Ads

Ads
Menu
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa

DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh, bukan sekadar daging yang direbus. Ini masakan khas Kabupaten Aceh Besar yang diwariskan bebuyutan dan menjadi santapan wajib ketika datang Ramadhan. Karena, masakan ini sanggup bertahan hingga satu bulan.

Sie reuboh memang bukan sekadar daging rebus. Ia dibentuk dari gumpalan daging beserta gapah yang dibumbui garam, cabai merah, cabai kering, cabai rawit, kunyit, kemudian direbus hingga mendidih di belanga tanah tanpa disiram air.

Khusus untuk gilingan ketiga jenis cabe, rawit, merah dan cabai jangan dihaluskan. Biarkan ia dalam keadaan bernafsu sehingga bijinya akan lengket di permukaan daging nantinya.

Setelah air rebusan yang keluar dari daging dan gapah mengering, biarkan ia selama satu malam dalam belanga. Keesokan harinya, ketika dipanaskan kembali dan gapah yang membalut daging meleleh, siramkan cuka bersama air dan biarkan hingga mengering hingga dagingnya empuk. Cuka yang dipakai pun harus cuka enau.

Sampai tahapan ini, satu fase masakan masakan sie reuboh sanggup dianggap selesai dan sanggup dijadikan santapan dengan cara disayat sebagai lauk. Di tahapan ini pula, sie reuboh sanggup erat dengan waktu dan bertahan hingga berbulan-bulan. Cara menyantapnya tak berubah, ialah dipanaskan dengan api yang tak terlalu besar, dan harus tetap dalam belanga tanah.

Proses sie reuboh sebagai masakan khas Aceh Rayeuk belum seluruhnya berhenti hingga di sini. Daging rebus itu sanggup diolah menjadi banyak turunan. Mulai dari sie goreng istilahnya yang seolah-olah rendang, dimasak lemak, dibentuk kuah asam keung khas Aceh dan sanggup juga dijadikan semacam abon.

Sie reuboh menguapkan anyir cuka yang keras dan menggoda. Wangian cuka ini menjalar bersama rasa pedas bercampur asam hingga ke langit-langit verbal ketika dimakan. Wangi cuka nipah inilah yang mendominasi rasa daging rebus, yang sulit untuk dilewatkan.

Di tahun-tahun terakhir ini sie reuboh sebagai sajian masakan yang dijajakan di warung-warung apalagi restoran, makin jarang didapat. Ia kalah pamor dengan ayam tangkap, atau ayam penyet misalnya.

Namun, di tempat Lambaro, Aceh Besar, sebuah rumah makan khas Aceh Rayek, Delima Baru, dan resto Ayam Tangkap Blang Bintang, masih tetap menimbulkan sie reuboh sebagai sajian utama. “Satu hari kami memasak 30 kilogram gading khusus untuk sie reuboh. Kebanyakan pelanggan kami memang memesan sie reuboh sebagai sajian utama,” kata Rusli, pemilik rumah makan tersebut.

Tak ada ramuan khusus untuk melariskan masakan itu. Resep pembuatan sie reuboh ini juga diwariskan secara bebuyutan oleh keluarga Rusli. “Saya merupakan generasi ketiga. Usaha rumah makan ini sudah ada semenjak 60-an,” ungkapnya.

Namun, di rumah-rumah warga Aceh Besar, khususnya ketika meugang memasuki bulan Ramadhan, masakan yang mengundang kolesterol ini hampir sanggup ditemui di setiap rumah warga. Mau mencoba? Yuk ke Aceh Besar.(*)

Dari Makanan Meugang hingga Peunajoh Prang


RITUAL meugang diperingati warga Aceh dua atau satu hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha. Ritual itu biasanya dilakukan dengan membeli dan memakan masakan berbahan daging. Bagi masyarakat Aceh Besar, hari meugang tanpa sie reuboh terasa hampa.

DAGING rebus atau dalam bahasa Aceh disebut sie reuboh Sie Reuboh, Tak Sekedar Daging Rebus Biasa
Sie Reuboh. ©2014 Acehtourismagency.blogspot.com
Rasa sie reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-asaman membuatnya enak disantap bersama nasi atau disajikan langsung.

Sie reuboh memang mempunyai huruf tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan usang atau sanggup disimpan berhari-hari. “Sie reuboh tidak akan basi. Kalau sudah hambar tinggal dipanaskan lagi, dan tetap masih enak dimakan,” kata Bidin, seorang penggemar sie reuboh.

Seperti warga Aceh Besar lainnya, Bidin tetap menimbulkan sie reuboh sebagai masakan yang harus ada di rumah pada setiap hari meugang. “Walaupun sajian lain ada, sie reuboh tetap harus tersedia. Ini wajib,” ujarnya.

Karena tahan usang dan tak cepat basi, kuliner ini sering pula menjadi peunajoh prang atau logistik perang. Seorang mantan kombatan di Aceh Besar mengaku, ketika ia masih bergerilya, kuliner ini sering menjadi bekal dari keluarga yang dibawanya ke hutan. “Itu alasannya kuliner ini tahan lama. Jika ingin menyantapnya, cukup dengan dipanaskan saja. Sehingga cocok dibawa ketika bergerilya,” ungkap Saifuddin, seorang mantan kombatan yang sekarang berprofesi sebagai kontraktor.

Kesederhanaan dalam penyajiannya, menjadi salah satu alasan kuliner ini cukup digemari, khususnya ketika sahur jelang berpuasa di bulan Ramadhan. Sayangnya, kesederhanaan sie reboh ini juga telah membuatnya dipandang sebelah mata.

Di Banda Aceh, misalnya, cukup sulit untuk menemukan sajian ini di rumah makan atau restoran. Untungnya, salah satu rumah makan di tempat Lambaro, Aceh Besar, dan resto ayam tangkap Blang Bintang, masih menyediakan kuliner tersebut.

“Dulu, tahun enam puluhan, kakek saya membuka rumah makan yang menyediakan sie reuboh di tempat Jalan Perdagangan, Banda Aceh. Kemudian 1997, pindah ke Jalan Diponegoro dan dikelola oleh orang bau tanah saya. Barulah sekitar 2006 saya melanjutkan perjuangan bebuyutan ini di tempat Lambaro,” ungkap Rusli, pemilik Rumah Makan Delima Baru.

Saat Serambi berkunjung di rumah makan itu, terlihat seorang turis abnormal sedang menikmati hidangan sie reuboh. Meski tangannya dipenuhi gapah, ia terus saja menyantap kuliner itu tanpa perduli orang-orang di sekitarnya. Ternyata, kuliner ini tak hanya cocok di pengecap para pribumi, tapi juga sanggup diterima di pengecap mereka yang tak terbiasa dengan kuliner tersebut. Inilah kuliner meugang hingga peunajoh prang.(*)

Tak Perlu Waktu Lama Memasaknya

SERING yang menduga, kuliner Aceh merupakan masakan yang sulit diolah. Teknik memasaknya pun terkesan sulit. Padahal, tak semua demikian. Buktinya, sie reuboh sanggup dimasak dalam waktu yang cepat; hanya 30 menit. Teknik pengolahannya pun jauh dari kesan rumit.

Sederhanakah cara menciptakan sie reuboh? Jawabannya, sangat sederhana. Tak ada literatur dan ketentuan yang mengahruskan penggunaan daging tertentu. Pemilihan daging sanggup diubahsuaikan dengan selera. Bisa memakai has luar dan sanggup juga has dalam. Atau, jeroan pun boleh. Bahkan, sanggup juga menentukan daging sapi atau daging kambing.

Nah... bagaimana dengan bumbunya? Khusus sie reuboh, pemakaian bumbu rempahnya tak terlalu banyak. Yang diharapkan hanya bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta cuka-untuk memunculkan rasa asam. Seluruh materi tersebut gampang diperoleh di pasaran maupun di ladang-ladang penduduk.

Untuk mencitrakan masakan khas yang yang didominasi rasa pedas, sie reboh banyak memakai cabai. Kemudian, sie reuboh diolah menjadi sajian makanan. Proses pengolahannya tak hingga 30 menit.

Agar proses memasaknya lebih cepat dan singkat, dianjurkan memakai daging sapi has dalam atau has luar. Karena, tingkat keempukan lebih dari daging lainnya. Tapi, jikalau tak ingin repot-repot memasaknya, silakan rasakan kenikmatan sie reuboh ini di resto dan warung makan di Aceh Besar.(*)

Tanpa Sie Reuboh, Tak Kaprikornus Meugang

MEUGANG atau yang disebut juga hari palahan, menjadi tradisi sakral di Aceh. Saking sakralnya, jikalau pada hari meugang tak membawa pulang daging, akan menjadi minder dan dianggap memalukan. Pada 1986 lalu, seorang laki-laki rela memotong kemaluannya karena tak sanggup membawa daging ke rumah mertua pada hari meugang.

Kesakralan ini dilengkapi dengan tradisi tersendiri di masih-masing daerah. Di Aceh Besar, meugang yang diperingati sehari menjelang Idul Adha, Idul Fitri, dan puasa Ramadhan, akan hampa jikalau tanpa dilengkapi sie reuboh. Meski tak dilengkapi hukum kuat, masakan ini menjadi sajian wajib bagi warga Aceh Besar ketika meugang.

Sie reuboh memang mempunyai huruf tersendiri. Selain rasanya yang khas, masakan ini juga tahan usang atau sanggup disimpan berhari-hari. Satu laba sie reuboh ini, tidak akan basi. Bila sudah dingin, tinggal dipanaskan, tetap masih enak dimakan kapan pun. Karena itu, ketika meugang warga Aceh Besar sering menciptakan sie reuboh, untuk kemudian disimpan sebagai sajian berbuka puasa atau sahur.

Kepupuleran masakan ini bukan hanya digemari oleh warga Aceh Besar. Beberapa warga daerah lain juga sering mencari sie reuboh di warung-warung nasi pada hari biasa. Tapi bagi warga Aceh Besar, seakan ada isyarat, meugang tak akan sah bila tak dilengkapi dengan sajian sajian sie reuboh.(*)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com

Tidak ada komentar