Ads

Ads
Menu
Results for "Pantai"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Pantai Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Pantai Tanjung Bira merupakan salah satu pantai yang bagus dan eksotis yang dimiliki Indonesia. Pantai ini terletak di kabupaten Bulukumba, Propinsi Sulawesi Selatan. Pantai ini mempunyai hamparan pasir putih dengan tesktur pasir yang sangat lembut dan air lautnya juga cukup jernih. Lalu dilengkapi dengan paduan panorama sekitar yang sangat menawan. Di sini kita sanggup melaksanakan acara berenang, berjemur, diving dan snorkeling. Dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama. Tidak salah kalau banyak wisatawan baik dari mancanegara maupun dalam negeri berkunjung ke pantai ini.

Saya dan teman-teman berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Pukul 10.00 WITA dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, kami dijemput dengan elf yang sudah kami booking jauh-jauh hari. Perjalanan menuju Pantai Tanjung Bira memakan waktu sekitar 4-5 jam dari kota Makassar melalui jalan darat.

Perjalanan kami dari Makassar ke Tanjung Bira ini sangat menyenangkan. Walau cukup jauh, kami semua tak merasa lelah ataupun jenuh. Setiap perjalanan itu harus dinikmati. Dan itu yang kami lakukan. Ya, kami menikmati perjalanan ini alasannya yakni di sepanjang jalan menuju Tanjung Bira, kami disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Pemandangan yang mengatakan suasana yang berbeda-beda di perjalanan ini ibarat perumahan, hamparan sawah di kiri dan kanan jalan, formasi nyiur, pinggiran pantai. Kami juga melihat tempat pembuatan bahtera rakyat (phinisi), tapi kami tidak singgah ke tempat itu. Perlu diketahui, jalanan menuju Tanjung Bira tidak begitu mulus. Jalanannya banyak lubang. Makara bagi Anda yang ingin memakai motor ke Tanjung Bira, harus hati-hati dan waspada. 

Akhirnya sesudah bergelut dengan waktu, sempurna jam 16.00 WITA sampailah kami di Tanjung Bira. Kami pun pribadi menuju guest house untuk beristirahat sejenak. Kami menginap di Salasa Guest House. Harga terjangkau bagi para Backpakers. Per kamar cukup seratus lima puluh ribu rupiah. Setelah bersih-bersih dan meregangkan otot-otot yang kaku, kami bergegas menuju Pantai Tanjung Bira siap menikmati indahnya sunset di pantai ini. Saya amati, daerah ini memang sudah terkelola dengan cukup baik, terlihat berbagai penginapan ibarat vila, bungalow, dan hotel di sepanjang jalan untuk disewakan. Tidak hanya itu saja, ada juga beberapa rumah makan maupun restoran dengan sajian masakan khas setempat. Di daerah pantai juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan para pengunjung ke Pulau Selayar.



Guest House (tempat kami menginap)
Kami menyusuri setiap sudut Pantai Tanjung Bira. Pantai dengan pasir putih yang lembut ini sangat indah dipandang mata. Dari pantai ini, kita juga sanggup melihat keindahan dua pulau yaitu Pulau Liukang dan Pulau Kambing. Tanjung Bira ketika itu cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan gila dan domestik. Ada yang berjemur, bermain sepak bola, berenang, maupun cuma berciprat-ciprat air maritim saja. Setelah menikmati sunset di pantai ini, kami pun kembali ke guest house. Walau hanya semalam di Tanjung Bira, rasa lelah kami terbayar dengan keindahan pantai ini. 


Pantai Tanjung Bira di sore hari
Melompat di Tanjung Bira
Saat menanti Sunset di Pantai Tanjung Bira
Satu hal yang saya sanggup dari pantai ini, yang bikin orang-orang di bab barat Indonesia mau jauh-jauh ke pantai ini yakni kita sanggup menikmati sunset dan sunrise dalam satu tempat sekaligus. Bayangkan, kita sanggup melihat posisi twilight dua kali kala menginap di pantai tersebut. Cahaya oranye akan menciptakan pantai ini tampak semakin seksi.


Sunset Pantai Tanjung Bira
Indahnya Sunset di Pantai Tanjung Bira
Info :
Saya sarankan untuk mengambil penerbangan dari Jakarta pagi hari (First Flight) ke Bandara Sultan Hasanuddin. Dari Bandara, Anda sanggup memakai taksi ke terminal Malengkeri. Perjalanan dilanjut dengan memakai Bus tujuan Bulukumba dan dilanjutkan dengan Angkutan Kota atau disebut juga Pete-pete menuju ke Pantai Tanjung Bira. Ingat..trasnportasi di daerah Pantai Tanjung Bira hanya beroperasi hingga sore hari saja. Jadi, harus benar-benar direncanakan perjalanan Anda untuk ke Pantai Tanjung Bira. 

Sumber http://travelafin.blogspot.com/

Pantai Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan Pantai Tanjung Bira merupakan salah satu pantai yang bagus dan eksotis yang dimiliki I...
Ha Njo Dolan Senin, 20 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata




Pulau Harapan merupakan salah satu deretan pulau yang terletak di Utara Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penduduk di pulau cita-cita sekitar kurang lebih 2.000 jiwa. Selain bermain pasir, keindahan alam bawah lautnya pun masih cukup terpelihara dengan baik.

Pintu Masuk Pulau Harapan
Tanggal 28-29 Desember 2013, saya membawa rombongan (13 org-Risty dkk.) menuju Pulau Harapan. Seperti biasa, meeting point dan berkumpul di Pom Bensin Dermaga Muara Angke. Karena saya sebagai TL-nya alias Tour Leader, jadi saya sudah datang duluan pada saat matahari belum benar-benar tampak di ufuk timur. Di sana sudah banyak kapal-kapal nelayan yang bersandar di dermaga. Ada yang mengangkut ikan, ada juga yang mengangkut penumpang menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Kapal-kapal ini terbuat dari kayu yang bisa mengangkut sekitar 100 orang untuk satu kali jalan. Tujuannya banyak sekali rute ibarat Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka, Pulau Pari, Pulau Tidung dan yang paling terakhir yaitu Pulau Harapan.

Dengan memakai kapal kayu Harapan Express, jarak yang ditempuh untuk hingga ke Pulau Harapan yaitu sekitar 3 jam dari Muara Angke. Kapal ini tidak transit di pulau lain, tetapi eksklusif menuju Pulau Harapan. Biasanya waktu tempuh bisa lebih dari 3 jam jikalau kita memakai kapal lain ibarat Dolphin alasannya yaitu kapal tersebut merapat terlebih dahulu di Pulau Pramuka atau Pulau Untung Jawa untuk menurunkan penumpang. Cuaca ketika itu sangat cerah tetapi angin yang berhembus sangatlah kencang dan ombak pun tidak mengecewakan besar. Perjalanan kali itu telah mengocok perut kami hingga mual.

Kapal Kayu Harapan Express
Salah satu Homestay di Pulau Harapan
Sesampainya di Pulau Harapan, kami disambut oleh dermaga sepanjang kurang lebih 30 meter. Jika ingin menginap, Anda bisa menentukan banyak homestay di sana. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari dermaga. Berbeda dengan pulau-pulau lain yang banyak dikunjungi wisatawan, ibarat Pulau Tidung yang populer dengan Jembatan Cinta dan Pulau Pari dengan Pantai Pasir Perawan, Pulau Harapan mempunyai istilah Hopping Island. Hopping island yaitu berkeliling ke beberapa pulau yang ada di sekitar Pulau Harapan ibarat Pulau Kelapa, Pulau Bulat, Pulau Kayu Angin Bira, Pulau Bira, dan Pulau Perak.
 
Kegiatan kami pada hari pertama yaitu snorkeling di Pulau Bira dan Pulau Putri. Ternyata, pulau-pulau ini mempunyai terumbu karang masih cukup terjaga dengan baik dan banyak ikan yang berwarna-warni juga. Maklum, Pulau Harapan terletak di garis terluar Kepulauan Seribu, cukup jauh dari polusi Jakarta. 



Spot snorkeling di sekitar Pulau Harapan
Setelah puas dengan snorkeling, kami pun melipir ke pulau-pulau lain, yaitu Pulau Perak dan Pulau Gosong. Kedua pulau ini mempunyai hamparan pasir putih dan air maritim yang jernih. Pulau Perak mempunyai luas 3,06 ha. Selain bisa menikmati indahnya Pulau Perak, Anda juga bisa melaksanakan acara ibarat bermain pasir, berenang, atau hanya sekedar ciprat-ciprat air. Anda juga bisa mendirikan tenda untuk berkemah. Namun sayang, masih banyak sampah berantakan di pulau ini ulah tangan tak bertanggung jawab.

Pulau Perak (Kep. Seribu)
Untuk Pulau Gosong, saya menyebutnya dengan “Pulau Ada dan Tiada”. Pulau ini nongol menurut keadaan cuaca. Jika air maritim sedang pasang, pulau ini hilang. Sebaliknya, jikalau air maritim sedang surut, Anda akan menemukan Pulau Gosong dengan hamparan pasir putih yang lembut. Indah alami tercuci air laut.

Pulau Gosong (Kep. Seribu)
Sehabis gosong-gosongan di Pulau Gosong, kita bisa berperahu kembali ke Pulau Harapan. Kalau waktunya tepat, kita bisa sambil menikmati sunset seiring laju bahtera sore hari. Bagaimana, puas kan kalau berkeliling di sekitaran Pulau Harapan?

Senja di Pulau Gosong (Kep. Seribu)
Menikmati Sunset seiring laju perahu
Keesokan harinya, kami melihat sunrise dari dermaga Pulau Harapan. Usai matahari nongol, sebelum berkemas pulang, masih ada waktu buat hopping island lagi. Pulau yang ditawarkan yaitu Pulau Kayu Angin Bira dan Pulau Bulat. Makara tidak perlu buru—buru atau takut ketinggalan kapal yang balik ke Muara Angke. Pulau Kayu Angin dan Pulau Bulat tidak terlalu jauh, kok. Masih bisa bermain sekejap dan hunting foto di 2 pulau itu.

Sunrise dari Dermaga Pulau Harapan
Pulau Kayu Angin (Kep.Seribu)
Risty dkk bergaya di Pulau Kayu Angin (Kep. Seribu)
Pulau Bulat (Kep. Seribu)

Tidak perlu jauh-jauh meninggalkan Jakarta untuk sekedar menikmati pantai dengan hamparan pasir putih dan air maritim yang masih biru. Selain itu, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga untuk ke Pulau Harapan. Di sini Anda bisa melepaskan beban pikiran, kesibukan dalam pekerjaan dan lari sejenak dari hiruk pikuk Kota Jakarta. Hanya dengan Rp 350.000,- (tergantung kuota), Anda bisa menginap selama 2 hari 1 malam di Pulau Harapan.

So, bagaimana, Kawan? Liburan hemat, gampang dijangkau, tidak repot, asri spot, tapi bisa me-refresh energi, Pulau Harapan jadi pilihan.

Sumber http://travelafin.blogspot.com/

Pulau Harapan merupakan salah satu deretan pulau yang terletak di Utara Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penduduk di pulau cita-cit...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Keluar dari area Sendang Biru, kita akan memasuki sebuah jalan raya yang dikenal dengan nama Jalur Lingkar Selatan (JLS). Jalan ini yummy banget! Aspalnya (masih) mulus, lebar, dan waktu itu tidak mengecewakan sepi, jadi dapat agak ngebut dikit lah. Di sepanjang jalan, kita juga akan dimanjakan dengan pemandangan alam Malang selatan yang indah dengan hamparan perbukitan kapur, vegetasi, dan sesekali bahari di kejauhan. Sekilas kayak di Sumba gitu lho.


Sekira 10 menit berkendara ke arah Pantai Goa Cina, saya melihat sebuah goresan pena di kiri jalan yang berbunyi "Pantai Teluk Asmara". Tulisannya gede banget sehingga menciptakan saya berpikir bahwa kawasan ini yakni destinasi wisata yang "besar". Padahal jujur, saya belum pernah denger namanya sama sekali. Kaprikornus karenanya saya memutuskan untuk mampir ke kawasan ini.

Teluk Asmara Beach

Di gerbang masuk, saya diharuskan membayar tiket seharga Rp10.000. Dan dari sini, kita masih perlu berkendara lagi kurang lebih 1 km, sebelum karenanya hingga di kawasan parkir. Namun, yang menciptakan saya terngangah adalah, waktu di parkiran, saya disuruh bayar parkir sebesar... Rp15.000! What the...?! Baru kali ini saya tau ada biaya parkir yang melebihi tiket masuknya! Tapi dari Rp15.000 itu, kita dikasih sebotol air mineral 600ml. Kaprikornus kayak paketan gitu. Semacam pemaksaan beli air minum ya (padahal udah bawa minum sendiri). Dan itu ngga dapat yha gaes kalo kita cuman mau bayar parkirnya, tanpa ambil airnya.

Dari parkiran, untuk ke pantainya kita masih harus jalan kaki lagi naik turun sebuah bukit. Huft. Tapi dari atas bukit ini pemandangannya juga kece lho. Dan ngga berat-berat juga kok treknya.

Dan karenanya sampailah saya di Pantai Teluk Asmara. Padahal namanya "äsmara" yha, tapi datengnya sendiri aja, heu..

Teluk Asmara Beach

Waktu itu sepi banget. Hanya ada beberapa anak muda yang lagi camping. Dan sebagai pantai selatan Jawa, ombaknya tidak mengecewakan kenceng. Kaprikornus tidak disarankan untuk berenang.

Awalnya saya kira pantainya ya cuma satu ini aja. Tapi ternyata jikalau kita bergerak ke arah timur, kita akan menemukan pantai lain. Pemandangannya lebih kece pantai yang ini sih. Dan di sini kondisinya lebih "aman" jikalau mau digunakan berenang. Waktu itu malah ada belum dewasa kecil dan keluarganya yang lagi main air. Ombak di sini ngga terlalu besar lantaran lokasi pantainya kayak "dilindungi" sama karang-karang di tengah laut.

Teluk Asmara Beach east-side

It is a beautiful beach. Apalagi kalo pas sepi, dapat jadi kawasan yang baik untuk ber-muhasabah. Dan jikalau beruntug, kita dapat ketemu sama penyu lho! Cuma mereka biasanya ke area pantai yang susah dijamah. Memang di sana ada beberapa bab pantai yang hanya dapat dikunjungi jikalau airnya surut atau kita harus naik-turun karang.

Teluk Asmara Beach east-side

Teluk Asmara Beach east-side


Puas menikmati Teluk Asmara, saya melanjutkan perjalanan, dan kali ini karenanya bener-bener ke tujuan awal yaitu Pantai Goa Cina! Jaraknya sekitar 15 menit berkendara.

Untuk tiket masuknya, dibanderol seharga Rp15.000. Lebih mahal dari Teluk Asmara ya, mungkin lantaran lebih terkenal. Sementara untuk parkirnya, ternyata masih sama! Rp15.000 plus air mineral. Kaprikornus saya udah bawa tiga botol air tuh. Heft.

So, here we are... Pantai Goa Cina.

Goa Cina Beach

Dari yang saya baca, ternyata dulu pantai ini bukan berjulukan Goa Cina, melainkan pantai Rowo Indah. Namun, pada suatu masa, ada seorang pertapa Chinese yang ditemukan meninggal di sebuah goa di bersahabat pantai dan tak meninggalkan apapun kecuali tulang-belulang dan goresan pena Cina di dinding goa. Yha itu sih berdasarkan dongeng yang beredar. Dan memang di pantai ini ada goa-nya gaes. Kaprikornus di tengah pantai itu ada sebuah bukit karang, yang di bab sisinya ada sebuah goa (yang katanya ya itu tempatnya). Sementara di atas bukitnya, kini udah dibangun beberapa bungalow yang dapat disewa pengunjung. Tapi sayangnya untuk masuk kedua kawasan ini, kita masih harus bayar lagi. Rp5.000 untuk ke goa, dan Rp10.000 untuk ke puncak bukit.

Goa Cina Beach view from top of the hill

Goa Cina Cave entrance

Goa Cina Cave

Anyway, view di Pantai Goa Cina ini memang elok sih, meskipun lagi-lagi ombaknya gede banget jadi ngga disarankan untuk berenang. Dan di sini fasilitasnya udah lengkap banget, dari kawasan makan, sewa tenda, kamar mandi, dan musholla. Cocok untuk dijadikan destinasi liburan bersama keluarga Anda.

Watch your children!

Fun at Goa Cina Beach

Nah, satu hal yang menarik jikalau kita ke Goa Cina, kita dapat sekalian mampir ke pantai lain yang berjulukan Pantai Watu Leter. Letaknya bersebelahan dengan Goa Cina. Hanya dipisahkan oleh bukit karang besar. Tapi kita dapat berjalan kaki muterin bukitnya paling cuma sekitar 10 menit. Atau jikalau lewat jalan raya dapat juga sih, tapi ya ngapain juga jauh-jauh. Dan untuk memasuki pantai ini tidak dipungut biaya lho! Tapi ada sih kayak counter tiketnya, tapi waktu saya lewat situ ngga ada yang jaga, Hmm..

Watu Leter Beach

Kirain pantainya bakal "b" aja. Tapi ternyata elok banget! Dan air di sini warnanya lebih tosca dari Goa Cina.

Awalnya agak takut juga ya soalnya sepi banget. Saya ngga ketemu orang sama sekali. Baru pas udah jalan ke tengah pantainya ada beberapa belum dewasa muda yang lagi camping. Ada juga sepasang sejoli yang lagi jalan bergandengan menelusuri garis pantai (dan kayaknya lagi nyari kawasan berduaan). Tapi yha pasti kalo wik wik di sini juga ngga bakal ketahuan, saking sepinya.

Watu Leter Beach

Pantai ini dinamakan Watu Leter lantaran ada tebing karang di tengah bahari yang permukaanya mendatar. Tapi saya ngga ngerti yang mana tebing itu. Tapi yang terperinci kawasan ini bagus banget! Kaprikornus bingung, kayaknya semua pantai yang saya kunjungi dari tadi bagus semua. Haha.

Watu Leter (?)

Puas menjelajah dua pantai ini, saya pun beranjak ke kawasan lain--yang sebenernya saya juga ngga tau mau kemana, haha. Pokonya jalan aja hingga ketemu sama pantai apa yang sekiranya menarik untuk dikunjungi. Dan karenanya saya menjatuhkan pilihan pada Pantai Ungapan. Well, sebenernya ini pantai pertama yang saya lihat sehabis Goa Cina. Oiya btw, saya berkendaranya ke arah barat ya gaes (dari Sendang Biru). Soalnya saya rencana pulangnya kan lewat Gondanglegi, ngga lewat Turen lagi. Kaprikornus saya cari pantainya yang searah pulang aja gitu. 

Ungapan Beach

Nah, untuk masuk Pantai Ungapan, kita perlu bayar tiket Rp10.000 dan parkir Rp10.000. Tapi ngga dapet air minum. Wew. Mahal juga ya. Dan waktu itu, lagi-lagi, pantainya syepi.

Dari pantai-pantai lain yang sudah saya sambangi hari itu, Pantai Ungapan ini yang paling meh sih. Biasa aja berdasarkan saya. Nama Pantai Ungapan sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti muara sungai atau pertemuan sungai dan laut. Sungainya itu yang dilewati sama Jembatan Bajulmati yang populer itu lho gaes.

Ungapan Beach

Selain menikmati pemandangan, di pantai ini juga kita bisadigunakan untuk camping maupun acara outbound. Waktu saya ke sana memang ada juga sekelompok pengunjung yang pake seragam gitu. Selain itu, kita dapat juga main bebek-bebekan, jetski, dan ATV.

Ungapan Beach

Nah, perjalanan saya hari itu berakhir di Pantai Ungapan, lantaran langit sudah semakin gelap gejala mau hujan. Sebenernya masih banyak lagi pantai yang dapat kita kunjungi dan jaraknya juga deket-deketan. Maybe next time ya. Dan kalo ke sini lagi, saya langsung akan lebih menentukan jalur Gondanglegi sih. Karena lebih inhabited alias lebih banyak rumah-rumah penduduk ketimbang jalur Turen. Kaprikornus agak lebih tidak seram kalo motoran sendirian.

Above all, yang paling saya suka dari semua pantai yang saya kunjungi hari itu adalah... semua pantainya bersih! Saya hampir tidak menemukan sampah yang berarti dan mengganggu pandangan. Itu yakni satu hal yang sangat saya apresiasi. Dan saya berharap keadaan ini dapat terus kita jaga dan pertahankan ya kawan.

Jadi, mau ke pantai mana hari ini?

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Keluar dari area Sendang Biru , kita akan memasuki sebuah jalan raya yang dikenal dengan nama Jalur Lingkar Selatan ( JLS ). Jalan ini yum...
Ha Njo Dolan Sabtu, 26 Januari 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata

HAPPY NEW YEAR, Everyone!

Wish us lots of happiness ahead...

First post di tahun 2019. Cerita pertama, perjalanan pertama. Meskipun di tengah ke-riweuh-an pergantian tahun (para bundahara niscaya tahu betapa sibuknya tutup buku dan buka buku), alhamdulillah aku masih dapat nyuri-nyuri waktu buat pelesiran. Karena kebetulan kemarin dapet kiprah 3 hari ke Malang, jadinya ya aku jalan-jalannya di sekitaran Kota Apel ini.


Yang agak berbeda kali ini, aku ngga keliling di tengah kota Malang, ataupun Batu-nya. Tapi aku pergi menjelajah ke arah selatan, ke pantai-pantai-nya yang katanya cantik-cantik lho. Sebenernya udah usang pengen main ke sana, cuma alasannya yakni jaraknya yang jauh jadi males mau berangkat. Tapi entah kenapa kemarin itu aku spontan banget tiba-tiba pengen kesana dan gres arrange segala hal (penginapan & transportasi) semalam sebelumnya.

Kerjaan aku di Malang berakhir hari Jumat sore, dan sepulang dari lokasi tersebut aku beranjak menuju penginapan yang lebih terjangkau (kerana penginapan 3 hari sebelumnya didanai kantor jadi ya hotelnya high class bin mehong gitu). Saya dapet penginapan ini dapat dibilang "sepaket" dengan sewa motor (or sebenernya aku pesen motor dulu dan ternyata mereka punya link ke homestay).

Untuk vendor sewa motor namanya Omah Motorent Malang, sementara homestay-nya berjulukan Asri Homestay (info lengkap di final tulisan). Harganya tidak mengecewakan terjangkau sih. Untuk sewa motornya Rp70.000/24 jam (dapet helm & jas hujan) dan kamarnya Rp160.000/malam. Homestay-nya nyaman sih. Bangunannya baru, bersih, dan homey. Om dan tante yang punya juga ramah banget dan sangat helpful. So I recommend you to stay there guys.

Asri Homestay

Saya berangkat dari homestay sengaja pagi-pagi banget sekitar pukul 05.30, biar ngga kesiangan sampe pantainya. Secara perjalanan ke sana berdasarkan GoogleMaps memakan waktu DUA jam! Yep. Dan sebenernya aku belum punya tujuan fix mau ke pantai-pantai mana aja di sana. Karena dari yang aku pelajari, pantai-pantai di sana itu sebelah-sebelahan. Makara untuk sementara, aku mematok satu tujuan dulu yaitu Pantai Goa Cina. Lumayan populer sih ini pantai. Dan ternyata ada dua jalur buat ke sana. Satu lewat Turen, satu lagi lewat Gondanglegi. Daripada pusing milih, aku kesudahannya nyoba dua rute ini! Berangkatnya lewat Turen, dan pulang lewat Gondanglegi. Toh durasi keduanya hampir sama.

Kalau ambil jalur Turen, kita tinggal ngikutin plang ke arah Pantai Sendang Biru, or simply follow the GMaps or Waze. Apalagi buat yang jalan sendirian alias solo trip kek saya, hehe. Pemandangan di sepanjang jalur ini cakep banget, alasannya yakni kita akan keluar masuk hutan. Tapi kalo pas jalannya sepi dan ngga ada pengendara lain ya merinding uga sih. Dan harus ekstra hati-hati ya alasannya yakni jalannya yang naik turun dan berliku, plus banyak lubang!

Singkat cerita, sampailah aku di pertigaan antara ke Pantai Sendang Biru dan Pantai Goa Cina. Hmm. Tadinya aku ngga ada niat ke Sendang Biru sih, tapi berhubung udah di deket sana, jadi ya udahlah why not mampir sebentar.

Welcome to Pantai Sendang Biru

Saya hingga di Sendang Biru sekira pukul 07.30. Sesampainya di gerbang masuk, kita diharuskan membayar tiket seharga Rp10.000. Sebenernya ditulisannya Rp11.000, tapi mungkin alasannya yakni muka melas kepandaian aku bersilat lidah, jadinya didiskon serebu.

Pantai Sendang Biru

Saya sempet ngobrol dengan penjaga di sana, soal Pulau Sempu yang kabarnya ditutup untuk umum. Ternyata, kini masih dapat dikunjungi lho! Hmm. Padahal dari yang aku baca, Pulau Sempu ini merupakan cagar alam yang semestinya tidak semua orang dapat masuk ke sana. Apalagi tahun 2017 lalu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur pernah mengeluarkan Surat Edaran khusus ihwal pelarangan acara wisata di daerah Pulau Sempu ini.

Pantai Sendang Biru

Menurut penjaga di sana, kita dapat menyewa kapal untuk menyeberang ke Pulau Sempu seharga Rp130.000/kapal pulang-pergi dengan kapasitas maksimal 10 orang. Sementara, khusus untuk pengunjung yang ingin ke Segara Anakan di dalam Pulau Sempu, kita diharuskan memakai jasa guide dengan harga "paket" Rp260.000 (kapal+guide). Bahkan, kita dapat camping di sana!

Hmm.. aku jadi bingung. Kalau memang statusnya masih cagar alam, seharusnya kita ngga boleh sembarang masuk dong. Harus pake SIMAKSI/surat izin gitu kan. Dan aku rasa, akan lebih bijak memang jikalau kita mematuhi peraturan tersebut. Tapi berhubung ternyata masih "difasilitasi" untuk masuk ke sana, jadi ya keputusan kembali ke tangan Anda. But I strongly suggest to hold your desire and obey the rule, guys. Pasti ada alasan kenapa tempat ini dijadikan cagar alam.

Pantai Sendang Biru

Anyway, aku kira di Sendang Biru ini ada pantai yang luas gitu ya. Ternyata engga. Sepertinya memang tempat ini lebih cocok dibilang sebagai pelabuhan. Ada sih, area yang berpasir gitu, tapi ya dikit. Di sini lebih banyak kapal-kapal yang bersandar. Malah ada tempat pelelangan ikan juga.

Kapal-kapal & Tempat Pelelangan Ikan

Para Pemancing

Saya ngga berlama-lama di tempat ini. Habis jeprat-jepret foto bentar, aku kemudian beranjak ke tujuan utama, yaitu Pantai Goa Cina. Dan ternyata untuk ke sana kita ngga perlu kembali ke pertigaan awal tadi. Dari dalam Pantai Sendang Biru ini, ada juga jalan ke sana. Tapi lagi-lagi, belum juga sampe ke Pantai Goa Cina, aku ter-distract buat mampir ke salah satu pantai yang lokasinya berdekatan dengan Sendang Biru.

Mau tau pantai apa? Stay tune. :)



Pantai Sendang Biru
Desa Sendangbiru, Tambakrejo, Sumbermanjing, Kab. Malang, Jawa Timur

Omah Motorent Malang
Jl. Trunojoyo 80, Malang, Jawa Timur
Telp/WA: 082233287000

Asri Homestay
Jl. Tumenggung Suryo No. 137, Klojen, Malang, Jawa Timur
Telp/WA: 082230147009



Thanks-List:
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

HAPPY NEW YEAR, Everyone! Wish us lots of happiness ahead... First post di tahun 2019. Cerita pertama, perjalanan pertama. Meskipun ...
Ha Njo Dolan Sabtu, 19 Januari 2019