Ads

Ads
Menu
Hasil penelusuran untuk meugang-tradisi-masyarakat-aceh
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Berbagai tradisi menyambut Ramadhan bukan hanya ada di sejumlah kawasan di Jawa. Di beberapa kawasan di Sumatera bermacam tradisi jelang Bulan Suci ini pun sudah ada semenjak usang dan masih bertahan hingga kini, hingga menambah daya tarik sebagai destinasi wisata.

Di Aceh misalnya, masyarakat di sejumlah daerah, terutama di wilayah Pantai Barat Selatan mempunyai tradisi Meugang atau potong sapi/kerbau beberapa hari menjelang Ramadhan.

Selama tradisi itu berlangsung, orang Aceh gotong royong menyembelih sapi atau kerbau kemudian dimasak sebagai lauk untuk dimakan bersama keluarga dan juga diantar ke rumah sanak saudara maupun tetangga.

Biasanya daging sapi/kerbau dalam tradisi ini diolah menjadi makanan Kuah Beulangong khas Aceh Besar yang dimasak dengan belangan dan kayu nangka.

Tak sedikit warga Aceh yang mengolahnya menjadi Dendeng, Kari, dan Masak Mirah.

Ada juga yang menjadikannya Sie Reuboh, makanan khas Aceh Besar juga dengan aneka bumbu Aceh.

Selain jelang Ramadhan, Meugang juga biasa dilaksanakan jelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sebuah kesempayan menjelaskan Meugang merupakan tradisi yang menjadi pecahan dari budaya masyarakat Aceh yang sudah turun temurun.

Saat Meugang, masyarakat Aceh berupaya membeli daging sapi atau kerbau untuk diolah kemudian disantap bersama keluarga sekalipun harga daging jelang Ramadhan bisa naik hingga 50 persen.

Berdasarkan warta dari rekan di Aceh, harga daging Sapi di pasar tradisional Peunayung  Banda Aceh jelang Ramadhan 2019 ini mulai bergerak naik dari Rp125.000 menjadi Rp130.000 per kilogram.

Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), memutuskan Hari Meugang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 4 Mei 2019. Hari Meugang ditandai dengan penyembelihan sapi dan kerbau dalam jumlah besar oleh para pedagang untuk dijual memenuhi kebutuhan daging yang kerap melonjak drastis harganya jelang Ramadhan.

Sebagaimana tahun lalu, Hari Meugang 1440 H/2019 M tahun ini, pedagang di Kabupaten Abdya dikabarkan menyembelih sapi dan kerbau antara 100 hingga 200 ekor.

Lokasi penyembelihannya di bantaran pedoman Sungai Krueng Beukah, masuk Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie.

Tempat lainnya  di Padang Sikabu, Kecamatan Kuala Batee dan di Lapangan Teungku Peukan, Manggeng serta Tanjong Bunga, Kecamatan Tangan-Tangan.

Lokasi-lokasi penyembelihan tersebut diperkirakan akan dipadati masyarakat dari banyak sekali pelosok kawasan untuk membeli daging sapi dan kerbau segar pada Hari Meugang.

Di samping tradisi Meugang, sejumlah warga Aceh pun ada yang melaksanakan mandi di bahari jelang Ramadhan.

Tujuannya untuk membersihkan diri. Tapi juga ada yang beralasan sebab kalau di bulan puasa tidak bisa mandi di laut, jadi ini kesempatan terakhir mandi sebelum puasa.

Di Sumatera Barat (Sumbar) ada tradisi Balimau yakni mandi basamo (bersama) untuk menyucikan diri dengan limau (jeruk nipis), ditambah ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu yang direndam dalam air hangat kemudian dioleskan ke kepala.

Konon, ramuan tradisional untuk balimau tersebut ialah warisan bebuyutan semenjak ratusan tahun silam.

Dulu sebelum ada shampo ibarat sekarang, limau kasai (ramuan balimau) tersebut dipakai untuk keramas.

Sebelumnya para wanita Minang melaksanakan manjalang mintuo alias mengunjungi mertua dengan membawa hantaran berupa ketupat atau lainnya disertai limau ukur untuk keperluan mandi balimau.

Ujung dari tradisi itu ialah kedua belah pihak saling bersalaman dan maaf-maafan untuk mensucikan hati sebelum memasuki bulan puasa.

Biasanya tradisi tersebut digelar bulan Sya’ban, satu ahad sebelum Ramadhan.

Kalangan alim ulama di Ranah Minang menganggap tradisi ini perbuatan bid’ah bahkan ada yang mengharamkan. Di pihak lain ngotot ingin melestarikannya. Yang pasti, pro-kontra Balimau ini tak menyurutkan sejumlah masyarakat untuk melakukannya hingga kini.

Balimau atau mandi dengan air limau ini, merupakan tradisi masyarakat Minang di Kota Padang, Ibukota Sumbar yang hingga kini masih terjaga

Tradisi ini biasa dilakukan umat muslim di wilayah tersebut sempurna sehari sebelum masuknya bulan Ramadhan.

Tradisi balimau bermakna untuk membersihkan hati dan badan insan dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa.

Wisatawan yang ingin mencicipi balimau tidak harus dipemandian umum, tapi bisa di tempat pemandian masing-masing.

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Oni Yulfian program Potang Balimau (menyambut Ramadan) tahun ini akan digelar di Kabupaten 50 Kota tanggal 5 Mei.

Selain itu ada juga program Balimau lainnya di beberapa kota dan kabupaten lain di Sumbar.

Di Riau, tepatnya di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, masyarakatnya juga punya tradisi menyambut Ramadhan dengan menggelar upacara Balimau Adat Potang Mogang di tepian Sungai Kampar.

Balimau Adat Potang Mogang ialah tradisi susila yang sudah berlangsung selama variasi tahun.

Masyarakat Langgam meyakini upacara ini merupakan ucapan syukur dan menyambut kegembiraan menyambut datangnya bulan puasa.

Gubernur Riau H Syamsuar dikala tiba di upacara Balimau Adat Potang Mogang, Rabu (1/5/2019) menyampaikan nilai-nilai luhur budaya dan kearifan lokal yang mendukung di dalam tradisi Balimau Adat Potang Mogang ialah salah satu daya tarik wisata dan kekayaan khazanah budaya negeri ini, serta perekat persatuan dan ikatan.

Tradisi ini, lanjutnya menjadi potensi wisata Riau yang harus dilestarikan mengingat Riau sebagai sentra Pariwisata Melayu di Bentangan Asia Tenggara.

Di Jambi, tepatnya di Desa Semurup, Kecamatan Air Hangat dan Air Hangat Barat, ratusan masyarakatnya menggelar tradisi Mandi balimau di Sungai Batang Merao, Rabu (1/5/2019 ).

Mandi balimau merupakan tradisi turun temurun masyarakat Desa Semurup.

Acara tersebut biasanya dilaksanakan jelang kenduri sko tigo luhah semurup yang di adakan setiap lima tahun sekali.

Menurut Dedi Azhari ninek mamak rio mudo, mandi belimau merupakan tradisi turun temurun nenek moyang susila semurup.

"Setiap anak jantan, butino, tuo, mudo, gedang maupun kecik di arah kan ke pinggir sungai batang merao, melewati di bawah anjungan yang sudah di buat panitia kemudian di percik dengan air berisi potongan limau oleh orang susila yang sudah di bacakan mantra," terang Dedi Azhari.

Di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung warganya juga punya tradisi Sedekah Ruah.

Tradisi ini biasanya dilakukan pertengahan bulan Sya’ban, sebagai tanda puji syukur kepada Allah SWT.

Isi acaranya doa dan makan bersama di rumah dengan cara mengundang tetangga terdekat, keluarga, dan teman-teman.

Di akhiri saling memaafkan semoga higienis jiwa sebelum memasuki bulan suci.

Ada juga yang melanjutkan berziarah ke kuburan keluarga untuk mendoakan yang sudah meninggal dunia dan membersihkan pusara.

Sementara di Bangka Barat, masyarakatnya mengadakan kegiatan perang ketupat menjelang Ramadhan.

Penduduk lokal di Telung Betung, Lampung pun punya tradisi serupa, mandi massal tapi di tepi Kali Akar.

Penduduk setempat yakin dengan mandi bersama ini sanggup membuang sifat jelek dan memberi ketenangan dalam beribadah puasa.

Selain dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan. Masyarakat menganggap tradisi mandi massal ini sebagai tradisi melepas masa lajang atau gadis.

Beragam tradisi jelang Ramadhan itu amat potensial sebagai daya tarik wisata kawasan masing-masing, yang bisa menjaring wisatawan baik lokal, nusantara bahkan mancanegara kalau dikemas menarik dan gencar dipromosikan jauh-jauh hari lewat bermacam media serta sempurna sasaran.

Salah satu contohnya tradisi Meugang di Aceh, dengan menjadikannya sebagai Festival Meugang sebagaimana dilakukan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh berisnergi dengan Pemkot Banda Aceh tahun kemudian di Lapangan SMEP atau lokasi pasar daging Meugang, Banda Aceh.

Kepala BPNB Aceh, Irini Dewi Wanti menyampaikan Festival Meugang merupakan tindak lanjut dari tradisi Meugang yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada 2016 lalu.

"Salah satu bentuk tindaklanjut itu ya dengan Festival Meugang yang gres pertama kali kita gelar ini," terang Irini ketika itu.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman dikala itu juga menyampaikan kalau tradisi Meugang penting dilestarikan sebab bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik atau atraksi wisata islami di Aceh yang potensial menjaring wisnus maupun wisman.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. bpnb aceh

Captions:
1. Tradisi Meugang di Aceh, terutama wilayah Pantai Barat Selatan digelar jelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha rutin setiap tahun semenjak dulu.
2. Daging sapi atau kerbau biasanya diolah menjadi Kuah Beulangong dan makanan khas Aceh Besar lainnya, kemudian disantap bersama keluarga serta diantar ke sanak kerabat dan tetangga.
3. Daging sapi atau kerbau hasil penyembelihan bersama.
4. Lomba belah kepala sapi, salah satu program dalam Festival Meugang 2018 yang gres pertama kali digelar BPNB Aceh bersama Pemkot Banda Aceh.
5. Festival Meugang perdana tahun kemudian menjadi daya tarik wisata sekaligus melestarikan nilai-nilai tradisi yang membudaya.

Berbagai tradisi menyambut Ramadhan bukan hanya ada di sejumlah kawasan di Jawa. Di beberapa kawasan di Sumatera bermacam tradisi jelang ...
Ha Njo Dolan Rabu, 31 Desember 2014
Travel Agent Penyedia Info Wisata

DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh, bukan sekadar daging yang direbus. Ini masakan khas Kabupaten Aceh Besar yang diwariskan bebuyutan dan menjadi santapan wajib ketika datang Ramadhan. Karena, masakan ini sanggup bertahan hingga satu bulan.

Sie reuboh memang bukan sekadar daging rebus. Ia dibentuk dari gumpalan daging beserta gapah yang dibumbui garam, cabai merah, cabai kering, cabai rawit, kunyit, kemudian direbus hingga mendidih di belanga tanah tanpa disiram air.

Khusus untuk gilingan ketiga jenis cabe, rawit, merah dan cabai jangan dihaluskan. Biarkan ia dalam keadaan bernafsu sehingga bijinya akan lengket di permukaan daging nantinya.

Setelah air rebusan yang keluar dari daging dan gapah mengering, biarkan ia selama satu malam dalam belanga. Keesokan harinya, ketika dipanaskan kembali dan gapah yang membalut daging meleleh, siramkan cuka bersama air dan biarkan hingga mengering hingga dagingnya empuk. Cuka yang dipakai pun harus cuka enau.

Sampai tahapan ini, satu fase masakan masakan sie reuboh sanggup dianggap selesai dan sanggup dijadikan santapan dengan cara disayat sebagai lauk. Di tahapan ini pula, sie reuboh sanggup erat dengan waktu dan bertahan hingga berbulan-bulan. Cara menyantapnya tak berubah, ialah dipanaskan dengan api yang tak terlalu besar, dan harus tetap dalam belanga tanah.

Proses sie reuboh sebagai masakan khas Aceh Rayeuk belum seluruhnya berhenti hingga di sini. Daging rebus itu sanggup diolah menjadi banyak turunan. Mulai dari sie goreng istilahnya yang seolah-olah rendang, dimasak lemak, dibentuk kuah asam keung khas Aceh dan sanggup juga dijadikan semacam abon.

Sie reuboh menguapkan anyir cuka yang keras dan menggoda. Wangian cuka ini menjalar bersama rasa pedas bercampur asam hingga ke langit-langit verbal ketika dimakan. Wangi cuka nipah inilah yang mendominasi rasa daging rebus, yang sulit untuk dilewatkan.

Di tahun-tahun terakhir ini sie reuboh sebagai sajian masakan yang dijajakan di warung-warung apalagi restoran, makin jarang didapat. Ia kalah pamor dengan ayam tangkap, atau ayam penyet misalnya.

Namun, di tempat Lambaro, Aceh Besar, sebuah rumah makan khas Aceh Rayek, Delima Baru, dan resto Ayam Tangkap Blang Bintang, masih tetap menimbulkan sie reuboh sebagai sajian utama. “Satu hari kami memasak 30 kilogram gading khusus untuk sie reuboh. Kebanyakan pelanggan kami memang memesan sie reuboh sebagai sajian utama,” kata Rusli, pemilik rumah makan tersebut.

Tak ada ramuan khusus untuk melariskan masakan itu. Resep pembuatan sie reuboh ini juga diwariskan secara bebuyutan oleh keluarga Rusli. “Saya merupakan generasi ketiga. Usaha rumah makan ini sudah ada semenjak 60-an,” ungkapnya.

Namun, di rumah-rumah warga Aceh Besar, khususnya ketika meugang memasuki bulan Ramadhan, masakan yang mengundang kolesterol ini hampir sanggup ditemui di setiap rumah warga. Mau mencoba? Yuk ke Aceh Besar.(*)

Dari Makanan Meugang hingga Peunajoh Prang


RITUAL meugang diperingati warga Aceh dua atau satu hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha. Ritual itu biasanya dilakukan dengan membeli dan memakan masakan berbahan daging. Bagi masyarakat Aceh Besar, hari meugang tanpa sie reuboh terasa hampa.

DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
Rasa sie reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-asaman membuatnya enak disantap bersama nasi atau disajikan langsung.

Sie reuboh memang mempunyai huruf tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan usang atau sanggup disimpan berhari-hari. “Sie reuboh tidak akan basi. Kalau sudah hambar tinggal dipanaskan lagi, dan tetap masih enak dimakan,” kata Bidin, seorang penggemar sie reuboh.

Seperti warga Aceh Besar lainnya, Bidin tetap menimbulkan sie reuboh sebagai masakan yang harus ada di rumah pada setiap hari meugang. “Walaupun sajian lain ada, sie reuboh tetap harus tersedia. Ini wajib,” ujarnya.

Karena tahan usang dan tak cepat basi, kuliner ini sering pula menjadi peunajoh prang atau logistik perang. Seorang mantan kombatan di Aceh Besar mengaku, ketika ia masih bergerilya, kuliner ini sering menjadi bekal dari keluarga yang dibawanya ke hutan. “Itu alasannya kuliner ini tahan lama. Jika ingin menyantapnya, cukup dengan dipanaskan saja. Sehingga cocok dibawa ketika bergerilya,” ungkap Saifuddin, seorang mantan kombatan yang sekarang berprofesi sebagai kontraktor.

Kesederhanaan dalam penyajiannya, menjadi salah satu alasan kuliner ini cukup digemari, khususnya ketika sahur jelang berpuasa di bulan Ramadhan. Sayangnya, kesederhanaan sie reboh ini juga telah membuatnya dipandang sebelah mata.

Di Banda Aceh, misalnya, cukup sulit untuk menemukan sajian ini di rumah makan atau restoran. Untungnya, salah satu rumah makan di tempat Lambaro, Aceh Besar, dan resto ayam tangkap Blang Bintang, masih menyediakan kuliner tersebut.

“Dulu, tahun enam puluhan, kakek saya membuka rumah makan yang menyediakan sie reuboh di tempat Jalan Perdagangan, Banda Aceh. Kemudian 1997, pindah ke Jalan Diponegoro dan dikelola oleh orang bau tanah saya. Barulah sekitar 2006 saya melanjutkan perjuangan bebuyutan ini di tempat Lambaro,” ungkap Rusli, pemilik Rumah Makan Delima Baru.

Saat Serambi berkunjung di rumah makan itu, terlihat seorang turis abnormal sedang menikmati hidangan sie reuboh. Meski tangannya dipenuhi gapah, ia terus saja menyantap kuliner itu tanpa perduli orang-orang di sekitarnya. Ternyata, kuliner ini tak hanya cocok di pengecap para pribumi, tapi juga sanggup diterima di pengecap mereka yang tak terbiasa dengan kuliner tersebut. Inilah kuliner meugang hingga peunajoh prang.(*)

Tak Perlu Waktu Lama Memasaknya

SERING yang menduga, kuliner Aceh merupakan masakan yang sulit diolah. Teknik memasaknya pun terkesan sulit. Padahal, tak semua demikian. Buktinya, sie reuboh sanggup dimasak dalam waktu yang cepat; hanya 30 menit. Teknik pengolahannya pun jauh dari kesan rumit.

Sederhanakah cara menciptakan sie reuboh? Jawabannya, sangat sederhana. Tak ada literatur dan ketentuan yang mengahruskan penggunaan daging tertentu. Pemilihan daging sanggup diubahsuaikan dengan selera. Bisa memakai has luar dan sanggup juga has dalam. Atau, jeroan pun boleh. Bahkan, sanggup juga menentukan daging sapi atau daging kambing.

Nah... bagaimana dengan bumbunya? Khusus sie reuboh, pemakaian bumbu rempahnya tak terlalu banyak. Yang diharapkan hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta cuka-untuk memunculkan rasa asam. Seluruh materi tersebut gampang diperoleh di pasaran maupun di ladang-ladang penduduk.

Untuk mencitrakan masakan khas yang yang didominasi rasa pedas, sie reboh banyak memakai cabai. Kemudian, sie reuboh diolah menjadi sajian makanan. Proses pengolahannya tak hingga 30 menit.

Agar proses memasaknya lebih cepat dan singkat, dianjurkan memakai daging sapi has dalam atau has luar. Karena, tingkat keempukan lebih dari daging lainnya. Tapi, jikalau tak ingin repot-repot memasaknya, silakan rasakan kenikmatan sie reuboh ini di resto dan warung makan di Aceh Besar.(*)

Tanpa Sie Reuboh, Tak Kaprikornus Meugang

MEUGANG atau yang disebut juga hari palahan, menjadi tradisi sakral di Aceh. Saking sakralnya, jikalau pada hari meugang tak membawa pulang daging, akan menjadi minder dan dianggap memalukan. Pada 1986 lalu, seorang laki-laki rela memotong kemaluannya karena tak sanggup membawa daging ke rumah mertua pada hari meugang.

Kesakralan ini dilengkapi dengan tradisi tersendiri di masih-masing daerah. Di Aceh Besar, meugang yang diperingati sehari menjelang Idul Adha, Idul Fitri, dan puasa Ramadhan, akan hampa jikalau tanpa dilengkapi sie reuboh. Meski tak dilengkapi hukum kuat, masakan ini menjadi sajian wajib bagi warga Aceh Besar ketika meugang.

Sie reuboh memang mempunyai huruf tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan usang atau sanggup disimpan berhari-hari. Satu laba sie reuboh ini, tidak akan basi. Bila sudah dingin, tinggal dipanaskan, tetap masih enak dimakan kapan pun. Karena itu, ketika meugang warga Aceh Besar sering menciptakan sie reuboh, untuk kemudian disimpan sebagai sajian berbuka puasa atau sahur.

Kepupuleran masakan ini bukan hanya digemari oleh warga Aceh Besar. Beberapa warga daerah lain juga sering mencari sie reuboh di warung-warung nasi pada hari biasa. Tapi bagi warga Aceh Besar, seakan ada isyarat, meugang tak akan sah bila tak dilengkapi dengan sajian sajian sie reuboh.(*)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com

Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh, bukan sekadar daging yang dir...
Ha Njo Dolan Sabtu, 31 Desember 2011