Ads

Ads
Menu
Results for "WISATA BUDAYA"
Travel Agent Penyedia Info Wisata



Pendahuluan


Orang-orang Flores bukan merupakan satu suku dengan latar belakang yang sama. Demi mudahnya, ketika merantau mereka memperkenalkan diri sebagai orang Flores sebab memang mereka berasal dari Flores. 
Sebetulnya pulau Flores didiami oleh beberapa suku, di antaranya Manggarai, Ngadha, Nage Keo, Ende-Lio, Sika, Larantuka dan Lamaholot. Bila ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, orang Flores terdiri dari beberapa etnis, yaitu: etnis Manggarai - Riung (yang mencakup kelompok bahasa Manggarai,
Wanita Lamaholot dan Manggarai, dua etnis di Flores
Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen), etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio), etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang), etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah) dan etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata penggalan selatan). 
Kami akan mendeskripsikan suku-suku “asli” yang mendiami Flores itu satu-satu persatu. Mudah-mudahan sanggup membantu pembaca yang terhormat untuk memahami budaya Flores secara lebih mendalam. Kami akan memulai dari Flores penggalan barat. 



MANGGARAI – SUKU TERBESAR FLORES

Pulau Flores penggalan barat didiami orang Manggarai. Paling tidak ada dua versi terkait penamaan suku terbesar di Flores ini.

Versi pertama menyampaikan bahwa Manggarai merupakan adonan dua kata bahasa Gowa - Sulawesi Selatan, yaitu manggar, artinya sauh atau jangkar dan rai, artinya putus. Makara berdasarkan versi ini, Manggarai artinya jangkar putus. 

Penamaan ini terkait dengan kisah inovasi atau interaksi suku ini dengan orang luar. Menurut ceritera rakyat Manggarai, orang-orang Gowa berlayar ke arah selatan dan balasannya menemukan sebuah pulau yang berhutan sangat lebat dan sangat subur. Mereka berencana mendarat di tempat itu. Namun sebab hujan topan yang sangat besar, jangkar mereka putus sehingga dengan segenap kekuatan berusaha menyelamatkan diri kembali ke bahari lepas dan kembali ke temapt asal mereka - Gowa.

Kedatangan mereka disambut dengan sukacita mendalam oleh anggota keluarga. Para pelaut itu menyampaikan bahwa mereka menemukan sebuah pulau yang subur dan berhutan sangat lebat. Mereka berusaha mendarat, tetapi sebab topan besar jangkar bahtera putus dan mereka tak berhasil mendarat. 

Demi mudahnya, tempat itu mereka namakan Manggar-Rai. Kelak, tempat itu didatangi kembali dan Manggarai selanjutnya digunakan untuk menunjuk tempat itu. 



Orang Todo, pakaian adatnya berbeda dengan Manggarai lainnya
Versi kedua menyampaikan bahwa Manggarai merupakan adonan kata Manggar dan  Rai. Versi ini menyampaikan bahwa kata manggar diambil dari nama batu yang dibawa oleh Empo Masur seorang keturunan raja ( Raja Luwu ) dan merupakan cikal bakal orang Todo-Pongkor dari Sumatera Barat yang artinya watu jangkar yang biasanya digunakan untuk menahan Wangka (Perahu) ketika berlabuh. Sedangkan kata watu rai berarti batu asah yang digunakan untuk mengasah parang, tombak dan benda-benda tajam lainnya. Kedua kerikil ini merupakan dasar santunan nama Manggarai. 

Ada banyak versi yang berkembang di Manggarai wacana asal-usul mereka. Ada yang menyampaikan bahwa mereka yaitu keturunan Sumba, Bima, Bugis Luwu, Melayu Malaka atau Minangkabau. 
Orang Cibal - lihat songketnya berbeda dengan Orang Todo
Versi yang menyampaikan orang Manggarai berasal Minangkabau berkembang di wilayah Todo-Pongkor. Para tetua Todo-Pongkor menyampaikan bahwa leluhur mereka berjulukan Masur, salah seorang keturunan Raja Luwu. Kemungkinan Masur yaitu seseorang yang diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan kesultanan Goa memasuki tempat Flores barat tahun 1666. Pasukan Goa ini memasuki wilayah barat Flores dari Warloka di Pulau Komodo kemudian memasuki  pantai selatan Flores, tepatnya dari tempat Iteng – Satarmese sekarang. Dari situ mereka bergerak ke arah pedalaman dan hingga ke tempat Todo-Pongkor. Todo-Pongkor lantas dijadikan sentra kekuasaan baru. Pada mulanya kesultanan Goa itu ( di bawah perwakilan Masur ) hanya menguasai Flores Barat penggalan selatan tetapi tidak usang berselang mereka menguasai hampir seluruh tempat yang ketika ini disebut Manggarai Raya itu. 
Topi Manggarai - menyerupai kopiah: salah satu imbas Goa - Makasar
Pengaruh kesultanan Goa atas wilayah ini sangat besar. Selain harus menyetorkan upeti atau pajak ke kesultanan Goa yang diambil dari penduduk asli, Masur juga  menikahi  perempuan penduduk asli.  Itulah mengapa orang Todo-Pongkor ketika ini menyampaikan bahwa mereka berasal dari Minangkabau. 
Bila dilihat dari sisi historis, akreditasi itu tidak seluruhya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Paling tidak ada dua alasan. 

Pertama, ada perbedaan sistem kekerabatan antara suku Manggarai dengan suku Minang. Orang Manggarai menganut sistem kekerabatan patrilineal semantara orang Minang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Bagaimana mungkin orang Minang membalikkan sistem kekerabatan ini secara radikal? Kedua, yaitu apa yang dikatakan antropolog Maribert Erb. Ia menyampaikan  asal-usul orang Manggarai bukan dari Minangkabau. Karena belum ada bukti sejarah bisa memastikan bahwa orang Minangkabau pernah tiba dan menetap di tempat Flores barat tersebut. Berdasarkan penelusurannya, orang Minangkabau biasanya mendatangi suatu tempat dan menetap  daerah itu karena mendapat laba ekonomis. Pertanyaannya, untuk apa mereka tiba ke Manggarai yang ketika itu belum menandakan laba hemat bagi mereka?

Karena kedua alasan itu, mungkin lebih sempurna dikatakan bahwa orang Manggarai, terutama Todo-Pongkor, merupakan hasil perkawinan antara penduduk orisinil dengan pendatang dari Minangkabau yang memasuki Flores Barat lewat penetrasi kekuasaan kesultanan Goa dari Sulawesi Selatan. 
Secara geografis, Flores Barat ( Manggarai ) sangat 
dekat dengan P. Sumba
Hipotesa ini membawa kita pada versi yang lain. Versi ini menyampaikan bahwa orang Manggarai berasal dari Sumba. Nenek moyang orang Manggarai meninggalkan Sumba dengan bahtera dan berlayar ke arah utara dan menemukan sebuah daratan yang berhutan lebat dan subur. Mereka mendarat di dataran rendah yang luas dan subur.  Mereka tinggal di tempat itu, kemudian sebagian dari antara mereka berpindah secara nomaden memasuki pedalaman, menuju ke arah timur laut. Pada suatu mereka tiba di tempat yang ketika ini berjulukan Mano. Dari itu sebagian lagi bergerak ke arah barat dan balasannya tiba di tempat yang kini berjulukan Ruteng. 


Pinisi, kapal orang Goa mengarungi lautan hingga ke mana saja
Versi lain lagi menyampaikan bahwa nenek moyang orang Manggarai, terutama orang Cibal berasal dari Makasar. Versi ini menyampaikan bahwa orang-orang Makasar di utara Floress Barat dan bergerak menuju pedalaman dan tiba di tempat Cibal kemudian mendirikan kerajaan di tempat itu. Mereka inilah yang merupakan nenek moyang orang Cibal. Pendukung versi ini melihat kesamaan kata-kata bahasa Manggarai dengan bahasa Makasar serta bentuk rumah panggung ( mbaru ngaung ) selain kain sarung berupa songke (lipa songke, towe songke) sebagai alasan.

Namun ada catatan yang harus dikemamukakan di sini. Adanya kesamaan kata-kata itu tidak berkorelasi eksklusif dengan kesamaan suku. Karena ada juga kata-kata yang sama yang ditemukan di suku lain, contohnya suku Ngada di sebelah timur Manggarai.

Bugis
Goa/Makasar
Manggarai
Ngada
Indonesia
manuk
-
manuk
manu
ayam
lipa
Lipa
lipa/towe
lipa
kain sarung
-
Nyarang
Jarang
jara
kuda
  
Jadi, pendukung versi manapun belum bisa mengungkapkan fakta-fakta yang meyakinkan terkait asal-usul nenek moyang orang Manggarai.

Ada juga versi yang menyampaikan bahwa nenek moyang orang Manggarai berasal dari Melayu-Malaka. Hingga kini belum ada fakta yang mendukung pandangan ini. Bagi saya, mungkin versi inilah yang paling mendekati kebenaran. Saya  mengatakan hal ini berdasarkan Teori Penyebaran Manusia Modern menyerupai yang bisa pembaca lihat dalam Teori Out of Afirica dalam goresan pena ini.

Katakanlah jikalau semua versi yang beredar itu memang  benar, itu semakin menawarkan bahwa bekerjsama tidak ada satu suku Manggarai yang murni. Yang ada yaitu kelompok-kelompok pendatang yang menempati wilayah tertentu yang dalam waktu relatif panjang menyebarkan adat-istiadat dan sentra kekuasaan sendiri-sendiri serta  saling berinteraksi dalam waktu yang relatif usang sehingga menghasilkan realitas orang-orang Manggarai menyerupai yang dikenal cukup umur ini.

Dalam beberapa wawacara yang dilakukan antropolog Maribert Erb dengan beberapa tetua  Manggarai wacana asal-usul mereka sering didapati jawaban berupa dongeng atau bahasa kiasan. Satu diantaranya yaitu dongeng bahwa orang Manggarai berasal dari bambu. Menurut Maribert Erb, jawaban ini hanya mengungkapkan bahwa mereka sudah usang menetap di tempat tersebut sehingga mereka pun tidak tahu dari mana mereka berasal. Selanjutnya ia menyampaikan bahwa keaslian orang Manggarai yaitu suatu mitos. Semakin kita bertanya wacana keaslian maka kita tidak akan pernah menenukan jawabannya. Suatu keaslian selalu disertakan dengan pertanyaan wacana keasilannya. 

Peta migrasi insan modern berdasarkan teori Out of Africa
Asal-usul orang Manggarai mungkin akan lebih terperinci bila kita memakai parameter Teori Out of Africa. Teori Out of Africa ini menyampaikan bahwa seluruh ras insan modern berasal dari Africa.
Dalam dunia akademis, teori ini lebih diterima dari pada Teori Multiregional (Kontinuitas Regional). Sebuah teori lain yang  mengatakan bahwa ras-ras insan modern cukup umur ini merupakan hasil evolusi insan purba yang terjadi secara  independen atau sendiri-sendiri di banyak wilayah di bumi ini. Teori ini tidak tahan uji sebab tidak bisa menjawab dilema adanya missinglink antara insan purba dengan insan modern. 

Teori Out of Africa mendasarkan diri atas penelusuran genetik populasi insan dengan memakai biologi molekuler. Dipastikan  bahwa seluruh ras insan merupakan hasil evolusi insan modern benua Afrika (Homo sapiens) dan tidak mendapat turunan genetic  dari hominid-hominid pendahulunya menyerupai hominid Eropa (Neanderthal) maupun hominid Asia baik yang fosilnya ditemukan di Peking maupun di Jawa.

Dr. Alice Robert - salah satu pendukung Teori Out of Africa
Dalam bukunya, The Incredible Human Journey,  Dr. Alice Roberts menelusuri sejarah migrasi insan berdasarkan penemuan-penemuan tulang belulang homo sapiens dan merangkainya dalam teori perjalanan insan yang dimulai dari Afrika pada 150.000 tahun yang lalu. Dari penemuan-penemuan itu, Roberts dan para hebat lainnya membangun teori bahwa seluruh insan apapun rasnya berasal dari Afrika dan menyebar keseluruh penjuru dunia. Teori itu dibangun lewat jejak DNA dari banyak sekali ras insan di dunia dan metode menghubungkan iklim dunia pada ketika itu dengan proses migrasi  manusia. 
Dr Roberts memperkirakan bahwa ini terjadi pada 70.000 tahun yang lalu, ketika iklim bumi berubah, dan gurun Sahara menghijau hanya beberapa ratus tahun lamanya. Kesempatan ini memungkinkan sekelompok insan melintasi Afrika dan menyeberang ke jazirah Arab sebelah selatan.Dari sana kelompok itu memecahkan diri. Ada yang menuju ke timur dan ada yang menuju ke barat. 
Kelompok yang menuju ke timur, mencapai Anak Benua India melalui Timur Tengah dan mencapai Oseania melalui Indonesia . Diperkirakan 50 hingga 60 ribu tahun kemudian mereka telah hingga di Australia lebih dahulu sebelum menyebar di wilayah Asia lainnya. 
Paparan Sunda dan Sahul yang memungkinkan migrasi fauna & manusia
Pada Jaman Es, ketika permukaan air bahari lebih rendah, Indocina , Indonesia penggalan barat dan sebagian kecil Filipina menyatu membentuk Paparan Sunda yang dianggap sebagai cikal bakal negara-negara Asia ketika ini. Australia dan Pulau Papua ( New Guinea ) juga bergabung membentuk Paparan Sahul yang dipisahkan dari Paparan Sunda oleh Selat Sahul. Namun demikian beberapa kelompok insan berhasil menyeberanginya dan mencapai pulau-pulau di Oseania. 
 
Sementara itu beberapa kelompok insan juga meninggalkan Afrika menuju Eropa melalui penggalan utara Laut Merah, Asia Tengah dan Timur Jauh, tapi lebih banyak yang menuju timur ke arah Paparan Sunda sebab tertarik dengan iklim yang lebih dekat dan alam yang subur. 
Teori Out of Africa bisa membantu kita membangun sebuah hipotesa gres bahwa asal-usul Orang Manggarai
Garis Wallace & Weber,  pemisah sebaran fauna Indonesia
tidak bisa dipisahkan dari suku-suku lain di Flores. Mereka merupakan penggalan dari insan modern yang melaksanakan migrasi ke Oceania hingga Autralia menyerupai yang dikatakan Dr. Alice Robert di atas.
Hipotesa ini diperkuat oleh beberapa kemiripan fisik dan bahasa antar suku-suku di Flores menyerupai telah dikemukakan di atas, terkait adanya kesamaan suku kata antara Goa-Bugis, Manggarai dan Ngada.

Gadis-gadis Manggarai, unik sebab merupaka perpaduan antara Proto Melayu - Deutero Melayu
Selanjutnya berbedaan-perbedaan lainnya muncul sebab kenyataan historis lainnya. Tidak ada suku lain di Flores yang telah membangun interaksi yang intensif dengan orang-orang luar menyerupai orang Manggarai. Interaksi yang intensif antar orang-orang yang mendiami wilayah Manggarai dengan suku-suku yang tiba kemudian yang balasannya melahirkan versi-versi keaslian orang Manggarai menyerupai sudah diungkapkan sebelumnya.
Dalam konteks ini, Manggarai yaitu suku yang paling unik di seluruh Indonesia. Bisa jadi Manggarai yaitu semacam "garis Wallace" dan "garis weber"  dalam konteks penyebaran ras dan suku insan di Indonesia. 

Sumber: 
Dari banyak sekali sumber. 

Sumber https://pariwisata-tourisme-flores.blogspot.com

Pendahuluan Orang-orang Flores bukan merupakan satu suku dengan latar belakang yang sama. Demi mudahnya, ketika merantau mere...
Ha Njo Dolan Minggu, 19 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata



Pengaruh Luar 



Secara kultural orang Manggarai bergotong-royong sangat bermacam-macam lantaran terdiri dari sub-sub suku yang beragam. Seperti telah kami jelaskan pada kepingan pertama, keberagaman ini diakibatkan oleh lantaran interaksi yang intensif antara orang Manggarai “asli” dengan penduduk luar. Sehingga lebih sempurna kalau dikatakan orang Manggarai ialah sebuah melting pot, sebuah masyarakat homogen yang terbentuk dari heterogenitas di masa kemudian yang berubah secara perlahan menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Sejatinya, orang Manggarai “asli” tidak mengenal sistem kerajaan. Sistem itu diperkenalkan oleh suku

Keanekaragaman tenun ikat Manggarai
pendatang yang  menguasai Manggarai, mulai dari Kesultanan Bima, Kesultanan Goa sampai penjajah Belanda. 

Beberapa sumber menyampaikan bahwa sejak abad ke-11 daerah Manggarai telah menjadi rebutan antara kesultanan Bima dari Sumbawa dan Kesultanan Gowa dari Sulawesi.  Meskipun secara faktual kekuasaan abnormal ini hanya terjadi  di pesisir namun pengaruhnya merasuk sampai ke seluruh daratan Manggarai. Dewasa ini, efek itu meninggalkan jejak-jejaknya dalam bentuk struktur kekuasaan, gelar-gelar kebangsawanan dan bahasa ( kata-kata ). 

Kesultanan Bima menancapkan pengaruhnya atas orang Manggarai di wilayah selatan sampai barat daya, utamanya masyarakat Todo dan Kempo. Sementara kesultanan Goa menancapkan pengaruhnya di kepingan barat sampai utara Manggarai. Kuatnya efek itu tetap terasa sampai ketika ini, mulai dari Labuan Bajo sampai Cibal di utara pedalaman Manggarai. Sementara itu, di Reok dan Pota, dua kota kecil di pantai utara ketika Kesultanan Bima masih berjaya, ditempatkan perwakilan kesultanan  Bima. Saat ini, efek Bima  bahkan menjalar sampai Riung. Itulah sebabnya Riung, walaupun secara administratif masuk dalam wilayah pemerintahan kawasan Ngada, namun secara kultural lebih erat dengan orang Manggarai timur laut. 

Baik kesultanan Bima maupun Goa mempunyai vested interest atas  tanah Manggarai. Karena itu, taktik mereka sama. Untuk mempermudah pengontrolan, wilayah Manggarai dibagi dalam kantong-kantong kekuasaan kecil berdasarkan sub sukunya. Kantong-kantong kekuasaan itu  disebut dalu. Pada zaman kekuasaan Bima dan Goa, kawasan Manggarai dikelompokkan dalam 39 dalu. Tiap dalu terdiri dari sejumlah kawasan khusus yang disebut glarang, dan setiap glarang terdiri dari sejumlah desa.


Tiap dalu biasanya dikuasai oleh satu klen atau wau tertentu. Selanjutnya  klen atau wau itu menganggap dirinya sebagai keturunan raja atau bangsawan. Untuk mempertahankan kemurnian keturunan dan arus masuk belis, klan dalu itu mengikat dirinya dalam satu sistem korelasi perkawinan yang disebut tungku.

Serupa dengan dalu, setiap glarang biasanya juga dikuasai oleh suatu klen mayoritas yang menganggap dirinya bangsawan. Menurut sistem pemerintahan kerajaan, beberapa   glarang  berada di bawah kekuasaan dari suatu dalu. Sistem perkawinannya sama ibarat sistem perkawinan dalu.

Contoh Glarang dari Cibal di pada zaman Belanda
Namun masyarakat Manggarai tidak sama ibarat masyarakat feodal  umumnya yang menjadikan  tanah sebagai patokan sistem stratifikasinya. Pola korelasi yang bersifat piramidal hanya terkait dengan penyerahan pajak atau upeti. Glarang mengumpulkan pajak dari rakyat. Pajak itu selanjutnya diserahkan kepada dalu dan dalu akibatnya menyerahkannya kepada kesultanan. Glarang berdiri otonom terkait segala sesuatu yang bekerjasama  dengan soal-soal tanah dan hak ulayat.  
Kesultanan Bima dan Goa mempunyai efek yang sangat berpengaruh terhadap Manggarai. Pengaruh itu sudah berlangsung ratusan tahun. Sejak era ke-17, kesultanan Goa tidak hanya menguasai Manggarai kepingan selatan sampai Barat Daya tetapi seluruh Manggarai. Dengan sistem kedaluan yang dibangun, orang Manggarai diwajibkan menyetorkan upeti. Goa juga menancapkan pengaruhnya secara kultural dalam bentuk baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Sehari-hari, Kraeng juga digunakan sebagai gelar para bangsawan. Istilah ini tentunya mengingatkan kita pada gelar kebangsawanan pada suku Makasar, yaitu Kraeng atau Daeng. 

Pada tahun 1722 terjadi negosiasi antara Sultan Goa dan Bima . Sebagai hasil negosiasi itu, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Tidak terlalu usang kemudian kesultanan Bima menguasai seluruh daratan Manggarai ketika Cibal dikalahkan dalam peperangannya dengan Todo.

Kesultanan Bima bahkan memperluas pengaruhnya sampai ke Rongga dan memasuki wilayah suku Ngadha sebelum munculnya perjanjian yang dilakukan di Watu Jaji. Namun letusan gunung Tambora yang meluluhlantakkan pulau Sumbawa tahun 1815 berdampak pula pada kekuasaan Bima di Manggarai. Manggarai menjadi “daerah tak bertuan.” Keadaan ini dimanfatkan beberapa kedaluan besar untuk mengambil-alih kekuasaan itu. Terjadilah kudeta antaran kedaluan Todo dengan kedaluan Cibal. Perebutan  yang terjadi lewat peperangan itu akibatnya dimenangkan oleh kedaluan Todo.

Kedaluan Todo tidak menikmati kekuasaan itu dalam waktu lama. Belanda yang masuk dari timur, yaitu dari Ende di Flores tengah akibatnya menguasai Manggarai dalam tiga kali ekspansi, yaitu tahun 1850, 1890 dan 1905. Belanda pun meneruskan struktur manajemen kekuasaan peninggalan penguasa tardahulu.  

Walaupun efek kesultanan Bima dan Goa begitu kuat, namun secara tradisional stratifikasi masyarakat Manggarai terbagi atas 3 golongan, suatu hal yang juga ditemukan pada suku-suku lain di Flores, terutama pada masyarakat Ngada. Struktur ini pula digunakan oleh penjajah dengan sedikit modifikasi untuk menguasai Manggarai dalam waktu yang usang ibarat sudah kami paparkan di atas. Lapisan pertama disebut  orang kraeng terdiri dari  bangsawan dan orang berkuasa, lapisan kedua disebut ata lehe terdiri dari petani dan pedagang dan lapisan ketiga disebut orang budak terdiri dari para tawanan perang dan orang yang tidak bisa membayar hutang. 


Struktur Sosial Orang Manggarai

Orang Manggarai ialah masyarakat yang sangat komunal. Mereka sangat menekankan korelasi kekerabatan dan persaudaraan. Keluarga inti yang terdiri dari  bapak,  ibu dan bawah umur disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo yang  membentuk keluarga luas, berdasarkan tingkat keturunan terbagi atas dua, yaitu klan  sedang yang disebut Panga dan klen besar  yang disebut Wau.

Orang Manggarai yang menganut garis keturunan patrilineal juga mengenal beberapa sistem kekrabatan. Untuk kekerabatan yang lebih luas - Wau, orang Manggarai mengenal beberapa  bentuk kekerabatan, yaitu; turunan dari abang disebut Wae Tua, turunan dari adik disebut Wae Koe, turunan keluarga ibu disebut  Ana Rona,  turunan dari saudarai wanita disebut Ana Wina.  

Sedangkan untuk kekerabatan yang lebih sempit, yaitu pada garis keturunan tingkat dua, orang Manggarai mengenal beberapa konsep untuk menjelaskan korelasi kekerabatan itu, yaitu; Saudara pria ibu disebut  Amang,  saudari bapak disebut Inang, adik pria bapak disebut Ema Koe,  kakak pria dari bapak disebut Ema Tua, adik ibu disebut Ende Koe, abang ibu disebut Ende Tua.

Struktur compang yang sudah tidak utuh lantaran kebikan yang salah
Secara komunal orang Manggarai tinggal dalam perkampungan yang disebut compang. Hingga tahun 1970-an sebelum pemerintahan Orde Baru mengharuskan masyarakat untuk membangun rumah sehat, yaitu rumah yang dilengkapi jendela sebagai sirkulasi udara, orang-orang Manggarai, sama ibarat suku-suku Flores lainnya, hidup dalam rumah watak di compang-compang. 
Compang atau perkampungan orang Manggarai biasanya dibangun di atas bukit. Hal ini memang disengaja untuk mempertahankan diri dari serangan suku lain. 

Compang atau kampung tradisional Manggarai berbentuk bulat dengan rumah saling berhadapan. Bentuk bulat compang ini mengandung makna keutuhan atau kebulatan; bahwa warga kampung itu merupakan suatu kebulatan atau kesatuan yang utuh. Secara umum, compang terdiri atas tiga bagian, yaitu; pa’ang (bagian depan – merupakan gerbang kampung), ngandu (pusat di mana ditanami pohon dadap atau pohon beringin dan  altar pemujaan nenek moyang yang dibentuk dari tumpukan kerikil yang di atasnya terdapat kerikil datar sebagai tempat sesaji untuk arwah nenek moyang), dan ngaung atau musi (bagian belakang kampung).


Mbaru gendang - sebuah bangunan beratap kerucut yang 
hampir menyentuh tanah
Rumah watak orang Manggarai disebut Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Mbaru Gendang atau mbaru tembong merupakan rumah watak pertama. Bila anggotanya semakin bertambah banyak, berdasarkan kesepakatan adat, dibentuk mbaru niang sebagai turunan dari mbaru gendang itu. 

Secara umum, Mbaru Gendang ialah sebuah rumah dengan atap seperti kerucut yang menerus hingga  mendekati tanah. Materialnya terdiri dari kayu sebagai kerangka rumah yang disatukan yang dengan tali enau. Bahan atapnya diambil dari alang-alang atau daum rumbia.

Compang Wae Rebo - sebuah copang khas Manggarai yang masih utuh
Dewasa ini hampir tidak ada lagi compang yang utuh. Compang tradisional yang masih ada ibarat compang Ru’I di Sano Nggoang, compang  Balo di Kuwus dan Pacar Pu’u di Macang Pacar,  Compang Ruteng Pu’u di kota Ruteng, Compang Wae Rebo, Compang Cibal, Compang Mano dan Compang Pacar Pu’u ataupun di tempat-tempat lainnya bukan lagi merupakan compang utuh ibarat yang seharusnya.


Mungkin sudah waktunya compang-compang yang ada itu merevitalisasikan dirinya lantaran hal itu bukan sekedar romantisasi masa kemudian tetapi terkait dengan eksistensi orang Manggarai sendiri. Identitas orang Manggarai bukan hanya terkait dengan pengetahuan wacana siapa dirinya dan dari mana asal-usulnya tetapi juga dengan segala artibut yang melengkapinya. Hanya dengan cara ibarat itu, Manggarai yang kaya akan potensi pariwisata sanggup menjadi pemain utama di tanahnya sendiri. 

Sumber: Dari banyak sekali sumber.

Sumber https://pariwisata-tourisme-flores.blogspot.com

Pengaruh Luar  Secara kultural orang Manggarai bergotong-royong sangat bermacam-macam lantaran terdiri dari sub-sub suku ...
Ha Njo Dolan