Ads

Ads
Menu
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Mendaki Gunung Diusia Senja Siapa Takut, Asalkan...

Berusia senja, bukan penghalang buat Anda yang gemar bergiat di alam bebas (outdoor activities), khususnya mendaki gunung.

Meskipun selagi muda, sederet gunung terkenal dan non terkenal sudah dipeluk (baca: didaki hingga atapnya), tetap saja perlu kiat tersendiri supaya pendakian gunung dikala usia senja berjalan kondusif dan nyaman.

Kenapa? Ya lantaran usia senja (lawas/tua/senior) harus disadari secara fisik terang berbeda dibanding ketika masih berdarah muda.

Mungkin secara pengalaman (jam terbang pendakian) dan mental si pendaki lawas itu unggul. Tapi dari sisi stamina tak bisa dipungkiri niscaya kalah dibanding pendaki belia, terutama mereka yang masih berumur belasan hingga 30-an tahun. Karena apa? Ya faktor 'U' tadi.

Pendaki senja, selain fisiknya mulai menurun (baca: melemah), ditambah lagi serangan banyak sekali problem hidup ibarat rumah tangga, keluarga, pekerjaan, dan lainnya.

Karena itu pendaki senja perlu mengindahkan kiat khusus untuk mengatasi bermacam hambatan itu, antara lain dengan tetap berolah raga, terutama lari dan renang.

Olahraga yakni hal utama yang kudu dipenuhi oleh para petualang senja sekalipun semasa mudanya dulu rajin naik-turun gunung dan lainnya. Sebab mental saja tidak cukup buat mendaki gunung.

Jangan menganggap lantaran sudah berpengalaman naik gunung semasa muda dulu, kemudian Anda meremehkan hal itu. Kaprikornus Anda harus tetap berolahraga, dimanapun sesibuk apapun.

Lari disini jangan hanya di medan rata atau datar ibarat jalan beraspal mulus. Sesekali harus juga berlari di jalur menanjak dan menurun untuk mendapat atmosfir sebagaimana jalur pendakian. Waktu terbaik lari (jalan cepat, lari santai/jogging) yakni pagi dan sore.

Sementara renang bermanfaat melenturkan otot dan pernafasan. Kedua olahraga ini sebaiknya dilakukan minimal seminggu sekali.

Usahakan kalau tidak punya waktu berolahraga dengan intens, tetap masih sering berjalan kaki, minimal bersepeda.

Mungkin saja sewaktu masih Sekolah Menengan Atas dan Kuliah dulu, kemana-mana kerap berjalan kaki, naik kendaraan umum dan lainnya. Tapi sehabis bekerja apalagi jadi orang penting, niscaya kesempatan itu berkurang alasannya yakni kemana-mana naik mobil, diantar dan dijemput sopir bahkan pengawal, Anda tinggal duduk manis. Kaprikornus kesempatan bergeraknya sudah semakin berkurang.

Sebelum memulai pendakian sebaiknya pendaki senja melaksanakan pemanasan mulai dari streatching (pelenturan otot) minimal 5 menit dan warming up (senam pemanasan) minimal 5 menit semoga otot tidak kaget, dan terakhir tentu saja berdoa.

Sewaktu mendaki jangan membawa beban yang berat. Ingat kondisi fisik Anda berbeda dengan anak muda belasan dan duapuluhan tahun (masa Sekolah Menengan Atas dan Kuliah).

Solusinya gunakan porter. Anda cukup bawa perlengkapan pendukung saja, ibarat kamera kalau memang hobi memotret dan lainnya.

Kalau Anda tidak hapal lagi jalur pendakian. Sebaiknya gunakan jasa pemandu lokal selain porter tadi.

Anda tinggal berjalan mengikuti petunjuk pemandu saja tanpa harus berpikir keras mencari jalur pendakian bahu-membahu ketika bertemu jalur bercabang atau sulit dikenali. Dengan memakai porter dan pemandu lokal, berarti Anda sudah membuatkan sedikit rezeki.

Buat apa Anda punya banyak uang tapi masih mau bercapek-capek membawa barang sendiri dan berpusing-pusing mencari jalur pendakian ketika mendaki. Kecuali waktu muda dulu, dan ketika itu Anda masih kering kerontang, itu masih bisa dimaklumi.

Memang mendaki dengan pemandu, rasa adventuring-nya berkurang. Tapi kalau sudah berusia senja dan mempunyai waktu sempit, sisihkan saja rasa itu.

Jika Anda pergi mendaki gunung dengan kelompok pendaki muda (pelajar SMA, mahasiswa ataupun pekerja dan pemandu) jangan sok-sokan mengikuti langkah mereka.

Maklum seusia mereka, terlebih pelajar Sekolah Menengan Atas dan mahasiswa mungkin mereka bisa naik atau turun gunung sambil lari lantaran fisik mereka sedang prima-primanya.

Lebih baik Anda bilang, jalannya santai saja. Kalau mau bergerak cepat silakan, nanti saya menyusul. Kaprikornus Anda tak perlu gengsi.

Carilah jenis petualangan yang sesuai dengan kapasitas kemampuan Anda ketika ini.

Kalau merasa persiapan fisik kurang, beban pikiran sedang meninggi lantaran problem rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk dan sebagainya, sebaiknya jangan memaksakan diri berpetualang yang berat-berat ibarat mendaki gunung yang cukup tinggi dan berjalur sulit.

Carilah petualangan alternatif. Boleh saja mendaki gunung tapi gunung yang gampang digapai.

Jangan lupa cek up kesehatan Anda. Mungkin saja sewaktu muda, Anda sehat wal’afiat namun tanpa Anda ketahui ketika menjelang senja Anda terkena asma, tanda-tanda paru-paru, jantung, stroke atau lainnya.

Saat mendaki, bawa obat-obat khusus Anda kalau menderita suatu penyakit tertentu.

Kalau Anda punya tanda-tanda reumatik, gampang pegal-pegal, sesak nafas, dan lainnya, ya bawa saja obatnya dalam kemasan kedap air. Termasuk perlengkapan khusus yang biasa Anda gunakan sehari-hari, ibarat beling mata dan lainnya untuk memudahkan Anda berpetualang.

Kenali huruf lokasi petualangan yang dituju. Misalnya kalau ingin mendaki gunung A, sebaiknya pahami waktu terbaik untuk mendakinya, kekhasan alam, dan cuaca gunung tersebut. Termasuk peraturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat di sekitar gunung itu. Dengan demikian Anda sudah membawa bekal selain bekal fisik dan mental tadi.

Mendaki gunung dan acara petualangan lainnya bukanlah untuk menaklukan gunung dan tantangannya. Melainkan bagaimana menikmati keindahan dan mensyukuri karunia Tuhan YME yang tak terhingga sehingga semakin erat denganNya dan terus berusaha menjaga kelestariannya.

Nah, buat Anda yang masih muda, pergunakan masa produktif itu dengan menjelajahi sejumlah gunung super aktif, aktif, dan tidak aktif  di Tanah Air Indonesia tercinta ini sebaik mungkin dengan membawa pula bekal ramah lingkungan, sebelum Anda memasuki usia senja kelak.

Bagi pendaki lawas yang ingin sesekali mendaki, nanjaklah dengan bijak sesuai kondisi fisik dan umur ketika ini.

Salam nanjak terus, duhai pendaki senja.., semangaaaat...

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & dok. pendakibelia

Captions:
1. Biar senja tetap berjiwa pagi, ahaaiii...
2. TravelPlus Indonesia di puncak Gunung Prau, Sabtu (20/4/2019).
3. Lari buat persiapan nanjak.
4. Faktor 'U' dengkul kopong euy ketika menuruni Gunung Rajabasa, Lampung.
5. TravelPlus Indonesia di puncak Gunung Marapi, Sumatera Barat.
6. Pendaki senja/lawas (tengah) bersama 2 pendaki belia asal Sumedang di puncak Gunung Prau.
7. TravelPlus Indonesia di triangulasi puncak Gunung Seulawah Agam, Aceh.
8. TravelPlus Indonesia di puncak Gunung Bambapuang, Sulawesi Selatan.

Tidak ada komentar