Ads

Ads
Menu
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Drama Musikal 'The Millennial Jack Tarub', Berkesenian Untuk Kemanusiaan

Bagaimana jikalau tokoh Jaka Tarub dalam legenda usang hidup di jaman kini? Masih adakah orang yang mencapai impian dengan melaksanakan kecurangan rahasia mengambil selendang?

Mencuri selendang mungkin tidak lagi, tetapi melaksanakan kecurangan demi sebuah tujuan tetap ada di sekitar kita. Dan itu bukan hal gampang memberantasnya.

Lewat pementasan drama musikal Jaka Tarub ala milenial ini para siswa mempersembahkan The Millennial Jack Tarub yang sarat pesan kemanusiaan dan kehidupan dalam sentuhan komedi ringan.

Pementasan sukses digelar di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue, Ciputra World 1 Kuningan, Jakarta baru-baru ini, tepatnya Minggu (7/4/2019).

Ita Sembiring sebagai penulis naskah, sekaligus sutradara lakon ini berhasil mengemas secara mengagumkan dengan memoles legenda lawas dalam sentuhan milenial.

Melibatkan 277 siswa Singapore School Pantai Indah Kapuk (SIS-PIK) dari tingkat Pendidikan Usia Dini sampai Sekolah Menengan Atas baik sebagai pemai orkestra, penari, pemain maupun penyanyi, dibantu para guru, karyawan bahkan orangtua murid.

Semua berpartisipasi alasannya yaitu berangkat dari tujuan mulia.

"Latihannya 10 bulan alasannya yaitu ini memanfaatkan acara extra kurikuler mereka. Makara istimewanya semua acara ekskul siswa ditampilkan dan ini cantik buat anak anak itu karena  ada ruang buat tampil, tidak sekadar ikut ekskul terus ga tau ujungnya kemana," ungkap Ita Sembirinh kepada TravelPlus Indonesia usai sukses menggelar pementasan itu.

Kata Ita, tidak gampang mengarahkan begitu banyak pihak dari bermacam-macam huruf dan usia. Apalagi bawah umur yang tampil dari aneka macam latar kebangsaan.

"Tidak ada artis.... hanya murid-murid sekolah aja," tambah Ita.

Belum lagi memadukan unsur musik klasik dengan pop demi mencapai ‘suasana’ milenial. Apalagi pertunjukan ini tersaji dalam perpaduan bahasa Inggris, Mandarin dan Indonesia.

"Ada medley nusantara terdiri atas 9 lagu yaitu lagu Batak, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Ambon, Irian, Maumere, Kanger Bali, dan lagu Minang Sumatera Barat. Lagu yang lainnya ada Bengawan Solo, Anging Mamiri, Zamrud Khatulistiwa, Galih dan Ratna, Perfect, Rewrite the Stars, dan Happy," terang Ita.

Selain itu juga ada potongan-potongan lagu pendek buat pecahan dari obrolan ibarat lagu Bad Thing, Sudah Terlalu Lama Sendiri, dan lainnya.

"Pokoknya kita milih-milih lagu yg cocok dengan unsur kisah rakyat tapi juga terkesan milenial," ungkapnya.

Cerita rakyat Jaka Tarub dipilih Ita alasannya yaitu begitu dikenal sarat dengan aneka macam nilai universal ibarat cinta, kesetiaan, dan kejujuran.

Keistimewaan pementasan ini bukan sekadar pentas seni para siswa, tetapi selain melestarikan cerita-cerita rakyat di antara generasi millennial, hasil perhelatan seni ini juga bertujuan untuk membantu kehidupan dan pendidikan siswa  lain yang kurang beruntung di sudut Indonesia lainnya.

"Harga tiketnya Rp 500 ribu, Rp 750 ribu, dan Rp 1,5 juta, sebanyak 96% terjual habis. Dan seluruh hasil pertunjukan Tapi semua hasil disumbangkan buat acara amal melalui organisasi nirbala sekolah, Yayasan SISwa Peduli Bangsa atau YSPB," terang Ita.

Berkesenian sambil berzakat yaitu perpaduan menarik untuk membangkitkan gairah peduli kemanusiaan.

"Kita dapat berbuat banyak bagi sesama, tidak hanya dengan meminta pada orang lain, tetapi juga ikut mempersembahkan apa yang kita miliki,” ujar Ita yang bersyukur diberi kepercayaan oleh SISPIK untuk terlibat dalam pementasan ini bersama tim kecilnya, Paulus Simangunsong jebolan Teater Koma dibantu para koreografer muda Rike Elystya, Virginia, dan Alex.

"Kita hanya tampil sekali ini saja. Sebab tidak gampang bawa mereka (pelajar_red) keliling, alasannya yaitu ada kewajiban belajar," jelasnya.

Ita berharap agar persembahan para siswa SIS-PIK ini dapat menginspirasi orangtua, generasi muda dan dunia pendidikan Indonesia dalam menyeimbangkan antara kepadatan acara akademik dengan non akademik serta memanfaatkan acara ekstra kurikuler sekolah menjadi wadah lisan diri bahkan dapat membantu banyak pihak yang belum beruntung.

Perwakilan dari pendiri  YSPB, Hans Kasim mengatakan pihaknya bercita-cita meningkatkan akses pendidikan di seluruh Indonesia sehingga dapat mensejahterakan juga bawah umur di kawasan pedalaman.

Kegiatan penggalangan dana serupa sudah dilakukan YSPB sebelumnya lewat lakon 'Bawang Merah, Bawang Putih & Bawang Bombay' September 2017 lalu.

Bantuan telah terealisasikan bagi bawah umur di SDN Oematmuti Kupang, NTT dengan membangun gedung sekolah berfasilitas dua ruang kelas dan sebuah perpustakaan. Dilengkapi pembuatkan sumur untuk masyarakat di sekitar SDN Oematmuti.

Mereka juga pernah mengadakan kegiatan Satu Siswa - Sepasang Sepatu untuk anak-anak SDN Oematmuti, SD Inpres Keifatu, SDN Oebon, SD Oeuki, dan TK Kartika di Kupang.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. Tim The Millennial Jack Tarub

Captions:
1. The Millennial Jack Tarub, dama musikal Jaka Tarub ala milenial.
2. Dimainkan oleh 277 siswa Singapore School Pantai Indah Kapuk (SIS-PIK) dibantu para guru, karyawan bahkan orangtua murid.
3. Ita Sembiring selaku penukis naskah sekaligus sutradara bersama tim kecilnya.
4. Memadukan nyayian, tarian, acting dengan iringan orkestra.
5. Menyuguhkan bermacam budaya kawasan dalam balutan kekinian.
6. Bukan sekadar tampil berkesenian, pun punya misi mulia untuk mengembangkan kepada sesama.


Tidak ada komentar