Ads

Ads
Menu
Results for "Edukasi-Budaya"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Keraton Kesultanan Ternate ialah salah satu Wisata Sejarah  Keraton Kesultanan Ternate - Wisata Sejarah Kota Ternate

Keraton Kesultanan Ternate ialah salah satu Wisata Sejarah Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Wisatawan sanggup menemukan bermacam-macam warisan peninggalan Kesultanan Ternate.



Museum Memorial Keraton Kesultanan Ternate merupakan museum sejarah alasannya koleksi yang dipamerkan ialah benda-benda yang berasal dari Kesultanan Ternate dan dari sisa perang pada masa kedatangan orang-orang Eropa di Maluku dan Maluku Utara pada kala ke-15.



Museum ini berbentuk segi delapan dibangun tahun 1813 oleh seorang arsitektur asal Tiongkok. Berlokasi di bukit Limau dengan bentuk mirip seekor singa yang sedang duduk bertopang dengan kedua kaki depannya menghadap ke bahari dan dilatarbelakangi Gunung Gamalama. Dari sinilah sejarah pemerintahan Kesultanan Ternate yang pertama dimulai sampai mencapai kejayaannya kemudian kemudian direnggut oleh bangsa kolonial.

Di antara koleksi banyak sekali peninggalan bangsa Eropa, museum ini juga mempunyai sebuah mahkota yang unik dan sakral yang tidak dimiliki istana lainnya di Indonesia, bahkan di dunia. Karena mahkota ini mempunyai rambut yang sanggup tumbuh layaknya insan sehingga menjadi satu kewajiban untuk melaksanakan upacara ritual istampa atau pemotongan rambut mahkota setiap satu tahun sekali setiap hari raya Idul Adha. Mahkota ini diperkirakan telah berumur 500 tahun semenjak sultan yang pertama berkuasa.

Keraton Kesultanan Ternate ialah salah satu Wisata Sejarah  Keraton Kesultanan Ternate - Wisata Sejarah Kota Ternate

Disini wisatawan akan menemukan banyak sekali koleksi mulai dari benda geologi, arkeologi, etnografi, sejarah, numismatik/heraldik, filologi, teknologi, seni rupa, sampai keramik. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung tidak dipungut biaya.

Keraton ini dibangun pada 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali dengan luas bangunan 1500 m² di atas tanah seluas 1,5 ha. Sejak 1981 pengelolaan bangunan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meskipun dalam kesehariannya masih dipakai sebagai kediaman Sultan. Tempat ini gres diresmikan tahun 1982 oleh Menteri Kebudayaan ketika itu, Daud Joesoef.

Anda sanggup berkeliling menikmati bermacam-macam benda warisan Kesultanan Ternate dan pendatang Eropa di sini. Fasilitas yang tersedia ialah ruang ekspo tetap dan ruang penyimpanan koleksi. Ada singgasana Sultan Ternate yang berwarna emas begitu megah terpajang di museum ini. Selain itu Anda sanggup pula melihat peralatan untuk upacara dan program kesultanan.

Keraton Kesultanan Ternate ialah salah satu Wisata Sejarah  Keraton Kesultanan Ternate - Wisata Sejarah Kota Ternate

Di dalam keraton Anda sanggup melihat benda-benda peninggalan milik kesultanan yang khas serta bernilai sejarah mirip mahkota dan Al-Quran goresan pena tangan yang tertua di Indonesia serta banyak sekali peralatan perang. Amatilah bagaimana mahkota sultan dengan sejumlah pelengkap kerikil permata, emas, perak, intan, berlian mira, zamrud akik dan shafir. Masyarakat susila Ternate menyebut mahkota dalam bahasa tempat stampa.

Di depan istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo yang biasanya dipergunakan untuk prosesi upacara adat.

Pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terasa. Ternate mempunyai andil yang sangat besar dalam kebudayaan Nusantara bab timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu meliputi agama, susila istiadat dan bahasa. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Zainal Abidin kemudian menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku.

Selain itu keberhasilan rakyat Ternate di bawah Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pihak pribumi Nusantara atas kekuatan Barat. Kemenangan rakyat Ternate tersebut telah menunda penjajahan Barat di Nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam di Indonesia Timur.

Untuk menuju Museum Memorial Keraton Sultan Ternate sangat mudah. Jika melalui Bandara Baabullah, Anda tinggal melanjutkan perjalanan ke museum sejauh 3,5 km. Dari Pelabuhan Ahmad Yani jaraknya sekitar 1,5 km. Apabila Anda melalui Terminal Gamalama maka jaraknya tidak jauh, sekitar 0,5 km.

Waktu Berkunjung ke Keraton Kesultanan Ternate:
Senin s/d Selasa: 09.00 - 17.00 WIT
Sabtu: 09.00 - 15.00 WIT
Minggu: 09.00 - 13.00 WIT

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Keraton Kesultanan Ternate ialah salah satu Wisata Sejarah Kota Ternate , Provinsi Maluku Utara . Wisatawan sanggup menemukan bermacam-...
Ha Njo Dolan Kamis, 23 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata

 yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota itu Masjid Al-Munawaroh - Landmark Kota Ternate

Masjid Al-Munawaroh yakni sebuah masjid di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota itu. Masjid ini begitu menawan dipandang dari laut, dengan dua menaranya yang memang dibangun di laut, memperlihatkan pemandangan yang begitu indah. Masjid Raya Al-Munawaroh sekarang menjadi landmark kota Ternate.



Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 6 Hektar, dengan luas masjidnya sendiri mencapai 9.512 meter persegi, dan dirancang untuk menampung 15.000 jamaah sekaligus. Hal ini masuk akal mengingat kota Ternate memang bervisi sebagai kota Madani dengan penduduk 650 ribu jiwa lebih dan 95% penduduknya beragama Islam. Pembangunan masjid ini memakan waktu selama tujuh tahun, dari tahun 2003 sampai tahun 2010.



Masjid Raya Al-Munawaroh dilengkapi dengan 4 menara setinggi 44 meter, dua dari menara tersebut memang dibangun di atas laut. Sesuai dengan Permendagri Nomor 45 Tahun 2007, Masjid Al-Munawwar termasuk kategori bangunan monumental dengan spesifikasi khusus. Dimana beberapa materi bangunan masjid ibarat keramik dan lampu didatangkan eksklusif dari Negara Turki.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Masjid Al-Munawaroh yakni sebuah masjid di Kota Ternate , Provinsi Maluku Utara , yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir p...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Museum Sonyine Malige ialah museum satu Museum Kesultanan Tidore Sonyine Malige - Wisata Sejarah Kota Tidore

Museum Sonyine Malige ialah museum satu-satunya di Kota Tidore, Provinsi Maluku Utara. Di museum ini sarat dengan sejarah dimana Anda sanggup menemukan aneka macam koleksi yang menarik dari peninggalan Kesultanan Tidore. Tidore ialah salah satu pulau penghasil rempah-rempah di Provinsi Maluku Utara yang menjadi daerah perebutan Bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda di masa yang lalu.


Di museum ini juga terdapat "Mahkota Berambut" Kesultanan Tidore yang dipercaya rambut yang menempel pada bab atas mahkota sanggup tumbuh setiap tahun. Sehingga setiap malam Idul Adha ada dilakukan upacara potong rambut. Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari. Mahkota ini juga biasanya dipakai untuk menentukan calon Sultan Tidore. Menurut dongeng para tetua, setiap anak lelaki keturunan sultan harus mencoba Mahkota tersebut. Mahkota tersebut sanggup menempel pas di atas kepala calon Sultan Tidore. 


Museum Sonyine Malige ialah museum satu Museum Kesultanan Tidore Sonyine Malige - Wisata Sejarah Kota Tidore

Museum Sonyine Malige ini dibangun di atas lahan seluas 800 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 300 meter persegi. Koleksi-koleksi yang sanggup Anda temukan di museum ini antara lain singgasana kesultanan, tempolong daerah ludah sultan (ketur), pakaian watak kesultanan, cap kesultanan, alat-alat perang, kerajinan khas Tidore, peralatan gerabah, rumah adat, peralatan pandai besi, peralatan berburu, dan sebagainya. Di museum ini juga terdapat Al-Quran kuno goresan pena tangan yang merupakan salah satu Al-Quran tertua di Tidore.

"Mahkota Berambut" Kesultanan Tidore disimpan di kamar Puji yang disakralkan oleh penghuni keraton. Sayangnya, tidak sembarang orang yang sanggup masuk ke kamar tersebut. Bahkan, Sultan dan sang Permaisuri hanya sesekali salat di kamar tersebut. Biasanya, ketika Sultan dan Permaisuri mempunyai permohonan khusus gres sanggup melakukan salat di kamar Puji.

Museum Sonyine Malige menjadi semakin menarik untuk dikunjungi alasannya ialah mengandung sejarah dan juga mempunyai unsur magis.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Museum Sonyine Malige ialah museum satu-satunya di Kota Tidore , Provinsi Maluku Utara . Di museum ini sarat dengan sejarah dimana A...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Benteng Tore dan Tahulu ialah daerah wisata yang Anda wajib kunjungi Benteng Tore dan Tahula - Wisata Sejarah Kota Tidore yang Indah

Benteng Tore dan Tahulu ialah daerah wisata yang Anda wajib kunjungi. Kedua benteng ini berdekatan dan berada di erat Kota Soasio, Kota Tidore, Provinsi Maluku Utara.

Benteng Tore dan Tahulu berada di lokasi yang cukup tinggi. Di daerah ini, Anda dapat melihat dengan terang keindahan maritim yang memisahkan Pulau Tidore dan Pulau Halmahera serta Kota Soasio yang dibangun oleh pelaut Spanyol "Sebastiano De Elaco" pada dikala zaman kolonial beberapa era kemudian dan merupakan Ibukota Kota Tidore pada dikala ini. Lokasi ini cukup sulit dijangkau dan harus sedikit mengeluarkan energi menaiki anak tangga menuju benteng ini. Namun, semua jerih payah Anda akan terbayar ketika hingga di benteng ini alasannya ialah keindahannya. Lokasi ini juga sangat cocok untuk melihat sunrise di pagi hari. 

Benteng Tore dan Tahulu ialah daerah wisata yang Anda wajib kunjungi Benteng Tore dan Tahula - Wisata Sejarah Kota Tidore yang Indah

Benteng Tahula kondisi bangunannya sudah kurang baik. Sedangkan, Benteng Tore masih terlihat sisa-sisa peninggalan sebuah benteng yang dikala ini dalam tahap renovasi. Kedua benteng ini tidak diketahui persis tahun pembuatannya. Beberapa era lalu, benteng ini mempunyai daerah yang strategis untuk melihat pergerakan musuh yang coba menyerang markas Portugis.

Benteng Tore dan Tahulu ialah daerah wisata yang Anda wajib kunjungi Benteng Tore dan Tahula - Wisata Sejarah Kota Tidore yang Indah


Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Benteng Tore dan Tahulu ialah daerah wisata yang Anda wajib kunjungi. Kedua benteng ini berdekatan dan berada di erat Kota Soasio,  Kota ...
Ha Njo Dolan Rabu, 22 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Gurabunga bila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Taman Bunga Desa Gurabunga - Wisata Kota Tidore yang Sejuk


Gurabunga bila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Taman Bunga, yang berada di Pulau Tidore, Provinsi Maluku Utara. Warna-warni bunga yang tumbuh di pekarangan warga Desa Gurabunga juga turut menambah keindahan desa yang anggun dan higienis ini. 

Gurabunga berhawa sejuk alasannya yaitu lokasinya berada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut. Rumah-rumah warganya berada di daerah subur yang berada di lereng Kie Matubu, sebuah gunung yang tingginya 1730 meter diatas permukaan laut. Kie Matubu dikenal masyarakat Provinsi Maluku Utara sebagai Gunung Tidore.

Gurabunga bila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Taman Bunga Desa Gurabunga - Wisata Kota Tidore yang Sejuk
Desa Gurabunga di lereng Kie Matubu. (Sumber: Blog Ilham Arch)

Selain indah, ragam kehidupan dan latar belakang agama serta budaya yang di usung oleh warga setempat menyebabkan desa ini punya kelebihan yang pantas untuk di jadikan acuan wisata.


Di Desa Gurabunga terdapat rumah adat, yang berjulukan Folajikosabari, terbentuk dari bambu dan berlantaikan tanah. Jika dilihat dari jauh, rumah ini berbentuk orang bersila. Uniknya, rumah ini juga kental dengan nuansa Islam. Rumah watak ini mempunyai 5 ruangan, sesuai dengan waktu ibadah salat, dan mempunyai 2 ikat pada setiap bambunya, yang melambangkan 2 kalimat syahadat.

Gurabunga bila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Taman Bunga Desa Gurabunga - Wisata Kota Tidore yang SejukGunung Kie Matubu yang indah dan mempesona.


Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Gurabunga bila diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu Taman Bunga, yang berada di Pulau Tidore , Provinsi Maluku Utara . Warna-warni bu...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Rumah Adat Sasadu dibuat dari materi kayu dan anyaman daun sagu. Rumah tabiat ini menjadi daerah warganya berkumpul, bersantap, dan membuatkan nilai-nilai leluhur dan kearifan lokal yang terus dipegang teguh menempel dalam kesehariannya.

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Rumah tabiat sasadu mencerminkan tabiat suku Sahu yang terbuka dan ramah. Bangunan yang tanpa pintu ialah aba-aba bahwa siapapun sanggup masuk ke dalamnya baik itu masyarakat orisinil maupun suku pendatang akan diterima dengan tangan terbuka. Ini juga menyiratkan tidak ada paksaan dalam berkomunikasi antar sesama. Semuanya berlangsung secara alami dan sukarela.

Rumah tabiat ini mempunyai enam pintu untuk kanal dan keluar, meskipun setiap sisinya tidak berdinding. Dua pintu untuk kanal keluar bagi perempuan, dua pintu bagi lelaki, dan dua pintu bagi para tamu. Sasadu mempunyai dua ujung atap berukir kayu berbentuk haluan dan buritan bahtera yang di tempatkan pada kedua ujungnya. Bubungan tersebut melambangkan bahtera yang sedang berlayar. Suku Sahu sendiri merupakan salah suku yang suka berlayar dan berpetualang mengarungi samudera. Replika bahtera layar juga ditempatkan di dalam rumah tabiat ini yang disebut kagunga tego-tego (perahu perang yang ada di darat).

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Pada bubungan atapnya yang menjulang tergantung dua buah bulatan yang dibungkus ijuk. Itu merupakan simbol dua kekuatan supranatural yang diyakini suku Sahu. Kekuatan dimaksud ialah satu yang membinasakan dan lainnya sebagai perlindungan. Pembangunan rumah tabiat ini tanpa memakai paku tetapi sepenuhnya berbahankan alam dan kearifan lokal. Bangunannya didominasi batang pohon sagu sebagai tiang dan kolom serta daun sagu sebagai pelapis atap. Pohon sagu dilambangkan sebagai pohon kesejahteraan.

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Sasadu bagi masyarakat suku sahu merupakan bentuk penghargaan bagi kaum wanita. Itu sebab di dalam ruangannya tersedia dua buah meja, satu meja khusus untuk perempuan di cuilan depan dan satu meja lagi bagi pria di cuilan belakang. Menempatkan meja perempuan di depan menyiratkan makna bahwa bagi suku Sahu perempuan akan didahulukan dan pria senantiasa melindunginya dari belakang.

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Rumah tabiat sasadu mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai ruang pertemuan dan daerah mendapatkan tamu, juga untuk merayakan pesta tabiat yang sanggup berlangsung sampai tujuh hari tujuh malam. Pesta tersebut biasanya untuk merayakan perkawinan dan kelahiran. Di depan rumah tabiat inilah biasanya digelar program makan bersama dengan memainkan tarian tabiat tradisional. 

Orom Sasadu

Suku Sahu mempunyai keahlian berladang dan bertani. Setiap dua kali dalam setahun, Suku Sahu akan mengadakan ritual syukuran atas panen padi. Pesta panen ini dikenal dengan sebutan Orom Toma Sasadu. "Orom" artinya "makan", "Toma" artinya "Di", dan "Sasadu" artinya "Rumah Adat". Masyarakat Sahu akan makan dan minum serta menari sebagai perwujudan atas rasa syukur mereka terhadap limpahan yang di berikan oleh Sang Pencipta. Ritual Orom Sasadu dipercaya para leluhur akan menciptakan hasil panen selanjutnya terus berlimpah. 

Dahulu, Orom Sasadu digelar selama 7 hari 7 malam. Jika ingin lebih singkat, usang ritual mesti ganjil, yaitu 7 hari 7 malam, 5 hari 5 malam, 3 hari 3 malam, atau hanya sehari semalam. Ritual 7 hari 7 malam terakhir digelar 1963. Namun ketika ini, ritual sudah dipersingkat sebab Suku Sahu banyak yang berprofesi lain.

Ada keunikan dalam ritual itu yang diceritakan para orang tua. Selama berpesta 7 hari 7 malam, mereka tidak pernah ngantuk, tidak pernah kenyang walaupun makan terus menerus, tidak pernah mabuk meskipun menenggak minuman beralkohol tinggi.

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Suku Sahu juga memainkan alat musik Tifa yang terbuat dari kayu nira. Alat musik Tifa digantungkan dengan memakai tali pada kuda-kuda Sasadu. Alat musik pengiring tifa ialah gong yang dimainkan dengan ritme lambat, agak cepat, dan sangat cepat. Setelah pesta adat, masyarakat Suku Sahu baik itu pemudi, pemuda, maupun orang renta akan menari bersama di bersahabat alat musik.

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat
Alat Musik Tifa

 Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten Rumah Adat Sasadu - Wisata Budaya Halmahera Barat

Selama Orom Sasadu, Saguer dan Cap Tikus akan diberikan secara bergantian kepada tamu maupun masyarakat yang ikut. Uniknya masyarakat yang banyak minum Saguer dan Cap Tikus yang juga terlihat tengah mabuk, tidak pernah terjadi perkelahian atau perlakuan agresif tetapi mereka terlihat sangat menikmati lalu mulai menyanyi dan menari.

Rumah Adat Sasadu sanggup anda temukan di Kecamatan Jailolo, Sahu, dan Sahu Timur. Masyarakat Halmahera Barat sangat ramah jika dikunjungi oleh wisatawan.


Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Sasadu ialah rumah tabiat Suku Sahu yang Anda sanggup temukan di Kabupaten  Halmahera Barat , Provinsi Maluku Utara . Rumah Adat Sas...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

 Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara  Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Pulau Meti terletak tidak jauh dari Desa Todokuiha dan merupakan tujuan wisata final pekan bagi masyarakat sekitar. Pulau Meti yakni salah satu objek wisata di Wilayah Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Hamparan pasir putih dan air maritim yang sejernih kristal sanggup anda temui di pulau ini.

 Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara  Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)


Bagi anda yang menyukai petualangan, berjalan menjelajahi pulau ini sanggup menjadi acara yang menyenangkan. Di sisi timur Meti tampak daratan Kabupaten Halmahera sedangkan pada bab lainnya anda akan menjumpai bebatuan karang yang indah dan hutan yang masih alami. Di beberapa lokasi anda bahkan masih sanggup menemukan peninggalan Jepang semasa PD II menyerupai pecahan pesawat, meriam, senapan, dan lain sebagainya.

Pulau Meti juga cocok untuk yang menyukai diving atau snorkeling. Anda sanggup menemukan terumbu karang yang berwarna-warni dan juga aneka macam jenis ikan di perairan ini.

 Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara  Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal
Jika Anda mengunjungi Pulau Meti sempatkanlah juga untuk mampir di pulau Pasirtimbul yang terletak hanya sedikit di sebelah utara pulau Meti. Sebaiknya Anda juga mempersiapkan bekal sebelum mengunjungi Pulau ini.

Pulau Meti berada di sebelah selatan wilayah Tobelo dan secara administratif masuk dalam Kecamatan Tobelo Timur. Desa Todokuiha di selatan Tobelo yakni pintu masuk ke Pulau Meti. Gunakanlah mikrolet jurusan Mawea dari terminal Wosia di Kota Tobelo kemudian turun di dermaga Todokuihua. Dari situ pulau Meti hanya berjarak sekitar 15 menit dengan bahtera ketinting.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Pulau Meti terletak tidak jauh dari Desa Todokuiha dan merupakan tujuan wisata final pekan bagi masyarakat sekitar. Pulau Meti yakni s...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

 Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan mempunyai nilai sejarah penting bag Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Duma - Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan mempunyai nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat. Duma memperlihatkan panorama alam yang indah dan natural. Airnya jernih dan hening sehingga cocok untuk renang, mancing dan berperahu. Telaga Duma yakni salah satu Objek Wisata yang sanggup anda temukan di wilayah Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Di danau Galela terdapat kerambah ikan dengan beberapa rumah makan ikan bakar terapung di sampingnya. Ikan bakar terasa jauh lebih nikmat sebab juga disuguhi dengan pemandangan indah di Telaga Duma yang dilatarbelakangi oleh gunung-gunung. Ikan yang tersedia yakni jenis mujair. Rumah makan ini tidak kelihatan dari jalan utama sehingga sebaiknya Anda bertanya kepada masyarakat setempat supaya tidak tersesat.

 Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan mempunyai nilai sejarah penting bag Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal

Tidak jauh dari rumah makan tersebut yakni sekitar lima menit dengan kendaraan bermotor, Anda akan menemukan Tanjung Duma. Tempat ini ketika ini berjulukan Tanjung Van Dijken. Di lokasi ini, Anda akan menemukan monumen Hendrik Van Dijken. Monumen ini dibangun sebagai penghormatan sekaligus mengenang jasa sang misionaris asal Belanda yang menjadi pembawa Alkitab pertama di bumi Halmahera pada tahun 1816.

Menurut cerita, lokasi itu merupakan daerah yang diangkerkan oleh masyarakat setempat sebab ada raksasa jahat berjulukan tumadoa yang menghuninya. Van Dijken sendiri oleh penguasa setempat ditempatkan di lokasi tersebut dengan maksud biar dirinya dilenyapkan oleh sang raksasa. 

Singkatnya, keberhasilan Van Dijken untuk sanggup bertahan tinggal di situ lalu melahirkan istilah “duma widoohawa” (bahasa Galela) yang berarti “cuma beliau yang tidak diapa-apakan”. Kata Duma lalu menjadi sangat terkenal untuk nama danau terbesar di Halmahera Utara tersebut meskipun momennya lebih terkait dengan kejadian letusan jago gunung Tarakani di Galela waktu itu. 

 Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan mempunyai nilai sejarah penting bag Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal
Yang menarik dari monumen tersebut yakni patung Hendrik Van Dijken digambarkan sedang berdiri di atas bumi Halmahera sambil memegang Alkitab di tangan kiri dan cangkul di tangan kanannya. Cangkul merupakan simbol bahwa selama melaksanakan misinya Van Dijken juga memberdayakan sektor perkebunan khususnya tembakau dan kopi. Beberapa pohon besar yang sudah berusia lebih dari seratus tahun di lokasi monument diyakini sebagai pohon yang dahulu ditanam oleh sang misionaris.


Di sisi barat daya Telaga Duma juga terdapat peninggalan sejarah yang lain berupa bunker Jepang. Telaga Duma - Galela berada di sebelah utara Tobelo dengan jarak sekitar 26 km dan usang perjalanan 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Telaga Duma - Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan mempunyai nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat. Duma memp...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata


 Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan  Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Penduduk setempat menamai tempat ini Telaga Biru oleh alasannya yaitu airnya yang jernih dan berwarna kebiruan. 

Asal Usul Telaga Biru

Cerita ini bermula di Dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang, penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.

Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini menciptakan galau penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah membuktikan bahwa sesuatu yang jelek akan terjadi.

Berita perihal terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di kawasan itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa ingin tau penduduk. Upacara sopan santun digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual sopan santun berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur hingga kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual sopan santun menghasilkan tanggapan “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akhir patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai instruksi biar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk tiba dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berkembang menjadi hening. Hanya suara desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua sopan santun dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu gampang diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sobat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang renta Magohiduuru menyampaikan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada informasi kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru yaitu sepasang kekasih. Di ketika Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau isu terkini berganti, bulan dan tahun berlalu tapi kekerabatan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan semenjak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, angin puting-beliung rupanya menghempaskan perahu cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar perihal Magohiduuru hasilnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bernafsu Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil menyesali kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru hasilnya karam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.

 Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan  Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Pemda Halmahera Utara
Telaga biru hingga ketika ini selalu tampak bersih. Airnya sejernih kristal berwarna kebiruan. Keunikan telaga Biru yaitu setiap dedaunan yang jatuh di atasnya tidak akan karam alasannya yaitu seolah terhisap untuk dibersihkan oleh bebatuan yang ada di tepian telaga.

Mitos
Sampai ketika ini mitos asal-mula telaga Biru masih terus terjaga di masyarakat. Pasangan muda-mudi dari Galela dan Tobelo ada yang tiba ke telaga ini untuk saling mengikat janji. Sebagai tanda ikatan mereka akan mengambil air dengan daun Cingacinga dan kemudian meminumnya bersama. Air yang masih tersisa biasanya akan digunakan untuk membasuh kaki dan wajah. Maknanya yaitu supaya jangan ada lagi air mata yang mengalir dari setiap ikatan akad dan hubungan.

Perjalanan
Jarak Desa Mamuya yaitu sekitar 15 Km dari utara Tobelo. Akses dari jalan raya utama ke lokasi telaga biru sangatlah bersahabat yakni sekitar 25 m.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan Galela , Kabupaten Halmahera Utara , Provinsi Maluku Utara . Penduduk setempat menamai ...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Keraton Sultan Bacan ialah salah satu Wisata Sejarah di  Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Keraton Sultan Bacan ialah salah satu Wisata Sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Keraton ini beratap hijau yang khas kolonial menjadi bangunan terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Salah satu alasan yang menarik wisatawan untuk mengunjungi keraton ini ialah untuk melihat benda bersejarah. 

Jika Anda beruntung, maka Anda mempunyai kesempatan untuk melihat mahkota Sultan Bacan yang disebut Lakare. Lakare terbuat dari materi Kain Beludru yang tidak pernah usang, lakare tersebut juga diperindah batu-batu mulia yang asli. Lakare, payung kebesaran dan keris yang dapat Anda lihat ketika Sultan Bacan berada di kediamannya. Keraton Sultan Bacan berada di Jalan Oesman Syah, kelurahan Amasing Kota, kecamatan Bacan. 

Sejarah

Menurut Hikayat Bacan, yang dipublikasikan pada tahun 1923 oleh W. Ph. Coolhaas dalam Tijdschrift van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap (jilid LXIII, penerbitan kedua), disebutkan bahwa pada zaman dahulu, pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menyatu dalam satu semenanjung, yang dinamakan Tanah Gapi. Kemudian datanglah seorang saudagar sekaligus pendakwah dari Jazirah Arab yang berjulukan Jafar Sadek ke Tanah Gapi. Jafar Sadek mempunyai empat orang anak pria dan empat orang anak perempuan. Ketika anak-anaknya telah menginjak dewasa, Jafar Sadek berdoa kepada Allah SWT semoga anak-anaknya kelak dijadikan raja di tempat yang berlainan, dan sehabis itu terdengar guntur, kilat, hujan dan angin puting-beliung di malam yang gelap gulita. Akibatnya, Tanah Gapi terpecah menjadi pulau-pulau. Anak lelaki pertama, Buka, lalu bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal Kerajaan Bacan. Anak lelaki kedua, Darajat, bertolak ke Moti dan menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Anak lelaki ketiga, Sahajat, pergi ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore. Anak lelaki keempat, Mashur Malamo, berlayar ke Ternate dan menjadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedangkan keempat anak perempuannya pergi ke Banggai dan bermukim di sana. Kesultanan Bacan merupakan salah satu dari empat Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang ada di Maluku Utara.

Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, lalu dipindahkan ke Kasiruta alasannya ialah bahaya gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan ialah orang Makian yang ikut dalam penyelamatan bersama rajanya. Diperkirakan, Kerajaan Bacan didirikan pada tahun 1322. 

Raja pertama Bacan ialah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di Gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertahta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik. Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertahta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar Pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.

Sida Hasan naik tahta menggantikan ayahnya Muhammad Hasan pada tahun 1343. Pada masa Sida Hasan inilah terjadi penyelamatan ke Bacan. Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati daerah Dolik, Talimau dan Imbu-imbu. Raja yang berkuasa pada tahun 1522 ialah Zainal Abidin. 

Bacan, dalam bahasa setempat artinya "membaca" memiiliki makna "usaha sadar seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan". Kesultanan Bacan memiliki peranan penting pada ketika itu sebagai pemasok bahan-bahan pangan untuk seluruh wilayah Maluku Utara. Pada masa kejayaannya dulu, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan tergolong cukup luas, yaitu dari sebagian daerah di Sulawesi bab utara, Filipina bab selatan sampai ke wilayah Papua sebelah barat. Tidak hanya itu, Pulau Bacan yang menjadi sentra Kesultanan Bacan yang mempunyai kekayaan hasil alam bahkan diminati dunia internasional pada waktu itu berupa rempah-rempah, menyerupai cengkeh dan pala. 


Keraton Sultan Bacan ialah salah satu Wisata Sejarah di  Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Foto Istana Sultan Bacan (tahun 1924)
Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali dengan kedatangan bangsa Portugis untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas dan mempunyai nilai hemat yang tinggi di pasar Eropa waktu itu. Bermula dari inilah alhasil Pulau Bacan secara silih berganti menjadi koloni sejumlah negara dari Eropa, menyerupai Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda. Perebutan monopoli akan rempah-rempah tersebut, pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem ke pemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda.

Sumber: Kekunaan

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Keraton Sultan Bacan ialah salah satu Wisata Sejarah di Pulau Bacan , Kabupaten Halmahera Selatan , Provinsi Maluku Utara . Keraton i...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sult Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sultan Bacan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901 yang dirancang oleh arsitek Jerman, Hoennig von Hendrik pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek. Di belakang mesjid terdapat mata air suci yang dipercaya mempunyai kegunaan bagi kesehatan mengakibatkan daya tarik bagi Anda yang berkunjung di daerah ini. Mesjid Sultan Bacan merupakan salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Mesjid ini berdekatan dengan Keraton Sultan Bacan, yaitu sekitar 100m yang berada di Amasing Kota, Kecamatan Bacan. 

Mesjid ini berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Mesjid ini mempunyai 17 pintu masuk. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang mempunyai diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bab belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno para ulama dari Malaka, keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan. Masjid Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi bersahabat masjid dari tiga arah saluran ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut.


Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sult Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Sumber: Foto Lensa Lipu
Pada jaman dahulu, mesjid ini tidak hanya dipakai untuk daerah ibadah, namun kegiatan roda pemerintahan juga di mesjid ini. Sultan dan para Ketua Adat biasanya menggelar pertemuan di teras mesjid untuk membahas duduk masalah Kenegaraan.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sultan Bacan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901 ...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Benteng Barneveld yaitu peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Bar Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Benteng Barneveld yaitu peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Barneveld, Amasing Kota. Dari atas benteng ini, Anda sanggup melihat pantai dan perkampungan penduduk serta keindahan panorama lainnya. Selain itu, di benteng ini kita juga sanggup melihat meriam berusia ratusan tahun. Benteng Barneveld yaitu salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. 

Sejarah

Pada tahun 1558 bangsa Portugis tiba dan bermukim di Labuha, mereka mendirikan sebuah benteng kecil. Tidak usang benteng ini dibangun, bangsa Spanyol tiba berdagang di benteng ini yang lalu harinya benteng ini justru direbut oleh Spanyol dari Portugis. Tahun 1609 Laksamana Muda Simon Hoen bersama dengan Sultan Ternate menuntut Spanyol supaya benteng ini diserahkan kepada mereka. Benteng ini pun segera diserahkan oleh Spanyol. Kemudian benteng ini direnovasi dan diperkuat atas gagasan Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon. Empat bastion kemudian dibangun dan benteng ini dinamai dengan nama Barnaveld.

Ketika dikuasai Belanda pada tahun 1609, benteng ini dipugar dengan kapur dan batu. Di tengah-tengah benteng dibangun sebuah rumah yang kokoh dengan atap dari rumput kering dan ruangan bawah tanah dengan dinding setebal satu kaki. Di sekitar benteng ditemukan watu prasasti besar dengan goresan pena Latin dan di bab kanan watu prasasti tersebut terdapat tanda keluarga Pieter Both, Gubernur Jenderal pertama VOC. Benteng berbentuk segi empat dilengkapi dengan tembok pertahanan yang rendah. Pada tembok pertahanan ini ditempatkan masing-masing sebuah bastion lengkap dengan meriam. Pintu gerbang utama dibangun berbentuk melengkung, menghadap ke arah Sungai Amasing yang konon menjadi pintu masuk ke Teluk Labuha yang menghadap ke Selat Bacan.

Benteng Barneveld yaitu peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Bar Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Fort Oldebarneveld te Batjan, Molukken
Benteng ini pernah diperluas dan dilengkapi dengan sebuah sumur dan sebuah tangga dari batu. Kemudian di dalamnya terdapat bangunan-bangunan kolonial lain sebagai pendukung kegiatan dalam benteng tersebut.

Pada waktu ditinggalkan oleh Belanda, benteng ini tidak terurus dan sempat diselimuti oleh semak belukar serta beberapa pohon beringin besar. Namun, ketika ini pemerintah tempat setempat telah menata kembali Benteng ini dengan baik.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Benteng Barneveld yaitu peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Barneveld, Amasing Kota. Dari atas benteng ini, A...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar  Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar 10 km. Pulau ini terdapat Gunung Api Kie Besi dengan ketinggian 1.357 meter di atas maritim dengan lebar kawah 1.5 km yang menciptakan Pulau Makian terlihat indah dan menjadi hal yang menarik bagi yang suka mendaki gunung. Dahulu pulau ini merupakan kediaman Sultan Bacan pertama kali sebelum pindah ke Pulau Lelei dan alhasil ke Pulau Bacan. Pulau Makian berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Pulau Makian ialah penghasil kenari sehingga sering disebut juga "Pulau Kenari". Masyarakat biasanya memanen pohon kenari antara bulan Maret sampai Agustus. Kacang kenari disini mempunyai ukuran empat kali lebih besar dari ukuran lazimnya dan merupakan salah satu kenari terbaik di Indonesia. Kenari sering dijadikan kue, halua kenari, bagea kenari, minyak, wewangian, dsb. Kacang kenari sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung, otak, dan banyak sekali manfaat lainnya. Pulau Makian juga banyak terdapat Pohon Kelapa sangat cocok untuk melepas dahaga sesudah lelah mengelilingi Pulau Makian yang indah.

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar  Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Sumber: Foto Ullokan
Pulau Makian juga terdapat Benteng Mauritius Ngofakiaha, namun kondisinya kurang terawat dan perlu dibenah kembali sehingga sejarah tersebut tidak hilang. Benteng Mauritius dibangun oleh Gubernur Jenderal Pieter Both di pesisir pantai pulau Makian dimana semula benteng ini berjulukan Gnofficquia atau Noseca. Sejak tanggal 22 Desember 1659, bersama dengan benteng Tafasoho, benteng ini diturunkan tingkat kepentingannya dan dikala itu benteng ini hanya sebuah bangunan persenjataan. Sementara itu, bangunan pertahanan yang berbentuk setengah lingkaran, dan mengelilingi rumah atau gudang gres di pesisir pantai justru diperkuat, yang lalu diberi nama Benteng Zeeburg. Di dalam benteng ini, Pieter Both mengadakan negosiasi dengan Sangaji Makian dan Sangaji Limatau yang mewakili Kesultanan Ternate, dan berhasil memperoleh sejumlah komitmen yang antara lain bahwa orang-orang Islam dan Katolik mempunyai kebebasan yang sama dalam melakukan fatwa agama mereka masing-masing.

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar  Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Benteng Mauritius Ngofakiaha (Sumber: Foto East Indonesia)

Perjalanan ke Pulau Makian dari Kota Ternate ialah sekitar 1.5 jam dengan speedboat.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar 10 km. Pulau ini terdapat Gunung Api Kie Besi dengan ketinggian 1.357 meter di ...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

peninggalan Jepang pada dikala Perang Dunia II sanggup Anda temukan di Desa Hatetabako Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur

Meriam dan Bunker peninggalan Jepang pada dikala Perang Dunia II sanggup Anda temukan di Desa Hatetabako, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Benda bersejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi.

Anda sanggup melihat moncong meriam yang dengan sengaja telah dirusaki oleh pasukan sekutu dengan cara meledakkan granat di moncong meriam. Kawasan ini di bombardir oleh pasukan sekutu di bulan November sampai Desember 1944.

Bunker Jepang sanggup Anda temukan sekitar 50 meter dari pesisir pantai Desa Hatetabako. Bangunan ini mempunyai struktur beton dan kerangka besi terdapat empat pintu dan dua ruangan, masing-masing ruangannya dihubungkan dengan lorong-lorong panjang. Bangunan ini dibangun oleh pasukan Jepang pada tahun 1943 untuk menghalau serangan udara dan maritim pasukan sekutu yang bermarkas di pulau Morotai. Namun pada tahun 1944 pasukan Jepang dikalahkan oleh sekutu pada perang Pasifik. 

peninggalan Jepang pada dikala Perang Dunia II sanggup Anda temukan di Desa Hatetabako Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur
Sumber: Foto Tutu Maluleo

Anda juga sanggup menemukan bunker yang terdiri dari 20 pintu yang menjadi daerah persembunyian tentara Jepang. Bunker tersebut terbuat dari tanah liat dan dipahat dengan sempurna. Dari satu pintu ke pintu lain saling berhubungan.

peninggalan Jepang pada dikala Perang Dunia II sanggup Anda temukan di Desa Hatetabako Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur

Selain melihat benda bersejarah, tentunya Anda sanggup bersantai di tepi pantai tersebut yang merupakan hamparan pasir putih halus dengan maritim yang jernih menjadi daerah yang sangat cocok untuk menikmati pemandangan yang indah dan bermain air. Desa ini jaraknya sekitar 30 km dari Desa Subaim di Kecamatan Wasile. Kondisi jalan belum aspal namun masih sanggup dijangkau dengan kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat, waktu kunjungan yang terbaik yaitu pada dikala animo kemarau.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Meriam dan Bunker peninggalan Jepang pada dikala Perang Dunia II sanggup Anda temukan di Desa Hatetabako, Kecamatan Wasile Tengah, Kabu...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Benteng De Verwacthing yaitu salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi ketika Anda Benteng De Verwacthing - Wisata Sejarah Kepulauan Sula

Benteng De Verwacthing yaitu salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi ketika Anda berada di Kepulauan Sula. Benteng ini berada di kelurahan Sanana, kecamatan Sanana Utara, Pulau Sulabesi, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Benteng ini berada sempurna di depan pelabuhan Sanana yang berada di sentra kota. 

Benteng De Verwacthing mempunyai luas 2.750 meter persegi dengan 4 bastion dan 2 menara pengintai. Tinggi dinding benteng kurang lebih 4 meter. Terdapat dua bangunan penunjang yang ada di dalam benteng tersebut yang ketika ini dipakai sebagai Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sula. Kondisi benteng ketika ini sudah direnovasi dan kesannya ibarat yang sanggup Anda lihat di foto dibawah ini. 

Benteng De Verwacthing yaitu salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi ketika Anda Benteng De Verwacthing - Wisata Sejarah Kepulauan Sula
Sumber: Foto Kekunaan
Sejarah
Pada tahun 1623, warga Ternate diperkirakan membangun satu benteng kecil yang dikenal dengan nama Het Klaverblad. Namun, gres pada tahun 1688 ada catatan sejarah perihal benteng Het Klaverblad yang letaknya di Kepulauan Sulu, tepatnya di Pulau Sanana.

Kemudian pada 24 Desember 1736, yaitu masa pemerintahan Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin (1714-1751), benteng kecil Het Klaverblad diperbaharui dan lalu diberi nama De Verwachting. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin – putra tertua Rotterdam dari istri keempatnya, Sayira – yaitu Sultan Ternate ke-14. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin lahir di Ternate pada 1680 dan lebih dikenal dengan nama Raja Laut, yang diberikan ayahnya. Ia juga dikenal dengan nama Kaicil Sehe.

Pemugaran benteng tersebut berada di bawah pengawasan seorang opsir VOC, Victor Moll. Pemugaran ini memanfaatkan tenaga orang-orang Ternate, yang lalu mereka memahat dinding benteng tersebut dengan hiasan-hiasan bercirikan khas Ternate.

Tulisan-tulisan pada gerbang dan dinding benteng juga dalam bahasa Melayu. Pada tahun 1790-an, catatan sejarah VOC di simpulan kala ke-18 menyebut benteng ini sebagai benteng Alting, berdasarkan nama seorang wali VOC yang memegang tampuk pimpinan antara 1780-1797.

Sumber http://tips-wisata-indonesia.blogspot.com

Benteng De Verwacthing yaitu salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi ketika Anda berada di Kepulauan Sula. Benteng ini bera...
Ha Njo Dolan