Ads

Ads
Menu
Results for "Medan"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

http://terupdate.xyz/
Istana Maimun Medan merupakan sebuah warisan peninggalan dari Kesultanan Deli di tanah Sumatera. Bangunan istana ini pun yakni ikon wisata Medan sekaligus ikon kota metropolitan paling besar ke3 di Indonesia. Sampai sekarang, Istana Maimun tetap dianggap sebgai istana termegah & paling manis yg pernah dibnagun dan masih sanggup dilihat di Nusantara. 

Dan tak lupa legenda meriam Puntung (meriam buntung) yg konon ialah jelmaan dari adik seseorang puteri berparas elegan cantik, mendatangi objek wisata Istana Maimun di Medan bakal menciptakan Kamu mengenang kejayaan Kesultanan Deli di periode lampau. 

Istana Maimun Medan berlokasi di Jalan Brigadir Katamso, Kelurahan Sukaraja, Medan. Sekilas tinjauan menyangkut sejarah Kesultanan Deli, dahulu kala sentra kerajaan berada di Labuhan Deli. Pada masa itu, Deli mempunyai hasil perkebunan tembakau yg dipercaya oleh dunia. Tembakau Deli di ekspor hingga ke Eropa. Lantaran ekspor ini, Kesultanan Deli mengalami kemajuan pesat.

Puncaknya, kejayaan ekonomi Kesultanan Deli menciptakan Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah memindahkan ibukota kerajaan ke Medan. Di kota inilah istana yg seterusnya nanti dikenal dgn Istana Maimun tersebut dibangun. Istana ini dirancang oleh seseorang Belanda berjulukan TH. Van ETP. Saat itu, fungsi istana lebih dari sekedar sbg sentra pemerintahan kerajaan, tetapi juga sentra budaya dan tradisi melayu hingga sentra dakwah agama Islam. 

Sultan Deli yg menginisiasi pembangunan Istana Maimun berjulukan Sultan Mahmud Al-Rasyid. Dibangun pada 26 Agustus 1888 hingga 18 Mei 1891, Istana Maimun berdiri megah dgn 30 ruang seluas 2.772 meter persegi. Istana ini mempunyai dua lantai dan memakai tiang kerikil & kayu sbg penopang. 

Istana terbagi jadi tiga sektor, ialah bangunan induk, bangunan sayap kanan, pula bangunan sayap kiri. Panjang istana lebih kurang 75,5 meter dgn ketinggian hingga 14,14 meter. Sementara luas halaman istana mencapai empat hektar. Bangunan istana menghadap arah utara & pas di depannya berdirilah Masjid Ibadah Al-Mashun atau yg ternama dgn nama Masjid Raya Medan. 

Daya Tarik Istana Maimun Medan 

Daya tarik Istana Maimun Medan terletak tidak hanya pada umur bangunan, tapi juga pada keunikan rancangan interiornya. Secara arsitektural, bangunan ini mengandung perpaduan bermacam macam unsur kebudayaan, ialah Melayu, Islam, India, Italia, Belanda, & Spanyol. 

Bentuk pintu serta jendela yg tinggi & lebar terpengaruh dari arsitektur Belanda, sementara sekian banyak pintu yang lain terpengaruh arsitektur Spanyol. Adanya lengkungan di atap setinggi kurang lebih 5-8 meter mengatakan imbas Islam. Lengkungan ini serupa dengan bahtera terbalik, ternama dengan sebutan pilar lengkungan persia yg juga populer di Turki, Timur Tengah, pun India. 

Bangunan istana ini mempunyai 40 kamar dgn 20 kamar di lantai atas & sisanya di lantai bawah. Terkecuali itu pula tetap ada gudang, dapur, empat kamar mandi, serta penjara. Sekian Banyak material buat membangun istana ini berasal dari Eropa, menyerupai marmer, teraso, & ubin lantai. 

Bangunan Induk atau Balairung mempunyai luas 412 meter persegi. Di sinilah singgasana Kesultanan Deli berada. Kamu sanggup mengabadikan photo dgn latar singgasana tersebut selama berkunjung ke Istana Maimun Medan. Tahta singgasana didominasi warna kuning. Secara keseluruhan, bangunan Istana Maimun Medan ini memang lah berwarna kuning. Warna ini dianggap sbg warna kebesaran oleh suku Melayu. 
singgasana sutan Deli (plus.google.com)

Di atas singgasana sultan itu terdapat lampu kristal bergaya Eropa yg menerangi singgasana. Singgasana ini masihlah digunakan hingga kini pada waktu seremoni-seremoni tertentu, misalnya pengangkatan sulatan atau diwaktu sultan mendapatkan sembah sujud dari para anggota keluarga di perayaan hari-hari Raya Islam. 

Pengaruh gaya Eropa di Istana Maimun Medan kelihatan terhadap perabotan-perabotan, menyerupai meja, kursi, & lemari. Perabotan-perabotan lanjut usia ini dibentuk dgn demikian rincian & rumit. Rasa kagum terhadap kemegahan objek wisata Medan yg satu ini tidak hingga pada hal ini saja. Kamu sanggup melihat hiasan interior istana yg penuh warna & mendetail, menyuguhkan satu buah tatanan yg rapi & indah. 
interior istana maimun (touristnyasar.com)
Satu Buah daerah duduk lebar dgn warna kuning terletak di ruang tengah sebelah kanan. Ruang duduk ini yaitu ruang dimana sultan serta permaisuri biasa duduk sambil bersantai. Di sepanjang dinding & bufet, Kamu sanggup menyaksikan banyak poto anggota keluarga kerajaan terpajang di sana. 

Di dalam Istana Maimun, Kamu diperbolehkan menonton warisan Kesultanan Deli, mulai dari kursi, lemari, meja, hingga aneka koleksi yang lain. Ada juga beberapa ruangan yg tak boleh dimasuki atau diduduki, menyerupai sayap kanan istana yg berfungsi juga sebagai ruang tinggal keluarga kesultanan. 

Bersama ditemani oleh satu orang pemandu, Kamu sanggup mendapatkan wawasan mengenai sejarah singkat Kesultanan Deli pun riwayat Istana Maimun Medan ini. Tidak Hanya itu, di istana ini Kamu pula sanggup menyewa pakaian etika melayu dengan aneka warna. 

Meriam Jelmaan Puteri Cantik 

Di Istana Maimun Medan, Kamu sanggup melihat satu buah meriam legendaris berjulukan meriam Puntung atau meriam buntung. Meriam ini sanggup dijumpai di kepingan kanan Istana Maimun, berada dalam sebauh bangunan mungil khas Batak sbg lokasi penyimpanannya. 

Menurut legenda, meriam ini yaitu jelmaan adik dari satu orang puteri yang manis jelita. Ketika berada di Istana Maimun Medan, Kamu sanggup membaca dongeng legenda meriam Puntung ini dalam satu buah prasasti di erat pintu masuk. 
rumah meriam putung (blogspot.com)
Alkisah, Kerajaan Deli Tua dikisahkan sempat mempunyai satu orang puteri berparas jelita berjulukan Puteri Hijau. Puteri ini mempunyai dua orang saudara laki laki, yakni Mambang Yasid & Mambang Khayali. Sampai sebuah disaat, puteri ini menolak pinangan dari Raja Aceh. Tak terima bakal penolakan tersebut, Raja Aceh menyerbu Kerajaan Deli Tua. Demi mempertahankan istana, adik Puteri Hijau yg berjulukan Mambang Khayali bermetamorfosis jadi meriam & menembaki pasukan Kerajaan Aceh. 

Meriam jelmaan ini terus-menerus menembakkan pelurunya hingga larasnya jadi sedemikian panas & balasannya terpecah jadi dua bagian. Sesudah 300 th sesudah itu ketika Kesultanan Deli dipegang oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah (1873 – 1924), meriam ini ditemukan lewat satu buah mimpi. Dalam mimpi, Sultan diberitahu bahwa ada satu kepingan meriam berada dalam rumpun rambung (getah) besar di depan istana. Saat dicek & nyatanya benar, Sang Sultan membangun satu buah daerah buat menaruh meriam tersebut di kepingan depan tepatnya sebelah kanan istana. 

meriam puntung (blogspot.com)
Sementara  ujung meriam berhasil ditemukan di Seberaya, masuk dalam wilayah Kabupaten Tanah Karo. Sebab tak terawat, oleh penduduk selanjutnya penyimpanannya dipindahkan ke Sukanalu. Sebahagian warga lokal tetap mempercayai legenda ini & mempunyai anggapan bahwa meriam Puntung sungguh mendatangkan barokah. Inilah sebabnya aneka bunga ditabur diatas meriam yg tersimpan di daerah berukuran kurang lebih 4×6 meter. 

Rute Menuju Ke Istana Maimun 

Dari Bandara Internasional Kualanamu, Kamu mesti menempuh perjalanan sejauh 40 kilo meter supaya tiba di sentra kota Medan. Namun seandainya Kamu dari pelabuhan Belawan, jarak Istana Maimun ini berkisar 28 kilo meter. Letak istana yg berada di sentra kota memudahkan Kamu buat tiba kesana. Banyak tersedaia bermacam macam angkutan umum yg sanggup mengantarkan Kamu ke sana, mulai becak, angkot, hingga taksi.


Sumber http://backpackercantik.blogspot.com

http://terupdate.xyz/ Istana Maimun Medan merupakan sebuah warisan peninggalan dari Kesultanan Deli di tanah Sumatera. Bangunan istana ...
Ha Njo Dolan Selasa, 21 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Selasa, 16 Mei 2017. Hari terakhir liburan. Seneng rasanya mau pulang. Tapi duka juga kerana harus kembali ke “dunia nyata”. Ya begitulah hidup. Ada awal, ada akhir. Ada saatnya liburan, ada saatnya kerja ngumpulin modal untuk liburan selanjutnya. Hhe




Kami berdiri pagi sekali sebab berencana naik kapal paling awal ke Pelabuhan Tiga Raja, Parapat. Untungnya, kita ngga perlu jalan jauh-jauh ke pelabuhan sebab kita dapat naik kapal dari dermaga penginapan.

Tinggal nunggu di sini

Rasa-rasanya emang kurang sih ya sehari semalam di Pulau Samosir. Masih banyak tempat bagus yang belum sempet kami kunjungin. Paling ngga, butuh 3 hari-an mungkin buat dapat kelilingin spot-spot wisata di Samosir. Anyway, sebab keterbatasan jatah cuti waktu, kami harus mengakhiri petualangan kami. Pokoknya, suatu ketika musti balik ke sini!

Harus balik ke sini!

Kapal paling pagi katanya sih sekitar pukul 08.00. Waktu itu, kami beres packing sekitar pukul 07.00. So, masih ada waktu buat sarapan. Kami pun pesen makan di restoran penginapan dan selagi nunggu, kami foto-foto di dermaga. Sekitar setengah jam kemudian, masakan kami tiba dan kami siap-siap sarapan di gazebo dermaga. Tapi, belum sempat melahap suapan pertama, tiba-tiba terlihatlah sesosok kapal melintas di depan penginapan kami.

What?!

Kok kapalnya udah dateng aja si?

Ya Alloh, kami eksklusif kalang-kabut. Kami buru-buru ambil tas. Dan aku lari-larian ke restoran buat bayar. Tapi untungnya, kata si penjaga penginapan, kapalnya nanti balik lagi, soalnya masih ambil penumpang dari penginapan-penginapan lain. Fyuh, alhamdulillah... Dan sambil nunggu kapalnya balik (biar ngga rugi juga), kami sarapan cepet-cepetan, wkwk...

 
Beberapa menit kemudian, si kapal tadi lewat lagi di depan penginapan kami. Saya melambai-lambaikan tangan semoga supaya si kapal tersebut merapat. Begitu naik kapal, wih penumpangnya bule semua, hhe.. Perlahan, kapal kami bergerak meninggalkan dermaga Lekjon. Kami kesannya secara resmi mengucapkan perpisahan kepada Pulau Samosir. Seeya...


Seeya Toba

Sekitar pukul 09.00, kami hingga di Pelabuhan Tiga Raja. Kami sudah janjian sama driver travel kami, Bang Siregar, dari Tobatrans. Nah, bahas dikit wacana destinasi kami berikutnya. Kami awalnya agak gundah juga, mau naik apa dari Parapat ke Medan. Kalau mau naik bus/angkutan umum, dapat sih, beberapa kali ganti. Tapi yang jadi concern utama kami ialah pesawat pulang aku yang dimajuin jadi pukul 18.50. Jadi, opsi terbaik ialah naik travel, tapi ya dengan konsekuensi ongkosnya lebih mahal. Tapi daripada merisikokan ketinggalan pesawat kan (yang mana tiketnya sejuta lebih, hiks).

Setelah short research di internet, aku nemu rental kendaraan beroda empat Tobatrans ini dengan harga yang yah tidak mengecewakan lah. Untuk rute Parapat—Medan/Kualanamu dipatok Rp500.000,00. BUT, mumpung lagi Sumatra Utara nih—yang entah kapan lagi dapat kesini, aku pengen banget mampir ke salah satu destinasi wisata populer di sini, yaitu Air Terjun Sipiso-Piso, di Kabupaten Tanah Karo.

Rutenya jadi agak melenceng sih, dan ongkos jikalau mampir kesana tambah Rp250.000,00, jadi totalnya Rp800.000,00. Uhk. Kaprikornus mahal banget ya, apalagi kami cuman berdua. Tapi, yaudahlah, duit dapat dicari lagi. So lets just go!

Perjalanan kami dari Parapat menuju Sipiso-piso memakan waktu sekitar 2 jam dengan keahlian Bang Siregar yang mengemudikan kendaraan beroda empat kolam pembalap F1. Sepanjang perjalanan, kita akan dimanjakan dengan pemandangan Danau Toba dari ketinggian, plus hutan-hutan lebat di pinggir jalan.

Waktu itu, kami lewat semacam jalan alternatif. Rural area gitu, jadi agak sepi. Tapi bonusnya, landscape-nya bagus banget. Dan saking nyamannya, aku hingga ketiduran. Hhe.. Saya gres berdiri pas udah mau nyampe lokasi. Dan pemandangan di Tanah Karo itu, masyaAllah, bagus ngets. Ngga nyesel dah bela-belain mampir kesini.

Danau Toba dari Tanah Karo

Di gerbang masuk, kita harus beli tiket seharga Rp4.000,00 aja. Terus pas parkir, ditarik uang parkir sebesar Rp2.000,00 apa Rp5.000,00 gitu lupa. And finally... we were there..

Sipiso-Piso Waterfall!!!


Sedikit cerita, riam ini juga terbentuk sebagai jawaban meletusnya supervolcano Toba. Dengan ketinggian hingga 120 meter, Sipiso-Piso menjadi salah satu riam tertinggi di Indonesia. Dari titik ini, kita dapat menikmati pemandangan Danau Toba, Pulau Samosir, serta landscape perbukitan dan Gunung Dolok Sipiso-Piso. Pokoknya keindahan lokasi ini.. breathtaking! Harus tiba sendiri biar dapat ngerasain gimana cantiknya.

Info board


Maapkeun

Kami nggak usang di Sipiso-Piso sebab ngejar waktu buat ke Medan. Sekitar pukul 11.30, kami melanjutkan perjalanan. On the way ke Medan, kita melewatin beberapa kota, tapi yang paling aku inget cuman Kabanjahe sama Berastagi. Di dalem mobil, Bang Siregar kisah banyak hal wacana kehidupan orang Batak. Mulai dari marga-marga dan tempat asalnya, terus kisah wacana pariban (yang pernah aku pelajarin juga pas kuliah), lagu-lagu Batak, modifikasi angkot, and so on. Yah, sedikit banyak menambah pengetahuan kami.

Pas di Berastagi, Bang Siregar nawarin kami buat mengunjungi salah satu taman wisata yang punya view Gunung Sinabung. Udah pada tau kan ya, Gunung Sinabung, yang beberapa waktu kemudian ramai diberitakan sebab erupsi. Berastagi ini jadi salah satu kota yang palihg parah terkena letusannya. Hampir seluruh kota ditutupin sama debu-debu vulkanik warna putih.

Itu atap-atap rumahnya putih-putih ketutup debu

Tempat yang kami kunjungi waktu itu namanya Bukit Gundaling. Di sini view-nya bangus banget, dan cocok buat liburan keluarga. Kita dapat naik kuda, makan lesehan sambil menikmati pemandangan, dan yang paling happening ya foto berlatar belakang Gunung Sinabung. Kalau ngga bawa kamera, atau ngga dapat ambil angle foto yang tepat, jangan khawatir, di sini banyak fotografer keliling yang akan menjepret kita dengan latar Gunung Sinabung yang sempurna—karena backgorund-nya ditempel pake photoshop, hhe..


Gunung Sinabung from Bukit Gundaling

Move on, kami lanjut lagi jalan ke Medan. Dan kali ini, ngga mampir-mampir lagi. Sekitar pukul 15.00/16.00, kami hingga Kota Medan dan eksklusif disambut dengan kemacetan luar biasa. Saya ngga nyangka jikalau Medan bakalan semacet itu lho!

Sebenernya jikalau mau ke Bandara Kualanamu, kita ngga perlu masuk ke kota Medan-nya, secara bandaranya pun terletak di daerah Deli Serdang. Cuman waktu itu, gara-gara masih mau ambil oleh-oleh—yang kami titip beliin ke temennya mbak Riris di Medan, alhasil kami harus ke kota. Namun, alhamdulillah, berkat rahmat Tuhan Yang MahaEsa, kami dapat hingga tepat waktu, dan masih sempet nongki-nongki di Merdeka Walk.

Puas makan, kami dianter bang Siregar ke Stasiun Medan buat naik kereta ke Kualanamu.
Kami milih naik kereta, soalnya jikalau mau naik kendaraan beroda empat lagi, kemudian terjebak macet lagi, sudah barang tentu kami telat. 

Jadwal kereta yang paling pas buat kami waktu itu ialah keberangkatan pukul 17.35 dan ketibaan pukul 18.06. Saya agak kaget juga harga tiket railink—nama keretanya—ini sebesar Rp100.000,00 for just ±30 minutes ride! Heu.

Kemudian ada insiden konyol: di stasiun kan ada counter check-in pesawat, dan dengan senangnya aku minta tolong cek in ke petugasnya (dengan maksud menghemat waktu). Pas lagi proses, si mbaknya bilang jikalau biayanya Rp25.000,00. What? Kaget saya. Kirain gratis, hhe.. Akhirnya aku cancel proses check-in-nya dan lebih milih cek in di bandara. Terus si mbak-nya “mengancam” aku jikalau waktu yang tersisa ngga bakal cukup buat cek in di bandara.

Mbak, plis... aku udah terbiasa dengan “hidup” ibarat ini. (red: hampir ketinggalan pesawat) Hhe..

Inside the railink

Tak usang kemudian, kereta kami tiba dan kami pun berangkat menuju bandara. First impression: keretanya bagus banget. Dingin. Tempat duduknya nyaman. Tapi minusnya ya, harganya itu lho..

Kuchel max

Sepanjang peralanan, aku ngga dapat diem. Ketar-ketir, berdoa semoga ngga ketinggalan pesawat.

Sekitar pukul 18.00, kami hingga di Bandara Kualanamu, dan aku buru-buru say goodbye sama mba Riris—dia mau ngelanjutin liburan ke Penang. Seeya on the next journey, my big sistah!

Saya eksklusif lari-lari ke counter check-in (yang jaraknya tidak mengecewakan jauh dari tempat kereta). Fyuh. Mana oleh-olehnya se-kardus berat banget—10 kilo ternyata pas ditimbang. Yawla

Alhamdulillah ngga telat

Kalaulah aku ngga lagi bawa oleh-oleh, niscaya aku jalannya santai sebab ngga perlu masukin bagasi. And for info, aku udah ngga pernah cek in bagasi semenjak insiden putusnya tali tas aku oleh salah satu maskapai. Heft. Tapi berhubung waktu itu bawaannya gede bin berat, apalagi berbau tajam (duren) mau ngga mau harus masuk bagasi. Sehingga aku harus bergegas menuju meja cek in.

Seeya Medan

Namun lagi-lagi, berkat rahmat Tuhan YME, aku dapat melalui itu semua dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Saya pun dapat terbang kembali ke rumah dengan aman. Mungkin pelajarannya adalah, next time, aku tidak membuka penitipan buah tangan lagi. Hhe...

Home...

And thats all, perjalanan aku selama lima hari di barat Indonesia. Ngga kerasa panjang juga tulisannya. Tapi ya udah lah. Tujuannya emang buat memoar pribadi. Saya dapet pengalaman dan pelajaran banyak banget dari petualangan kali ini. Overall, sangat menyenangkan! Meskipun ada saat-saat down dan culture shock juga.

Tapi ya, namanya jalan-jalan. We'll never know what's gonna happen. Expect the unexpected! dan itulah yang menciptakan setiap perjalanan itu menarik. Seperti hanya hidup, ngga bakal seru jikalau lempeng-lempeng aja. Yekan?

I hope you guys find this article useful and (hopefully) entertaining. And, seeya till the next journey!


Ada yang pernah jalan-jalan ke Aceh/Medan juga? Share di comments box yhaa..



NaraHubung:
Air Terjun Sipiso-Piso
Tongging, Tanah Karo, Sumatera Utara

Bukit Gundaling
Jl. Jamin Ginting, Gundaling I, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara 22153

Tobatrans Tour-Travel & Rent Car
Jl. SM. Raja No. 171, Pematang Siantar 
Telp,: 0622-5894692 (office), 082285951833 (phone), 081375446837 (WA), 085347666529 (Bang Siregar)
Email: pesantour@gmail.com




Thanks-List:
@irish.kusuma, for the companion during this trip, and for some photos
wikipedia.org, for the info 

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Selasa, 16 Mei 2017. Hari terakhir liburan. Seneng rasanya mau pulang. Tapi duka juga kerana harus kembali ke “dunia nyata”. Ya begitulah ...
Ha Njo Dolan Senin, 21 Agustus 2017
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Senin, 15 Mei 2017. Hari baru, semangat baru, dan siap untuk petualangan baru!


Sekitar pukul 04.00 pagi, kami berangkat menuju Bandara Sultan Iskandar Muda naik taksi yang udah kami pesan malam sebelumnya. Hari itu, kami akan terbang menuju Bandara Kualanamu, Medan. Kemudian dari Medan, kami lanjut terbang lagi menuju Bandara Silangit, Siborong-borong, Tapanuli Utara. Tujuan kami ialah Danau Toba—yang ternyata, saya gres jikalau letaknya jauh dari Medan.


At BTJ

Awalnya, kami berencana naik bus—yang populer fancy itu (ada bus tingkat-nya juga)—dari Banda Aceh ke Medan. Perjalanan memakai bus memakan waktu sekitar 10-12 jam. Berangkat dari Aceh hari Minggu malem, hingga di Medan hari Senin pagi. Tapi berhubung penerbangan pulang saya (Medan—Surabaya) dimajukan ±40 menit, dan juga untuk alasan efisiensi waktu, risikonya kami pilih jalur udara. Dan bandara terdekat dari Danau Toba ialah Bandara Silangit yang jaraknya pun masih sekitar 2—3 jam-an.

Lets go... hoamz

Kami lepas landas dari Banda Aceh sekitar pukul 06.00, dan mendarat di Bandara Kualanamu, Medan, sekitar pukul 07.05. Di sana, kami harus ganti pesawat yang lebih kecil (yang ada baling-baling-nya itu lho). Begitu di counter transit, ya ampun, orang-orang udah pada hectic buat ambil boarding pass. Rame banget. Terus rebutan buat ke mesin scanner, hingga dimarahin sama mbak-mbak penjaga scanner-nya. Setelah dari mesin scanner, saya sama mba Riris lari-larian ke shuttle bus, soalnya si mbak-mbak di speaker udah nyuruh buat naik ke pesawat. Heft. Lumayan olahraga pagi.

Waa first step on Medan!

Run run run at KNO

Our aircraft to Silangit. Nervous

Itu ialah pengalaman pertama saya naik pesawat baling-baling. Agak deg-deg-an juga ya. Apalagi pas turbulence, kerasa banget goyangnya. Tapi sepanjang penerbangan, kita akan dihibur dengan pemandangan alam Sumatera Utara yang sungguh indah. Dan alhamdulillah, kami hingga di Silangit dengan selamat sekitar pukul 08.40, ditemani rintik-rintik lembut gerimis.

Inside the aircraft

Alhamdulillah, hingga di Silangit dengan kondusif terkendali 

Dari Silangit, kami naik taksi ke Pelabuhan Tiga Raja, Parapat, salah satu tempat penyeberangan menuju Danau Toba. Ongkosnya waktu itu Rp300.000,00/mobil (saya yakin kalo kita lebih agresif,  sanggup lebih murah lagi). Sayangnya, kami cuman nemu satu orang barengan lagi, jadinya bertiga. Dan tanpa dinyana, ternyata orang itu kerja di instansi yang sama dengan kami. Hanya saja, dia sanggup penempatan kerja di Balige.

Dari sini...

...ke sini.

Perjalanan kami menuju Parapat memakan waktu ±2 jam. Dan di sepanjang perjalanan, lagi-lagi kita akan dimanjakan dengan kehindahan dan kesegaran landscape tempat sekitar. Saking nyamannya, hingga bikin ngantuk.





On our way to Parapat

Kami hingga di Pelabuhan Tiga Raja sekitar pukul 11.00. Saya agak heran juga ya. Dermaganya ternyata kecil banget dan lokasinya ada di pinggir pasar gitu. Saat kami sampai, sudah ada dua kapal yang bersandar. Dan jikalau kita nyeberang dari Tiga Raja ini, kita akan eksklusif diantar menuju penginapan masing-masing di Pulau Samosir—yang sebagian besar udah punya dermaga sendiri-sendiri.

Port of Tiga Raja

Kapal kami pun berangkat sekitar pukul 11.30.

Anchor weigh!

Hello Toba Lake! Dan mbak-mbak...

Hmm... agak ngga percaya juga ya, risikonya saya ada di Danau Toba! Danau vulkanik terbesar di dunia. Dan ternyata emang gede banget danaunya.


Panjangnya sendiri mencapai 100 kilometer, dengan lebar mencapai 30 kilometer, dan kedalaman mencapai lebih dari 500 meter (luasnya melebihi Singapura lho). Danau Toba masuk ke dalam wilayah tujuh kabupaten, yakni Kabupaten Simalungun, Tobasa (Toba Samosir), Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir.


Danau Toba terbentuk dari letusan Gunung Toba, sekitar 70.000 tahun silam—yang mana tercatat sebagai letusan gunung terdahsyat dalam kurun waktu 25 juta tahun terakhir. Wew..

Remajha-remajha Toba

(Kembali ke cerita) Kami sebenernya belum booking penginapan sama-sekali. Tapi, kami sanggup rekomendasi dari driver taksi kami, jikalau dia punya kenalan pengelola penginapan. Nama penginapannya Lekjon Cottage. Kami pun berhenti di dermaganya si Lekjon ini, kemudian eksklusif check-in kamar (kerana males mau cari-cari lagi). Harganya waktu itu Rp200.000,00-an/malam. Kami kemudian eksklusif diantar ke kamar, dan begitu masuk, to be honest, saya agak kecewa sih.

Lekjon Cottage

Sisi baiknya, ukuran kamar yang kami sanggup itu luas, dan yang paling oke, punya view Danau Toba yang bagus banget.

My room's frontview. Keche yha

Sisi negatifnya, yang pertama: begitu masuk kamar, saya eksklusif disambut sama bangkai kecoak dan udah di-semut-in pula. Pas saya minta sapu (maksudnya ngasih aba-aba semoga dibersihin), eh, si penjaganya malah ngasih sapunya doang. Fak. Ya berhubung saya terlalu baik (apa bego), risikonya saya sapu sendiri. But overall, kamarnya emang kurang higienis sih.

Inside

Kemudian yang kedua, katanya kami dapet kemudahan shower air panas, eh taunya, di kamar saya ngga bisa. Heft. Tapi saya udah ngga ada tenaga dan hasrat lagi buat komplain. Udah males.

Kaprikornus kesimpulannya, dengan harga yang sama, sebenernya kita sanggup dapet penginepan yang lebih baik. Dan sedikit masukan, memang lebih baik kita booking penginepan dulu sebelum hingga ke lokasi.


Well, move on, sesudah istirahat sebentar, kami eksklusif jalan-jalan keliling Samosir, pakai motor yang kami sewa dari Lekjon seharga Rp100.000,00/hari.

First impression wacana Pulau Samosir: it was so beautiful! Nggak kalah anggun sama Pulau Weh. Masih sangat asri dengan hutan-hutannya, dengan background tebing-tebing, dan juga gerojokan yang keliatan dari jauh.

So peaceful

Saya kira di sana bakal sepi banget, ternyata udah tidak mengecewakan ramai. Apalagi di tempat bersahabat dermaga, mirip Tuk-Tuk (tempat kami nginep). Udah banyak berjejeran penginepan dan resto. Banyak yang bergaya internasional, dan mungkin beberapa memang kepunyaan bule-bule yang menetap di sana. Saya denger dongeng juga, jikalau tempat Danau Toba ini bakalan di bangkit layaknya Venice, Italy. Kita tunggu saja...

Tujuan pertama kami, sebenernya, masih belum pasti. Secara Pulau Samosir itu kan luas banget dan kami cuma stay di sana semalam—apalagi waktu itu udah siang menjelang sore. Kami risikonya bergerak menuju salah satu tempat wisata populer di Samosir (yang kebetulan deket juga), yaitu Makam Raja Sidabutar, Patung Sigale-Gale, dan Museum Batak. Ketiganya terletak di satu area, yakni Desa Tomok, Kecamatan Simanindo.

Desa Wisata Tomok Parsaoran

Saya sempet kebablasan pas nyetir ke sana, soalnya papan petunjuknya ngga keliatan, dan jalan masuknya sempit banget. Kami sempet ragu juga jalannya bener atau engga, soalnya lewat pasar-pasar gitu. Kanan-kirinya dipenuhi kios-kios penjual baju, kain, dan pernak-pernik khas batak. Tapi ternyata, jalannya emang bener, dan kami ketemu sama papan nama bertuliskan “Sigale-Gale”. Thank God.

Sepi yha

Biaya tari Sigale-Gale Rp80.000/show. Kalau mau foto aja biayanya seikhlasnya

Begitu kami masuk, suasananya sepi banget. Ada patung Sigale-Gale-nya, tapi ngga ada orang sama sekali. Setelah lihat-lihat dan foto-foto sebentar, kami pun keluar. Di tengah jalan, mba Riris minta mampir di satu toko baju. Biasa ya, perempuan. Nah, pas di toko baju inilah kami gres denger ada suara-suara musik dari pertunjukan Sigale-Gale. Dan beruntungnya kami, si ibu penjaga toko mau nganter kami ke sana semoga masuknya gratis! Alhamdulillah yah.

The infamous Sigale-Gale. Akhirnya ketemu juga

Ternyata, tempat pertunjukannya ada di sisi lain dari tempat yang kami masuki tadi. Kaprikornus ada dua lokasi patung Sigale-Gale-nya. Waktu kami sampai, di sana udah ada sekelompok wisatawan sedang asyik menari bersama Sigale-Gale (saya yakin mereka yang bayar). Kaprikornus ya sudahlah kami ikut nimbrung aja, hehe..

Temen-temen udah pada tau lah ya dongeng Sigale-Gale ini. Tentang seorang raja dan anak laki-lakinya yang meninggal, kemudian dibuatkan patung mirip anaknya, dsb. Ada banyak sekali macam versi dan sanggup di-googling sendiri.  Yang jelas, prosesi Sigale-Gale ini kini tidak hanya dilaksanakan dikala upacara janjkematian saja, tapi juga sebagai pertunjukkan kekayaan budaya khas Batak. Saya masih sanggup ngerasa aura mistisnya sih (apa alasannya ialah emang penakut), apalagi jikalau ditatap lama-lama patung yang mirip insan itu, sambil menari tor-tor dengan iringan musik Gondang.. hmm...

Penasaran sama yang gerakin patungnya

Setelah menikmati pertunjukan Sigale-Gale, kami tetapkan untuk jalan lebih dalam lagi menembus kios-kios. Dan kami hingga di Museum Batak. Lagi-lagi, di sana sepi banget. Mungkin alasannya ialah lagi hari kerja juga ya. Lucky us. Museumnya sendiri berbentuk Rumah Bolon, dan jikalau masuk, kita harus menunduk sebagai tanda penghormatan (pintunya emang pendek). Di dalam museum, kita sanggup melihat-lihat koleksi peninggalan kebudayaan Batak zaman dahulu kala. Mulai dari patung-patung, alat masak, alat makan, kalender kuno, dll. Biaya masuknya Rp3.000,00 aja, dan jikalau pengen foto pakai Ulos lengkap biayanya Rp10.000,00.

The Batak Museum

Kain Ulos yang sanggup dipake foto

Inside the museum

Horas! (Mukanya ngga cocok jadi orang Batak y btw)

Sepertinya kita pernah berjumpa


Ledom insternesyenel 

Lanjut, kami jalan lagi ngga jauh dari Museum Batak, ada Makam Raja Sidabutar. Tempat ini populer banget di Samosir. Dan lagi-lagi kami beruntung. Saat kami masuk, udah ada rombongan wisatawan lain, dan kemudian ada om-om penjaga makam yang menjelaskan sejarah makam tersebut. Cerita lengkapnya sanggup temen-temen googling sendiri ya. Panjang banget ceritanya.

Pintu masuk makam

Makam Raja Sidabutar yang termahsyur

Tulang sedang menjelaskan sejarah

Pokoknya di lokasi tersebut ada makam Raja Sidabutar pertama hingga ketiga, berserta keturunan dan ajudannya, kemudian ada dongeng wacana panglima perang muslim—yang memenangkan perang alasannya ialah dia telanjang, kemudian ada dongeng cinta Anting Malela, dan masih banyak lagi. Fakta uniknya, zaman dulu, si raja pertama itu menganut keyakinan berjulukan Parmalin yang ternyata mirip dengan agama islam.

Itu patung panglima muslim yang sedang menutupi xxx

Sebelum keluar, kita diminta sumbangan seikhlasnya dan mengembalikan kain Ulos yang dikasih sebelum masuk makam tadi. Nah, satu hal lagi yang unik, di gerbang makam ini kita sanggup melihat gesekan yang populer banget di Batak, yakni gesekan “cicak dan empat payudara”. Ada yang tau artinya?


Ini dulu masuk ke pelajaran Budaya Nusantara waktu saya kuliah. Ukiran “cicak” itu berarti bahwa orang-orang Batak harus mempunyai sifat adaptif layaknya seekor cicak. Bisa hidup di mana saja dan dengan keadaan apa saja. Sementara “empat buah payudara” melambangkan kesuburan, dan diperlukan nantinya rakyat Batak tidak melupakan asal-usulnya meskipun merantau kemanapun. *cmiiw

Dari Makam Raja Sidabutar, kami melanjutkan perjalanan. Tapi ngga ngerti mau kemana. Sebenernya banyak destinasi wisatanya, cuma letaknya jauh. Apalagi udah mau sore. Kami risikonya tetapkan untuk pergi ke objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan, di desa Ambarita. Sekitar setengah jam-an naik motor dari Makam Raja Sidabutar. Biaya masuknya seikhlasnya aja. Dan di tempat ini, kita sanggup melihat rumah adat, kemudian ada rumah untuk memasung orang yang bersalah/melakukan kejahatan, dan yang paling menarik, ada Batu Kursi Persidangan.

Selamat Datang

Rumah-rumah Adat

Rumah untuk memasung

Ada yang mengintip di bawah

And the infamous Batu Persidangan

Batu Kursi Persidangan-nya ada dua, yang pertama terletak di bawah sebuah pohon besar, digunakan untuk melaksanakan persidangan. Sementara di kerikil bangku yang kedua, lokasinya tidak jauh dari yang pertama, digunakan untuk mengeksekusi/hukum penggal pelaku kejahatan berat. Konon katanya, asal-usul dongeng orang Batak makan orang (kanibal) itu dari sini lho. Kerana si terdakwa yang telah dieksekusi pancung, badannya akan dibelah, kemudian diambil jantung dan hatinya, kemudian dikonsumsi untuk menambah kesaktian. Namun, sesudah masuknya misionaris yang membuatkan agama kristen, praktik ‘kanibalisme’ terebut kini sudah tiada lagi. Setidaknya, itulah dongeng yang saya dengar dan baca.

Batu Persidangan pertama

Batu Persidangan kedua beserta goloknya

Hari sudah makin sore, dan kami ingin menutup perjalanan dengan mencari lokasi sunset yang bagus. Dari hasil googling, kami nemu satu tempat, namanya Pantai Sibolazi. Mudah-mudahan pantainya bagus. Dan kami pun memacu motor menuju lokasi tersebut, dan ternyata... jauh juga.

Itu ada gerojokan lho btw (maaf kamera hp tak berkualitas)

Kami melewati beberapa desa, hutan, bukit, tebing, dsb. Tapi senengnya, sepanjang jalan kita akan “dihibur” dengan pemandangan alam Pulau Samosir yang indah kolam lukisan. Motor-an di sana aja udah asik lho. Jalanannya sepi. Sejuk. Tapi harus tetep hati-hati juga alasannya ialah beberapa ruas jalan sedang diperbaiki. Setelah sekitar 45 menit, kami risikonya hingga Pantai Sibolazi.

Welcome to Sibolazi

Begitu masuk... gak ada orang sama sekali! Eh ada sih, ibuk-ibuk penjaga warung sama anak kecilnya yang jaga parkiran. Tapi sesudah saya bayar parkir, mereka semua pada pulang. Akhirnya tinggalah saya sama mba Riris berdua di pantai. Adew.


Ternyata pantainya biasa aja sih. Not as stunning. Tapi lingkungannya tidak mengecewakan bersih, pasirnya halus, ada area khusus berenang, dan ada sepeda air juga. Sepertinya jikalau hari libur, di situ akan ramai pengunjung dan banyak yang berenang.


Area berenang dan bebek-bebekan

Satu hal yang bikin unik, di tepi pantai itu banyak kerikil karang besar yang bentuknya bagus-bagus. Kami heran juga, darimana asal batu-batu tersebut.

Batu-batu besar di pantai

Tapi, kami ngga usang ada di sana. Ngga hingga matahari bener-bener terbenam. Soalnya jalanan di Pulau Samosir agak serem juga jikalau malam, agak minim penerangan. Jadi, kami segera kembali ke penginapan, kemudian makan malam, kemudian tidur. Dan malam itu, hujan lagi...


Keesokan harinya ialah hari terakhir kami berpetualang. So sad. Tapi keseruan masih berlanjut lho, dikala kami menempuh perjalanan panjang kembali ke Medan. Stay tune



NaraHubung:
Lekjon Cottage
Tuktuk Siadong, Samosir island, Tuktuk, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395
Telp.: 08112523654


Makam Raja Sidabutar, Museum Batak, Patung Sigale-Gale
Desa Wisata Tomok Parsaoran, Kec. Simanindo, Kab. Samosir

Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan
Huta Siallagan, Siallagan-Pindaraya, Kec. Simanindo, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395
Buka: 06.00-21.00
Telp.: 082222260098


Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Senin, 15 Mei 2017. Hari baru, semangat baru, dan siap untuk petualangan baru! Sekitar pukul 04.00 pagi, kami berangkat menuju Banda...
Ha Njo Dolan Minggu, 20 Agustus 2017