Ads

Ads
Menu
Results for "hiking"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Dalam rangka menyukseskan kegiatan “One Year One Mountain” yang saya canangkan pada tahun kemudian (untuk saya sendiri), maka tahun ini saya berencana untuk kembali menapaki salah satu gunung yang ada di Indonesia. Bagai gayung bersambut, ternyata sobat saya—yang juga rekan seperjalanan di Tambora—Yungski (@yuanggafp), ngajakin jalan ke Gunung Prau, Jawa Tengah. Tentu saja saya menyambut baik undangan tersebut. Namun ternyata perjalanan kami tidak semulus yang saya bayangkan. So much drama! Dan barangkali, ini ialah pendakian ter-drama hingga sejauh ini...

So here where the story begins...


Gunung Prau sendiri sudah sangat populer di kalangan para pendaki. Selain lantaran keindahan alamnya, gunung ini juga punya medan yang ramah untuk para pendaki pemula, macem kami. Dan untuk memudahkan perjalanan, kami menentukan untuk ikut open trip.

Awalnya kami pengen ikutan trip glamping (glamourous camping). You know, yang tendanya kece, ada toilet portable, makannya sushi, pasta, burger, terus area camping-nya dihiasi lampu-lampu kecil. Pokoknya manjha deh. Cari aja di Instagram, ada akun operatornya. Tapi lantaran sayang duit ngga ada jadwal glamping yang pas, akhirnyanya kami join trip yang “biasa” aja. (Mohon maaf kali ini saya ngga nyebut operatornya kerana kisah ini mostly berisi review negatif. So sorry).

Drama dimulai bahkan semenjak kami gabung ke grup WA open trip tersebut. Waktu itu udah ada beberapa anggota lain, yang mana saya ngga ngerti mereka itu panitia atau akseptor trip, soalnya di profpic mereka udah pake kaos bergambar “merk” operator trip tersebut. Tapi yang jelas, keganjilan di grup ini adalah... sangat sangat minimnya isu UMUM ihwal trip yang akan diselenggarakan!

Bahkan untuk sekedar itinerary, saya harus nge-DM salah satu panitia, gres kemudian dikasih. Temen saya yang tanya itin juga di grup, dibalas (sama panitia lain) katanya bakal ada revisi itinerary makanya ngga di post dulu. Tapi saya DM ulang ke panitia yang lain, ngga ada itu yang namanya revisi! Like, wtf dude?!

Dan yang bikin saya paling ngga nyaman di grup itu ialah chat-chat “ngga penting”, yang ngga ada hubungannya sama trip, yang dilontarkan dengan bahasa kurang sopan hingga menyebutkan aneka macam macam (maaf) alat kelamin! Well, saya ngga ngerti ya, apakah itu emang jokes “bro bro gunung” or jokes “lakik” or whatever. Dan bukannya saya ngga suka dengan “keakraban” yang ada di sana.Tapi kan ya namanya di grup open trip yang pesertanya dari aneka macam latar sifat, karakter, dan tingkat toleransi, akan lebih baik kalo kita menjaga lisan. Apalagi ada cewek-cewek dan ukhti-ukhti juga di grup itu. Hmm..

Anyway, drama lain yang saya pribadi hadapi ialah susahnya cari kendaraan ke meeting point kita, di Terminal Mendolo, Wonosobo, Jawa Tengah. Saya kira lantaran di sana ada wisata Dieng, maka transportasinya bakal gampang. Tapi ternyata ya susah-susah gampang. Mungkin lantaran letaknya yang ngga dilalui jalur utara & selatan ya. Belum lagi kemarin masih suasana lebaran jadi tiket-tiket pada abis atau harganya naik. Hft. Kalau mau naik kereta, kita cuma sanggup hingga di kota terdekat kayak Yogya, Purwokerto, atau Semarang, terus lanjut naik bus lagi. Tapi untungnya, saya nemu bus direct dari Surabaya ke Wonosobo, dari operator Handoyo. Saya booking tiketnya via bosbis.com dan ternyata harganya lebih murah dari harga distributor Handoyo yang saya telepon!

[Sabtu, 23 Juni 2018]

Saya tiba di Wonosobo menjelang Shubuh dan ngga usang kemudian ketemu sama rombongan yang berangkat dari Jakarta, termasuk Yung & Pujai (@pupujai)—tripbuddies saya kali ini. Total pesertanya waktu itu hampir 20-an orang. Btw, sebenernya meeting point-nya ada di Jakarta dengan harga paket trip Rp500.000, tapi berhubung saya kerja di jawa Timur jadi ya ketemuannya di Wonosobo dengan harga paket sesudah korting jadi Rp300.000. Mursida khan. Tapi ya ternyata sebanding sama kualitasnya.

Kirain bakal eksklusif berangkat, tapi ternyata kita masih harus nunggu rombongan lain yang berangkat dari Jakarta naik kereta. Heft. Saya sebenernya galau juga kenapa berangkatnya pada misah-misah sik. Kenapa ngga bareng naik salah satu kendaraan aja sik. Dan dari info yang beredar, kereta tersebut gres nyampe Purwokerto pukul 08.00, terus masih naik bus lagi for God knows how long. Saya sama bawah umur sampe udah beli sarapan, beli gorengan, jalan ke Indomaret, beli mie ongklok, eh si rombongan kereta belum tiba uga. Betek nga sih. Daan balasannya mereka gres tiba sekitar pukul 13.00.

Gerimis kecil mengiringi keberangkatan kami menuju basecamp Patak Banteng yang terletak di Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar. Selain jalur Patak Banteng, ada lima jalur pendakian lain yang sanggup digunakan yakni Kali Lembu, Dieng Wetan, Dieng Kulon (Candi Dwarawati), Campurejo, dan Wates. Namun, dari kesemuanya ini, jalur Patak Banteng yang paling sering dilalui lantaran jarak tempuhnya yang paling pendek (meskipun ternyata tidak semudah itu). Untuk ke Patak Banteng, dari Terminal Mendolo kita perlu naik kendaraan umum kayak bis kecil gitu dengan harga ±Rp20.000/orang.

Terminal Mendolo

Di tengah jalan, gerimis pun menjelma hujan deras. Alemong nih. Jalurnya bakal licin & becek. And I hate it so much! Ahh, cobak berangkatnya ngga kesorean, niscaya kan nggak......... huft. Di basecamp, hujannya sempet berhenti. Tapi pas kami mau jalan, eh hujan lagi. Nunggu lagi. Akhirnya kami gres bener-bener berangkat itu sekitar pukul 16.00.

Trek Patak Banteng

Begitu mulai, kita eksklusif dihadapkan dengan tanjakan yang tiada akhir. Dan sebenernya ya, Patak Banteng ini isinya tanjakan semua! Perjalanan kala itu makin dipersulit dengan jalanan yang basah, licin, becek, dan dingin. Oiya, di jalur Patak Banteng ini ngga ada sumber air lho, jadi kita harus siap-siap bawa bekal air. Tapi tak perlu khawatir, lantaran di sepanjang Pos 1-Pos 2 itu ada beberapa warung yang tidak hanya jual minum, tapi juga potongan semangka, gorengan, dan cemilan lainnya. Manjha banget kan gunung inih.

Trek Patak Banteng

Malam menjelang dan kami masih belum hingga di lokasi camping. Perjalanan jadi makin sulit lantaran gelap dan minim pencahayaan. I hate dark so much! Entah sudah berapa kali saya kepleset waktu manjat-manjat di trek itu. Sekitar hampir Isya, saya, Yung, & Pujai hingga juga di atas. Finally! Dan well, bukannya jumawa, tapi kami bertiga termasuk grup terdepan dalam rombongan. Begitu sampai, kami bantu mendirikan satu tenda untuk sekedar bernaung dan masak air. Dan waktu itu, dinginnya..... Ya Allah.... masbodoh bhanghet! Kami cepet-cepet ganti baju semoga ngga kedinginan & masuk angin, terus bergumul di dalam tenda sambil makan cemilan.

Drama berlanjut ketika beberapa ketika kemudian, sisa rombongan tiba dan.... tiba-tiba ada akseptor yang mengklaim dan memplot penempatan tenda! Dia bilang tenda yang kami bangkit itu kawasan ia dan temen-temennya tidur. Wtf dude?! (Later we know kalo mereka ini a bunch of school kids, so yeah, ngga heran kalo bahasa mereka di grup WA kayak gitu)

Si panitia juga diem-diem bae. Ngga ada ketegasan mengenai pembagian tenda dan segala macem. It was so messed up! Akhirnya saya & Yung ngungsi ke tenda lain (si Pujai mah udah hening di tenda cewek). Malam itu pun ngga ada kejelasan mengenai makan malam. Kaprikornus semua orang udah kayak ngurusin diri sendiri. Masak-masak sendiri, makan-makan sendiri. Dan nggak usang kemudian, tanpa dinyana, hujan kembali turun! Tenda saya rembes dong, airnya pada netes masuk. Emmh. What a perfect day! Akhirnya kami berdua eksklusif tidur. Udah males mau makan & ngapa-ngapain.

Keinginan kami hanya satu. Segeralah tiba hari esok!

[Minggu, 24 Juni 2018]

Kami terbangun oleh suara-suara gaduh di luar tenda. Ah, niscaya sudah pagi. Tapi begitu melihat keluar tenda.. hmm... kabut semua. Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama, alasannya beberapa menit kemudian, matahari tampak bersinar. Meskipun sesekali ya tertutup kabut.

Selamat pagi, Prau!

Saya, Yung, & Pujai pun meninggalkan grup dan menjelajah sendiri ke sekitar area camping untuk mendapat spot foto terbaik.

Hiruk pikuk Prau di pagi hari
Ternyata benar apa kata orang. Pemandangan di Gunung Prau ini cantik!

Dari salah satu sudutnya, kita sanggup melihat panorama si gunung kembar, Sumbing & Sindoro.

A post shared by Fery Ferdiyansyah (@ferydyan) on
Belum lagi hamparan padang bunga Daisy yang semakin anggun ketika terkena sinar matahari pagi.

Ahh, benar-benar penawar semua drama yang terjadi selama pendakian.

Padang bunga Daisy

Puas foto-foto, kami pun kembali ke tenda dan alhamdulillah-nya kali ini ada makan pagi bersama. Ngga usang kemudian saya, Yung, & Pujai udah beres-beres barang & siap-siap turun. Kami pengen secepatnya turun alasannya kami masih mau lanjut perjalanan ke Yogyakarta.

Yees, kami mau nambah liburan sehari di Yogya!

Tapi kami semua gres bener-bener jalan turun sekitar pukul 12.00, lantaran it took them sooooo long buat packing! Heft. Dan kami turunnya lewat jalur Dieng. Yah lumayanlah buat basuh mata dan menjelajah jalur yang berbeda. Apalagi banyak landainya jadi ngga terlalu menguras tenaga.
Nah, kalo lewat jalur Dieng ini, kita akan melewati puncak Gunung Prau yang “sesungguhnya”. Mungkin selama ini kita taunya lokasi camping itu ialah puncaknya Prau (dengan ketinggian 2.565 mdpl). Tapi kenyataanya, ada lho puncak Prau yang lain, yakni di ketinggian 2.590 mdpl!

Puncak Prau, 2.590 mdpl

Kami hingga di basecamp Dieng sekitar pukul 14.00. Alhamdulillah, semuanya dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan suatu apapun. Meskipun banyak drama-drama kurang menyenangkan selama perjalanan, tapi keindahan Prau berhasil mengobati semuanya. Semoga suatu ketika sanggup kembali ke atas sana, dan tentu saja tanpa banyak drama.

Kami kemudian pamit ke anggota rombongan lain buat jalan duluan, lantaran kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Yogya. Sebenernya kami sanggup isu jikalau ada bus direct dari Wonosobo ke Yogyakarta pukul sekitar 15.00, tapi udah niscaya nggak kekejar. Kaprikornus kami terpaksa pakai opsi kendaraan lain... and it was a whole new drama!







Thanks-List:

Geng pendaki manjha: @yuanggafp & @pupujai, yang telah menemani dalam suka & sedih pendakian
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Dalam rangka menyukseskan kegiatan “One Year One Mountain” yang saya canangkan pada tahun kemudian (untuk saya sendiri), maka tahun ini sa...
Ha Njo Dolan Sabtu, 30 Juni 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Perjalanan kami mendaki Gunung Tambora masih berlanjut. Di hari kedua ini, kami berencana untuk jalan hingga Pos 3, dan keesokan harinya ke Pos 4, Pos 5, dan summit attack!

So here where our story continues...




Jum’at, 22 September 2017

Saya terbangun tatkala mendengar bunyi mas @ichyak_ sedang berbincang dengan porter kami di luar tenda. Ternyata langit sudah terang. Geng cewe juga udah pada bangun, jadi kami bertiga yang masih di dalam tenda ikut keluar.

Ah... segarnya udara pagi Tambora...

Dan untuk menciptakan mata kami melek sempurna, saya @yuanggafp & @dentajaya turun ke sungai kecil di bersahabat tenda untuk menyegarkan diri. Dingin bingit airnya. Seger. Dan biar ngga terkontaminasi sama sabun/pasta gigi, kita basuh muka & sikat giginya menjauhi air yha.


Sumber air

Sembari menunggu sarapan siap, kami (yang gabut) melaksanakan photosession dengan banyak sekali latar dan pose. Kebetulan di sekita Pos 2 ini ada frame-frame yang kece, ditambah berkas-berkas cahaya matahari pagi yang semakin menambah keindahan.

Perilaku
(courtesy of @qadzillah)

Close up
(courtesy of @yuanggafp)

Setelah sarapan, kami beres-beres tenda, logistik, dan packing buat ngelanjutin perjalanan. Oiya, di tengah-tengah packing ini kami sempat kedatangan tamu, yaitu 2 ekor musang, yang ternyata semalem juga menyatroni kami (kata bang porter). Saya juga sempet denger bunyi kresek-kresek semalam, kirain babi utan, untungnya “baru” musang.

Dan sehabis semua siap, kami pun melanjutkan pendakian menuju Pos 3.

Jalur pertama yang kami lalui, sehabis menyeberangi sungai kecil tadi, ialah tanjakan yang cukup terjal dan licin. Makara harus ekstra hati-hati, meskipun udah disediain pagar kayu buat pegangan.

Trek selanjutnya juga masih didominasi tanjakan-tanjakan dan pepohonan yang makin rapat. Di beberapa titik ada pohon-pohon tumbang, dan juga terowongan dari akar-akar pohon yang harus kami lalui. Sepertinya jalur Pos 2 menuju Pos 3 ini cukup panjang, sekitar 3 jam-an waktu tempuh versi kami.

The roots tunnel

Kami sempet istirahat agak lama, sambil makan jeruk. Dan rasanya itu ialah jeruk paling manis, paling segar, paling satisfying yang pernah saya rasakan, wkwk.. Efek kelelahan mungkin ya.

Rehat sejenak

Dan kami pun hingga di Pos 3! Yey...


Pos 3

Pos 3 berada di ketinggian ±1.600 mdpl, dan merupakan camping site paling luas di antara pos-pos pendakian Tambora lainnya. Di sini sanggup muat 10-15 tenda kayanya. Sumber air juga tidak terlalu jauh. Namun, harus tetap waspada, lantaran kabarnya di sini ialah konsentrasi serangan si babi hutan.

Well hello there, neighbor
(courtesy of @yuanggafp)

Kami hingga di Pos 3 sekitar tengah hari, terus pribadi pasang tenda. Kami memutuskan untuk bermalam di sini sebelum summit attack esok hari. Di sini kami ketemu sama “trio kwek-kwek” lagi, dan sepanjang hari itu cuman kami sama mereka yang camping di sini. Sempet ketemu pendaki asal Malaysia yang lagi perjalanan turun, kemudian pendaki dari Surabaya yang menentukan buat camping di Pos 5.

Bawa saya pergi dari sini

Anyway, dari siang hari itu hingga malam kami ada di Pos 3 dan ngga ngerti mau ngapain, alias gabut. Kami kisah ngalor-ngidul, becanda, ngerecokin tenda “trio kwek-kwek”, ngemil, dan yang tak ketinggalan tentu saja photosession dengan gaya aneh-aneh dan tampak fake.



Kelakuan
(courtesy of @yuanggafp)

Tapi emang di Pos 3 ini pemandangannya kece sih. Di kejauhan, kita sanggup melihat lembah-lembah kehijauan, dan semakin indah dengan kabut-kabut yang sesekali tiba dan pergi sesuka hati

Hm..
(courtesy of @yuanggafp)

Meet Tawan from AsNTM 4
(courtesy of @yuanggafp)

Sebwa persahabatan
(courtesy of @ichyak_ @imesummits)

Sehabis makan malam, kami semua tidur lebih awal untuk summit attack keesokan hari...

Sabtu, 23 September 2017

Tengah malam, kami berdiri dan packing barang-barang yang mau dibawa menuju puncak. Kami juga beresin tenda dan ngerapihin tas-tas biar ngga diacak-acak sama babi hutan. Caranya, digantung di atap shelter, jadi kondusif dari jangkauan si babi.

Kami joined forces sama “trio kwek-kwek” dan gotong royong berjalan menuju puncak gemilang cahaya

Tujuan pertama kami ialah Pos 4 dan trek menuju kesana tidak mengecewakan terjal. Namun yang menjadi sangat iconic di sekitar Pos 4 ini ialah adanya “ladang” tumbuhan Jelatang (Jancukan/Api-Api/Rengas). ((Ladang)) lho ya bahasanya, lantaran emang pohonnya banyak dan rapat-rapat seakan sengaja ditanam dan dibudidayakan.

Ladang Jelatang (taken after summit attack)

Jelatang (Toxicodendron radicans) ialah tumbuhan semak yang mempunyai daun ber-miang/bulu-bulu halus yang bila terkena kulit sanggup menjadikan rasa gatal dan panas. Nah, untuk mencegah terkena sengatan Jelatang ini, ada baiknya jika kita menggunakan pakaian yang proper, ibarat jaket, sarung tangan, celana panjang, dan gaiter.

Anyway, sehabis beristirahat sejenak di Pos 4 (ketinggian ±1.900 mdpl), kami lanjut jalan hingga Pos 5. Trek dari Pos 4 ke Pos 5 ini merupakan trek paling pendek kayanya ya, sekitar sejam-an lah. Tapi ya jalannya udah terjal aja terus.

Pos 5 berada di ketinggian ±2.080 mdpl dan di sini ada area yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda. Kami ngelewatin tenda yang dibikin sama pendaki Surabaya, tapi sepertinya mereka belum siap buat summit attack. Makara ya kami jalan duluan aja.

Selepas Pos 5, trek ya makin nanjak-nanjak aja. Pepohonan mulai berkurang dan area mulai terbuka dengan tanaman-tanaman perdu pendek dan rerumputan. Tapi yang spekta ialah bila kita melihat ke atas...

Wow... langit gelap bertabur bintang ditemani cahaya rembulan.

Tambora's starry sky
(courtesy of @yuanggafp)

Kami berhenti sejenak untuk istirahat dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini. Kami padamkan semua headlamp, kemudian duduk dan menatap langit di atas sana. Ahh.. so serene..

(courtesy of @yuanggafp)

Tapi makin lama kok dinginnya makin menjadi-jadi ya gaes. Saya hingga goler-goler di tanah biar ngga kena angin, tapi kok tetep merasuk hingga ke tulang. Akhirnya daripada hipotermia, kami pun melanjutkan perjalanan.

Bukit, demi bukit, demi bukit, demi bukit, kami lalui hingga hasilnya jalur yang kami tapaki mulai berpasir. Itu tandanya kami sudah bersahabat dengan bibir kawah dan puncak. Benar saja, ketika fajar mulai menyingsing, kami sanggup melihat garis batas puncak di atas sana.

I see it, I see it

Si @yuanggafp, @dentajaya, dan kakak porter jalan cepet banget dan udah di atas. Sementara saya, the girls, dan trio kwek-kwek ada di belakang mereka. Saya sempet ngerecoking trio kwek-kwek yang lagi istirahat dan nyicipin puding coklat yang mereka buat, hhe..

Beautiful sunrise
(courtesy of @yuanggafp)

And finally, kami hingga di atas! Yeey...

Tapi, tunggu bentar..

Saya noleh ke kanan. “Kok di sana ada bukit lagi dan ada bendera di atasnya?!”

What is that?

Yha Alloh..

Ternyata saya gres hingga di bibir kawah, sementara buat ke puncaknya masih harus nanjak lagi satu bukit. God help me. Padahal dari bawah tadi ini bukitnya ngga kelihatan lho... *menangys


I'm coming, I'm coming
(Front-Back: mba @shinta_sw, me, trio kwek-kwek, @qadzillah, mas @ichyak_)
(courtesy of @yuanggafp)

Akhirnya sehabis kesenangan semu tadi, kali saya benar-benar ada di puncak Gunung Tambora!

Yeay... Thank God!
(courtesy of @dentajaya)

Wohoo...

(courtesy of @dentajaya)

Alhamdulillah, rasa syukur yang tidak terkira saya haturkan kepada Tuhan YME lantaran sudah diberi kesempatan (lagi) untuk berada di daerah yang istimewa, ibarat puncak itu.

Alhamdulillah Yha Allah
(courtesy of @yuanggafp)

Di sini, kita sanggup menyaksikan pemandangan 360° ke sekeliling Tambora. Selain kaldera besarnya, kita sanggup melihat Pulau Satonda, Pulau Moyo, Gunung Rinjani, dan Gunung Agung. It was breathtaking.


View from top

Kami istirahat sejenak di puncak Tambora, sambil makan perbekalan dan tentu saja mengabadikan gambar. Si trio kwek-kwek kayanya pribadi turun sehabis foto-foto bentar. Setelah kepergian mereka, puncak tersebut seakan jadi milik kami pribadi.

Fullll
(courtesy of @dentajaya)

Sarapan doloe
(courtesy of @dentajaya)


Meet the squad
(courtesy of @dentajaya)

Memorial alm. Wakil Menteri ESDM, Widjajono Partowidagdo
yang meninggal pada 2012 ketika mendaki Gn. Tambora

Setelah puas menikmati puncak, kami pun harus mengucapkan salam perpisahan dan kembali turun menuju basecamp.

Sampai jumpa, Tambora... :')
(courtesy of @dentajaya)

Di bibir kawah, kami berhenti sejenak untuk menikmati pemandangannya. Kaldera Gunung Tambora mempunyai diameter ±7 km dengan kedalaman ±1 km. Dari atas, kita sanggup mendengar bunyi raungan atau kayak bunyi air mendidih dari dasar kaldera. DI dalam sana pun sekarang terbentuk anak Gunung Tambora yang diberi nama Doro Api Toi / Doro Afi Toi (dalam bahasa Bima yang berarti “Gunung Api Kecil”). Apakah di masa depan ia akan erupsi dahsyat ibarat ibunya dulu? Who knows..

The infamous Tambora caldera

Kami melanjutkan perjalanan turun hingga Pos 3, dan istirahat di sana sambil makan siang. Hujan sempat turun sebentar, menciptakan jalan yang kami lalui menjadi licin. Dan kelicinan inilah yang menciptakan saya kepeleset just before Pos 2!

Rehat di kali yang mengering
(courtesy of @shinta_sw)

Bu Sisca Suitomo demo masak makan siang
(courtesy of @qadzillah)

Yha Alloh, jatohnya pas banget ada tonjolan akar dan kena tulang ekor. Sakitnya bukan main sampe rasanya ngga sanggup jalan. Belum lagi harus ngelewatin pohon-pohon tumbang, antara harus manjat lewat atas atau jalan nunduk di bawahnya. Encok dah.

Moleh moleh
(courtesy of @ichyak_)

But nothing can stop me from going home!

Kami lanjut terus jalan, hingga hasilnya saya berada dalam kondisi ketidaksingkronan antara otak dan kaki. Saya udah ngga sanggup mencicipi betapa pegel dan sakitnya kaki, lantaran pikiran saya udah ada di rumah.

Pintu hutan

Alhamdulillah hingga basecamp dengan selamat

Kami hingga di pintu hutan sekitar Maghrib dan udah dijemput sama abang-abang ojek yang anter kami. Kemudian penderitaan berlanjut ketika kami offroad-an lagi menuju basecamp. Yha Alloh, apa kabar tulang ekor saya. Tapi alhamdulillah kami tiba kembali di basecamp Pak Syaiful dengan keadaan sehat wal afiat. Kami nginep semalam di sana dan keesokan harinya kami bareng-bareng ke bandara dan kembali ke rumah masing-masing.


Pulang.. pulang..

Sekali lagi, saya sangat-sangat bersyukur sanggup melaksanakan perjalanan ini. Terlebih ditemani rekan-rekan yang gila dan sungguh menghibur, menciptakan pendakian ini makin seru. Dan ibarat yang saya katakan di awal jika saya gres mencicipi mendaki yang “bener-bener mendaki” ya pas di Tambora ini. Mungkin lantaran timing yang pas juga, jadi ngga banyak orang yang naik dan kita sanggup lebih khusyuk menikmati setiap jengkal perjalanan. Can’t wait for the next adventures!

Sekian kisah dari saya, semoga bermanfaat dan... terima kasih

Jadi, ada yang mau naik ke Tambora juga? J


Previous Episode...


NaraHubung:
Pak Syaiful (Basecamp Tambora)
Desa Pancasila, Kec. Pekat, Kab. Dompu, NTB
Phone: 082340693138

Indonesian Matexpedition (Travel Planner & Organizer)
Phone: +6285708917924, +6282234862865
Email: indonesianmatexpdc@yahoo.com
IG: @imesummits, @imesummits.info
Website: http://imesummits.id



Thanks-List:
@imesummits for making this journey happened
@dentajaya, @yuanggafp. @ichyak_, @qadzillah, @shinta_sw for being such a fun travelmates
YOU, for reading this! :)
         

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Perjalanan kami mendaki Gunung Tambora masih berlanjut. Di hari kedua ini, kami berencana untuk jalan hingga Pos 3 , dan keesokan harinya ...
Ha Njo Dolan Minggu, 10 Desember 2017