Setelah wajah Gunung Prau dipoles, kemudian acara pendakiannya dibuka lagi mulai 5 April 2019, daya pikatnya justru semakin kuat.
Para pendaki yang tiba kemarin didominasi pendaki dalam negeri, terutama dari kota/daerah di Jawa menyerupai Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, dan Jogja bahkan ada juga dari Banten dan beberapa kota di Sumatera.
"Tapi ada juga pendaki dari luar negeri. Dari 5.300 pendaki itu, 11 diantaranya pendaki bule dari Swiss," tambah Cipto.
Sementara jumlah pendaki ke Prau pada hari Sabtu (20/4/2019), lanjut Cipto belum tercatat seluruhnya.
"Harga tanda masuk atau tiket pendakian Gunung Prau untuk pendaki dalam negeri cuma Rp 15 ribu sedangkan pendaki mancanegara atau gila Rp 25 ribu per orang," terang Cipto lagi.
Pantauan TravelPlus Indonesia ketika mendaki gunung mungil berketinggian 2.565 meter di atas permukaan maritim (Mdpl) ini bersama muda-mudi dari Cirebon, Sumedang, dan Serang, setibanya di Plawangan atau camp ground di sekitar area puncak Prau hingga Bukit Teletabis, sudah dipenuhi ratusan tenda dome aneka warna pada Jumat malam.
Bahkan sebelum di puncak, sejumlah pendaki ada yang nge-camp atau mendirikan tenda di beberapa titik di sepanjang pos 2 dan pos 3.
Saking banyaknya pendaki, sewaktu turun pada Sabtu pagi dari puncak hingga ke pos 1 terjadi kemacetan antrian pendaki.
"Macet di kota-kota besar biasanya alasannya kebanyakan mobil, tapi di Prau Jumat dan Sabtu ini justru alasannya kebanyakan pendaki," ujar Rachmadi pendaki muda asal Jamblang Cirebon yang turut mencicipi terjebak kemacetan sewaktu menurun trek dari puncak menuju pos 3 dengan trek cukup curam.
Sejumlah pendaki terpaksa menentukan trek di kiri atau kanan dari trek sebenarnya, meskipun lebih sulit.
Kemacetan panjang itu terjadi setiap kali rombongan pendaki yang turun berpapasan dengan rombongan pendaki yang naik di sejumlah titik.
Amatan lain TravelPlus Indonesia, sesudah ditutup selama tiga bulan semenjak Minggu, 6 Januari 2019 lalu, paras Prau sekarang memang agak berubah, lebih tertata dan kian jelita.
Jalur pendakian lewat Patak Benteng
terlihat higienis dari sampah dan terdapat penambahan anak tangga biar gampang dilewati pendaki terutama di Pos 3 sampai Plawangan.
Selain itu ada banyak dingklik kayu panjang yang sengaja ditempatkan di beberapa titik untuk istirahat pendaki.
Jumlahnya ada 60 dingklik panjang yang ditambahkan pihak pengelola basecamp di sepanjang jalur pendakian hingga area kemah. Sedangkan di area kemah juga ditambah 5 paket dingklik panjang dari kayu.
Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu), secara administratif masuk dalam tiga wilayah Kabupaten Kendal, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Batang di Jawa Tengah.
Basecamp Patak Banteng sendiri berada di Jalan Dieng Km 24, Desa Kejajar, Wonosobo.
Kendati termasuk gunung berukuran kecil, namun mempunyai pesona dari puncaknya yang luar biasa indah.
Dari atapnya dikala cerah, 12 gunung terlihat jelas, seolah memagari dan menjaganya antara lain Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Slamet, dan Gunung Ceremai yang berada paling jauh serta sejumlah gunung tak populer.
Pendaki juga sanggup melihat bukan hanya pesona sunrise pagi hari, pun pesona sunset sore hari.
Hampir keseluruhan Dieng, dari teras-teras perkebunan kentang, kubis, dan bawah prei, rumah-rumah penduduk di sejumlah desa, masjid, dan tentu saja Telaga Warna dan Telaga Pengilon juga terang terlihat.
Menariknya lagi, untuk menikmati ragam pesona menawan itu, cukup 3-4 jam bila mendaki secara rombongan dalam kondisi lancar.
Kehadiran 5.300 pendaki, 11 diantaranya pendaki gila untuk menikmati rona raut Prau terkini kemarin, terang membawa berkah tersendiri bagi pengelola dan tentunya warga sekitar.
Banyangkan dari tiket saja, pengelolanya dan pihak-pihak terkait sanggup meraup Rp 79.610.000 (Rp 15.000 × 5.289 pendaki nusantara) ditambah (Rp 25.000 × 11 pendaki asing).
Belum lagi penambahan pendapatan buat warga setempat dari hasil penjualan aneka makanan, minuman, kaos, perlengkapan pendakian, bermacam aksesoris pendaki, dan lainnya di sejumlah warung.
Tak ketinggalan penghasilan dari parkir motor dan kendaraan beroda empat serta penyewaan penginapan dan MCK serta penjualan bermacam buah tangan khas Dieng menyerupai kentang, carica atau manisan pepaya gunung khas Dieng, opak, dan kripik kentang.
Kalau sudah begitu, masuk akal rasanya TravelPlus Indonesia bilang wajah gres Prau telah menciptakan wisata gunung berhawa cuek ini bertambah berkahnya.
Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Captions:
1. TravelPlus Indonesia berfoto bersama pendaki muda-mudi Cirebon dan lainnya.
2. Kawasan Plawangan sekitar puncak Gunung Prau dipenuhi warna-warni tenda dome para pendaki.
3. Meski mungil, Gunung Prau jadi idola sejumlah pendaki.
4. Kemacetan antrian pendaki dikala turun dari puncak Prau.
5. Istirahat sejenak di Pos 2.
6. Sepenggal pesona sunrise dari puncak Prau.
7. Berfoto bersama berlatar sunrise Gunung Sindoro, Sumbing dan lainnya.
8. Salah satu nature photo spot menawan dari puncak Prau.








Tidak ada komentar