelungguh sami margiring pondok petapayan tiang, nika taoq pelungguh sami marepan sintung semalem doang. Lemak kelemaq sesampun jelo ngembak (tiwoq) pelungguh sami mantuk."

B1:                  "Berat idap tiang yaq bebilinan sareng pelungguh sanak, melet tiang tepu sareng pelungguh leq dunia sik kebaos gumi sasak niki, laguq nenten arak daya-upaya eleq tiang. Laguk sok wanten jari penandoq ate-angen sik bekangen, sebilangna inggas ujan leq gumi paer  puniki pelungguh cingakin langit, sanugak pekakas terutama lempot, tiang kendang. Aik siq gerik tipak gumi nika, besopok aiq mata menunjukan dewek-tiang mula tuwi kangen pelungguh. Lamun pelungguh cingak selendang utawi sabuk bekekelat leq atas langit, daweq serminang, nika taoq penyingak pelungguh tiang jari sopoq"

Prolog:             Endeqna bina maraq sesenggak gumi Sasak “Selebung Batubeleq, mun uwah kedung yakna tekumbeq.”  Siwak bidedari beterus ta atong tipak sedin Segara Anak, sambilna erok asek pada nengkesur tipak kayangan. Wantah sampun niki waran puniki, tiang ngiring puputang juluk.

Keterangan: B = Bidadari



Sumber http://catatanlombok.blogspot.com

– Cerita Rakyat Sasak suku yang ada di Lombok Nusa Tenggara Barat selalu menjadi hidangan buat diceritakan secara turun temurun di Pulau ...
Ha Njo Dolan Jumat, 17 Mei 2019