Ads

Ads
Menu
Results for "Yogyakarta"
Travel Agent Penyedia Info Wisata


Cari Hotel di Yogyakarta klik disini

Datanglah ke Malioboro Yogyakarta, Kamu sanggup mendapat keramahtamahan penduduknya yangg sungguh menyenangkan. Salah satu daya tarik Kota Djogja tercermin di sepanjang Jalan Malioboro. 

Di area ini, warga lokal & para wisatawan dari semua penjuru bercampur jadi satu dalam menjalankan banyak kegiatan menarik di sana, menyajikan tontonan yang serasi & penuh damai. 
Yogyakarta yang berjuluk Kota Gudeg memang lah menaruh sejuta keindahan di mana seolah sanggup menghadirkan daya magis bagi wisatawan untuk tiba kembali mengunjunginya. Kerinduan terhadap suasana kota yang menyajikan nuansa hening membuat tempat Malioboro jadi salah satu tujuan paling diminati di Indonesia. 

Ngomong-ngomong berkaitan nuansa tradisi Jawa yang kental, Malioboro Yogyakarta yaitu salah satunya. Kearifan budaya lokal di tengah hingar bingar zaman digital ialah pengalaman unik selagi mejelajahi keindahan budaya Jawa yang konsisten dipertahankan hingga kini di tempat ini. 

Kalau Kamu pergi ke Yogyakarta & cuma mendatangi Pantai Parangtritis atau Candi Prambanan saja, itu belumlah kumplit jikalau Kamu belum singgah di Malioboro. Kawasan Malioboro membentang sepanjang 2,5 kilo meter dari Jalan Tugu hingga Kantor Pos Pusat Yogyakarta. Kawasan ini selalu ramai dengan turis dan pedagang tiap-tiap harinya. Jalan Malioboro pun terbilang teramat dekat dari Keraton Kesultanan Yogyakarta. 

Histori Jalan Malioboro Yogyakarta 

Tidak Ada yang menduga bila jalanan yang dulu sepi dengan sederet pohon asam yang rindang itu kini sudah bermetamorfosis jadi area wisata paling dicari oleh turis lokal ataupun asing. Jalan Malioboro Yogyakarta dahulu hanyalah suatu jalan biasa yang digunakan masyarakat setempat menuju keraton, atau ke Pasar Beringharjo & ke Benteng Vredeburg. 

Nama Malioboro konon katanya berasal dari 2 versi yang berlainan. Yang mula-mula, nama Malioboro dikutip dari bahasa Sansekerta, yang artinya “Karangan Bunga”. Nama ini sengaja diciptakan dikarenakan ketika itu di sepanjang jalan ini penuh karangan bunga ketika ada kegiatan atau hajatan di keraton. Yang ke-2, konon nama Malioboro diambil dari nama seseorang aristokrat dari Inggris, Marlborough, yang tinggal di Yogyakarta dari th 1881 – 1916. 

Terlepas dongeng mana yang paling benar, Malioboro ketika ini sudah berubah jadi suatu daerah wisata yang menarik perhatian setiap orang yang tiba ke kota Yogyakarta. Area ini pun menjadi salah satu sentral buah tangan khas Jogjakarta yang layak Kamu jenguk. Di sepanjang Jalan Malioboro, Kamu bakal menjumpai aneka jenis souvenir, mulai dari batik Jogjakarta, kaos, kerajinan tangan, blangkon, & bakpia Pathok, juga Yangko sebagai jajanan khas Yogyakarta. 

Kuliner di Malioboro Yogyakarta 

Kalau Kamu sedang mencari masakan Jogjakarta, di Malioboro Kamu sanggup menemukan beraneka menu-menu istimewa yang ditawarkan Kota Gudeg tersebut. Menu-menu sederhana yang memiliki citarasa nikmat niscaya membangkitkan selera untuk sekedar bersantap siang maupun makan malam. 

Hidangan nasi Gudeg telah niscaya jadi pilihan penting karena sajian ini seolah jadi sajian wajib yg mesti dinikmati sewaktu berada di Djogja. Di sepanjang jalan Malioboro, Kamu sanggup juga menikmati es dawet gula merah minus pewarna yang berpadu dgn santan kelapa kental & gurih. Dgn sesekali diselingi alunan nada merdu para pengamen, pengalaman masakan di sana sanggup menampilkan suasana Jogjakarta yg sejatinya hening & bersahabat. 

Di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta, Kamu sanggup menjumpai sederet tukang becak yg siap mengantarkan Kamu ke lokasi-lokasi pusat buah tangan Djogja. Dgn anggaran yg relatif terjangkau, para tukang becak ini bakal menawari paket keliling ke bermacam macam area kerajinan atau pusat souvenir atau serta jajanan Bakpia Pathok yg legendaris. Utk pengalaman berkeliling yg lebih seru, Kamu kemungkinan tertarik utk menaiki delman. 

Ketika memasuki malam hari, Kamu bakal disuguhi alunan gamelan Jawa yg dimainkan oleh grup seniman Yogyakarta komplit bersama budaya lesehan & angkringan, yg mana aspek ini sudah menjadi ciri khas dari Kota Pelajar tersebut. 

Spot Menarik Yang Lainnya


Tidak Cuma buah tangan & Keraton Yogyakarta, dijalan Malioboro terdapat suatu benteng yg berjulukan Benteng Vredeburg. Benteng ini berfungsi sbg museum & serta yaitu spot wisata menarik di tempat Malioboro Djogja. Kamu bakal menjumpai sebanyak benda peninggalan bersejarah pada jaman usaha lalu. Serta terdapat tempat khusus utk pemutaran film usaha dan diorama yg menggambarkan keadaan Indonesia, khususnya Yogyakarta di periode penjajahan dahulu. 

Benteng Vredeburg terbuka utk umum tiap-tiap hri Selasa – Jumat dari pukul 8 pagi hingga 4 sore & tiap-tiap Sabtu – Minggu semenjak dari pukul 8 pagi – 5 sore. Diluar itu, dijalan Malioboro Yogyakarta juga terdapat Pasar Beringharjo sebagai pasar tradisional sekaligus tujuan wisata belanja di Djogja yg ternama. Di pasar ini, Kamu sanggup menemukan bermacam macam kategori batik dalam aneka motif, accessories, jajanan tradisional, kerajinan tangan, hingga bahan-bahan tradisional utk meramu jamu. 

Pasar Beringharjo dahulu kala dipenuhi pohon beringin yang rindang, yg oleh kesannya itu maka disebut sbg Beringharjo. “Bering” artinya Beringin, & “Harjo” artinya sejahtera. Di periode lampau, pasar Beringharjo ini pusat poros gerakan ekonomi yg membawa kesejahteraan semua penduduk Yogyakarta. 

Di kira kira tempat wisata Malioboro Yogyakarta, terdapat juga satu daerah berjulukan Ketandan. Suatu daerah Pecinan di Yogyakarta. Wujud eksistensi etnis Tionghoa di Jogjakarta ini terwujud lewat pagelaran Budaya Tionghoa Yogyakarta & bab dari perayaan hri raya Imlek yg diselenggarakan tiap thn. Pagelaran yg berjalan biasanya berisi aneka kegiatan bazaar kuliner, lomba nyanyi lagu Mandarin, karnaval Barongsai, & festival budaya. 

Hotel di Malioboro Yogyakarta 

Destinasi wisata Malioboro Jogjakarta ialah salah satu yg terkenal & lokasinya berada di pusat kota Jogjakarta. Oleh alasannya itu, Kamu sanggup menjumpai teramat simpel aneka penginapan atau hotel dekat Malioboro Djogja. Sekian Banyak hotel di Malioboro yg ternama serta penginapan yang lain di kalangan pelancong, di antaranya Melia Purosani Hotel Yogyakarta, Hotel Mutiara, Jambuluwuk Malioboro Boutique Hotel, & Whiz Hotel Yogyakarta. 

Kamu sanggup mencari hotel atau penginapan dekat Malioboro dengan cara online guna mengecek ketersediaan kamar. Salah satu online booking yg terkenal ialah AGODA. 

Jalur Perjalanan ke Malioboro Yogyakarta 

Utk menuju Jalan Malioboro Yogyakarta, Kamu sanggup tiba dgn simpel sekali dikarenakan lokasinya yg berada di jantung kota Yogyakarta. Dari stasiun Tugu Yogyakarta, Kamu cuma perlu 5 menit saja berjalan kaki untuk tiba di sini. Kalau dari Bandara Adisucipto, perjalanan ke Malioboro cuma membutuhkan waktu 15-25 menit menggunakan transportasi eksklusif atau 20 – 45 menit menggunakan taksi atau bis trans Jogja.


Sumber http://backpackercantik.blogspot.com

Cari Hotel di Yogyakarta klik disini Datanglah ke Malioboro Yogyakarta, Kamu sanggup mendapat keramahtamahan penduduknya yangg sung...
Ha Njo Dolan Selasa, 21 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata


Eksistensi pantai Pok Tunggal Gunungkidul memperlihatkan alternative salah satu keindahan panorama bahari dari beberapa wisata pantai di Gunungkidul, menyerupai Pantai Indrayanti, Pantai Baron, & Pantai Jogan. 

Ibaratnya pantai Jogan indentik dgn air terjunnya yang ajaib, sehingga Pantai Pok Tunggal yaitu wisata pantai yang ikonik dimana ada satu batang pohon Duras yang tumbuh rindang harmonis di bibir pantai & jadi ikon Pantai Pok Tunggal tersebut. 

Daya pikat keindahan puluhan pantai yg membentang sepanjang pesisir Gunungkidul Yogyakarta seolah jadi nirwana tersembunyi di balik formasi perbukitan kapur yg sejauh ini identik dengan daerah Gunungkidul. 

Perjalanan dari sentra kota Yogyakarta ke Pantai Pok Tunggal Gunungkidul terbilang tidak mengecewakan mendebarkan, terutama sehabis melintasi Kota Wonosari menuju daerah pantai. 

Di 2 km terakhir menjelang area pantai, jalanan tidak mengecewakan susah, sempit, banyak belokan, bahkan condong terjal. Sesekali adrenalin bakal terpompa disaat melewati jalanan menikung tajam bersama bongkahan karang gede menjorok sempurna diatas kepala. Sungguh pemandangan yg nampak masihlah amat alami. 

Mitos Pohon Duras di Pantai Pok Tunggal 

Kamu memang akan melewati perjalanan panjang yg agak melelahkan biar datang di Pantai Pok Tunggal ini. Tapi ketahuilah bahwa rasa penat & lelah seolah terbayar tuntas dgn keindahan pemandangan sejauh mata memandang horizon di tempat wisata Gunungkidul yg satu ini. 

Luasnya hamparan pasir putih yg sesekali disapu ombak biru menghempas pelan menyerupai obat rasa lelah yg ampuh yg setelah itu mengajak kita larut dalam suasana yg demikian damai. Jauhnya jarak tempuh, jalanan yg terjal & berbelok-belok seketika bakal terlupakan & dalam sekejap berganti dengan keceriaan di hati selama menikmati pemandangan pantai. 

Pas di pinggir pantai bangun kokoh sebatang pohon Duras yg seterusnya jadi ikon wisata Pantai Pok Tunggal Gunungkidul ini. Inilah satu-satunya pohon (pohon tunggal) yg konon memberi pandangan gres dukungan nama pantai ini jadi Pok Tunggal, yg artinya “Pohon Tunggal”. Pohon Duras terbilang rimbun, tetapi berdasarkan warga setempat konon pohon ini susah sekali tumbuh. 

Oleh alasannya yaitu itu kala pohon tumbuh subur, sehingga keberadaannya amat sangat dijaga oleh warga lokal. Kesuburan pohon Duras tersebut diakui jadi lambang kemakmuran warga setempat. Maka ketika Kamu tak boleh coba-coba memanjat pohon tersebut alasannya yaitu tentu akan menerima teguran keras dari masyarakat sekitar yg mengawasinya. 

Tebing Tinggi di Pantai Pok Tunggal Gunungkidul 
Magnet Pantai Pok Tunggal Gunungkidul sesungguhnya lebih terletak terhadap tebing-tebing tinggi yg berbaris sejajar & kelihatan kokoh membentengi pantai dari dunia luar. Tebing yg bangun tegak lurus bersama ketinggian mencapai 50 meter ini bahu-membahu berpotensi buat dikembangkan jadi ajang panjat tebing. 

Di antara tebing-tebing yg menyebar di sekeliling Pantai Pok Tunggal, Kamu masih sanggup menjumpai beraneka ragam primata liar yg hidup di sana. Sekian Banyak di antaranya ialah sekelompok monyet liar yg sesekali kelihatan melompat di antara tebing di arah timur pantai tersebut. 

Di Pantai Pok Tunggal pula terdapat satu buah mata air tawar. Mata air ini sanggup jadi bersumber dari aliran sungai bawah tanah yg benar-benar jadi ciri khas tempat bukit kapur. Mata air ini seterusnya dipakai penduduk setempat utk memenuhi keperluan sehari-hari, khususnya yg memiliki warung makan di lokasi pantai juga buat kepentingan kamar mandi umum sebagai hasil swadaya warga lokal. 

Sunset di Pantai Pok Tunggal Gunungkidul 

Inilah momen yg paling dicari oleh banyak pelancong, yaitu sunset di Pantai Pok Tunggal Gunungkidul. Suatu hal  yg terasa kurang jikalau Kamu melewatkan momen menikmati matahari terbenam di pantai Jogjakarta yg satu ini. 

Tidak Hanya itu, di tempat pantai pas juga dijadikan area utk camping atau berkemah. Aspek ini rasanya bakal jadi pengalaman berkesan dgn menghabiskan tengah malam di tenda sambil menikmati sapuan angin tengah malam yg diselingi deburan ombak. Bahkan, ada pula persewaan tenda dome yg disediakan masyarakat lokal bagi Kamu yg memang mau bermalam di tempat Pantai Pok Tunggal ini. 

Bila Kamu bermaksud utk pulang selepas menikmati sunset di sana, sehingga Kamu mesti ekstra hati-hati alasannya yaitu jalanan yg mesti dilalui sungguh amat kurang lampu penerangan. Jalanan sempit, terjal, berkelok-kelok, & berbatu merupakan ancaman yg mesti Kamu hadapi. 

Pantai Pok Tunggal Gunungkidul bahu-membahu merupakan objek wisata pantai yg masihlah bakal dikembangkan lagi menjadi satu tujuan wisata yg populer mengingat keindahan panoramanya yg menarik. Beberapa elemen mendasar perlu dihadirkan dgn tambah baik, misalnya pelengkap lampu penerangan, penginapan, atau restoran. Pantai yg terletak di posisi antara Pantai Indrayanti & Pantai Siung ini yaitu salah satu dari jajaran wisata pantai di Gunungkidul yg memperlihatkan sejuta daya pikat bagi siapapun yg mengunjunginya. 

Hotel di Pantai Pok Tunggal Gunungkidul 

Kamu akan mencari hotel atau penginapan yg bersahabat Pantai Pok Tunggal Gunungkidul dengan cara online guna memilih ketersediaan kamar. Salah satu online booking yg populer yaitu AGODA. 

Rute Perjalanan ke Pantai Pok Tunggal 

Pantai Pok Tunggal Gunungkidul terletak di Kecamatan Tepus. Kamu butuh waktu perjalanan kira kira 2.5 jam dari sentra kota Yogyakarta utk datang di area pantai ini. 
Berikut ini rute trayek perjalanan ke tempat tersebut dari sentra kota Yogyakarta : 
Yogyakarta >> Imogiri >> Panggang >> Jln. Saptosari >> Tepus >> (ikuti arah ke Pantai Baron) >> Sebelum pertigaan Pantai Baron belok kiri arah Pantai Indrayanti >> Hingga pertigaan Kawasan Pantai Indrayanti belok kiri (ikuti jalan beraspal) >> Pos Retribusi >> perhatikan papan nama & tata cara arah “PANTAI POK TUNGGAL” >> ikuti jalan Cor Blok (jalan batu) >> Pantai Pok Tunggal (tonton Pohon Duras segi kanan jalan masuk)


Sumber http://backpackercantik.blogspot.com

Eksistensi pantai Pok Tunggal Gunungkidul memperlihatkan alternative salah satu keindahan panorama bahari dari beberapa wisata pantai d...
Ha Njo Dolan
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta, -Telaga Putri merupakan sebuah telaga alam yang terletak di lereng Gunung Merapi. Telaga ini memperlihatkan keindahan alam yang mempesona dengan aneka macam akomodasi wisata didalamnya. Lokasi Telaga Putri berada di daerah wisata Kaliurang. Tepatnya berada di Desa Hargobinangun Kecamatan. Pakem, Kabupaten. Sleman, Yogyakarta. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah sulit alasannya yaitu kondisi jalan menuju kesana mulus dan kondisinya tidak terlalu menanjak.

Tempat wisata Telaga Putri bukanlah sebuah telaga besar dan luas. Telaga ini sanggup dibilang relatif kecil, tapi walaupun begitu tidak mengurangi keindahan yang ditawarkan oleh telaga ini.Telaga putri sendiri sesungguhnya hanyalah sebuah danau kecil yang difungsikan sebagai bak pemandian. Di bak pemandian alami ini para pengunjung akan mencicipi sensasi mandi di tengah kondisi cuek nya air khas pegunungan. Tempatnya juga tertutup sehingga pengunjung tidak akan merasa khawatir dengan persoalan privasi.

 Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta

Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta




Perpaduan antara wisata alam dan wisata air menciptakan daerah Telaga Putri menjadi sangat menarik. Pemandangan alam yang disajikan di daerah Telaga Putri sangat mempesona, hijau, asri dan sangat tenang. Disini para pengunjung sanggup mencoba aneka macam wahana air di sebuah danau buatan seperti; kano dan bahtera angsa yang sanggup disewa oleh para pengunjung. Terkadang para pengunjung salah menganggap kalau danau buatan inilah Telaga Putri. Selain wahana air di tempat ini juga memperlihatkan permainan menyerupai flying fox dengan panjang lintasan sekitar 25 hingga 30 meter dengan standar keamanan yang terjamin. Tak sedikit belum dewasa yang mencoba wahana flying fox ini. Disini juga terdapat taman bermain yang menyajikan bermacam-macam permainan menyerupai bianglala, jungkat jungkit, ayunan, mandi bola dan aneka macam permainan lainnya. Semua wahana permainan ini sanggup dinikmati oleh semua anggota keluarga dan harga tiketnya pun sanggup dibilang relatif terjangkau.

Bagi pengunjung yang ingin bersantai, pengunjung sanggup duduk di tepi danau sambil menikmati keindahan alam pegunungan yang mempesona. Anda juga sanggup berfoto-foto sambil mengabadikan keindahan alam yang ada di tempat ini. Di tempat ini juga terdapat gerombolan kera yang sering menampakkan diri dan tidak merasa terganggu dengan acara para pengunjung. Makara jangan kaget kalau anda tiba-tiba melihat seekor kera di bersahabat anda. Monyet-monyet ini tidak akan mengganggu kecuali kalau anda usil untuk mengganggunya.

Pada hari libur, daerah tempat wisata Telaga Putri sering mengadakan pentas seni. Berbagai cara diadakan seperti: panggung hiburan, wayang, dan aneka macam pertunjukan tradisonal menyerupai jathilan. Jathilan merupakan kesenian tradisonal berbentuk tarian. Biasanya jathilan akan di bawakan oleh penari pria berjumlah 5 hingga 6 orang dengan memakai kostum dengan warna mencolok dan hiasan kaki yang penuh lonceng yang akan berbunyi gemercik disetiap langkah tarian sehingga menciptakan suasana Telaga Putri menjadi semakin meriah. Makara kalau anda ingin berkunjung ke Telaga Putri lebih baik di hari ahad saja semoga anda sanggup menyaksikan kemeriahan suasana Telaga Putri.

Satu lagi telaga yang terdapat di daerah Kaliurang, yaitu Telaga Muncar. Telaga ini tertelak dibawah air terjun. Untuk masuk ke daerah ini anda akan di pungut biaya yang murah. Disini anda sanggup bersantai sambil berfoto-foto sambil melihat aktifitas monyet-monyet yang terkadang meminta makan kepada pengunjung.

Baca :
Wisata Kaliurang di Sleman Yogyakarta
12 Tempat Wisata di Kabupaten Sleman Yogyakarta Pilihan

Demikian tadi yaitu Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta. Semoga sanggup menambah wawasan anda terhadap tempat wisata Kaliurang Yogyakarta
Sumber http://tempatwisatadaerah.blogspot.com

Tempat Wisata Telaga Putri Kaliurang Sleman Yogyakarta, -Telaga Putri merupakan sebuah telaga alam yang terletak di lereng Gunung Merapi. T...
Ha Njo Dolan Kamis, 16 Mei 2019
Travel Agent Penyedia Info Wisata



Sudah berkali-kali ke DI Yogyakarta sejak kecil, saya belum juga bosan dengan provinsi ini. selalu ada saja hal gres bagi saya, yang menarik untuk dicoba, dilihat, atau dicicipi. Di bulan Juli lalu, saya dan Diyan ke Yogyakarta dengan tujuan utama menghadiri resepsi ijab kabul teman.

Tapi tentunya lebih banyak jalan-jalannya, dong!

Di sini saya akan dongeng wacana salah satu saja acara kami di Yogyakarta waktu itu.

***

Dimulai dengan niat berangkat jam 5 pagi, kami molor jadi berangkat jam 5.10. Lumayanlah, ya, cuma telat 10 menit. Untuk standar Indonesia, itu nggak telat!

Jadi, ngapain berangkat pagi-pagi amat?

MAU MAIN SANDBOARDING DI GUMUK PASIR PARANGKUSUMO!

Horeee!

Kegiatan ini sudah beken mungkin semenjak 1-2 tahun yang lalu. Beberapa sahabat saya juga sudah mencobanya. Akhirnya saya pun punya kesempatan mencoba!

Dengan motor sewaan, kami meluncur hampir satu jam lamanya dari penginapan di Alun-Alun Selatan ke arah Parangtritis. Gumuk Pasir Parangkusumo berada di kanan jalan, melewati belokan di sisi kiri yang menuju Pantai Parangkusumo.

Sampai di sana, hari sudah terang. Pemandangan sunrise biasa saja, tapi video timelapse yang dibentuk Diyan asyik juga (bisa dilihat di Instagram StockShot.ID.)






Sepagi itu, belum ada papan seluncur yang disewakan. Tapi bapak yang menjaga parkiran bilang, bahwa ia dapat mengambilkan papan untuk kami sewa. “Seratus ribu aja buat seharian,” katanya. Wah, lebih mahal daripada gosip yang saya baca di blog Fahmi sebelumnya, cuma Rp75.000 (dia sewa 2 papan, jadi 150.000).

Kami tidak eksklusif mengiyakan, alasannya ialah kok rasanya mahal amat. Waktu yang kami punya maksimal sejam, masa’ mesti menyewa semahal itu? 




Tapi sehabis bosan memotret pasir kanan kiri depan belakang atas bawah, risikonya kami putuskan untuk menyewa papan. Lagipula, sudah jauh-jauh, disengaja naik motor nyubuh, masa’ kami nggak sandboarding? Satu papan untuk digunakan bergantian, okelah, nggak mahal amat.

Dan ternyata, keputusan menyewa papan untuk main sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo itu sangat sempurna adanya! Kenapa? Karena saya dan Diyan sangat menyukai olahraga ini.

Olahraga?

Yap. Baca terus, deh. Nanti kau akan mengerti.





Saya bergiliran pertama mencoba sandboarding. “Aku duduk aja! Nggak berani berdiri!” Yah, saya memang payah dalam hal meluncur, meloncat, atau main apapun yang sifatnya menjatuhkan diri. Jadi, meluncur sambil duduk di papan saja sudah prestasi buat saya.

Si Mas, yang mengantarkan papan pada kami, mengajari saya cara duduk di papan. Ke mana saya harus berpegangan, posisi duduk di papan, dan, “Tangannya jangan dilepas, biar nggak jatuh.” Kemudian ia menggosokkan lilin – lilin yang biasa digunakan waktu mati lampu – ke sisi bawah papan luncur. Tujunnya supaya papan licin, nggak kesat saat bergesekan dengan pasir.

Sambil meluncur, tentunya saya berteriak menahan takut, tapi lebih banyak girangnya. Macam anak kecil yang sedang main perosotan di taman, kemudian disambung dengan ayunan yang diayun tinggi-tinggi, kira-kira begitulah girangnya.

Naik ke atas bukit lagi memang agak PR. Pasir empuk dan ambyar begitu agak susah dipanjat. Naik 1 langkah, turunnya 2 langkah. Nah, di situlah letak olahraganya sandboarding; saat mesti manjat naik ke bukit! Lumayan lho, hingga di atas ngos-ngosan menyerupai habis lari keliling lapangan bola!




Lihat versi plotagraph-nya di sini. 





Lalu giliran Diyan mencoba. Dia berdiri! Gayanya macam pro, meluncur sambil bangkit di papan, berusaha menjaga keseimbangan. Luncuran pertama, great success! Luncuran berikutnya ia terjatuh sebelum hingga bawah. Tentunya saya ketawain dong, sebagai istri yang baik.

Tenang aja, bukit pasirnya empuk, kok. Saya pun sempat beberapa kali menggelinding dari papan saat hampir hingga bawah. Nggak sakit, cuma mesti hati-hati aja supaya pasir nggak masuk ke mata atau mulut. Malah jikalau sandboarding tanpa berjatuh-jatuhan, bakal kurang seru!












Setelah naik turun bukit pasir demi meluncur lagi dan lagi, kami belum puas juga. Rasanya masih ingin meluncur lagi, tapi sayangnya waktu sudah tak mengizinkan. Resepsi ijab kabul sahabat kami diadakan di siang hari itu juga. Maka, jam 8.30 kami eksklusif tancap gas – tentunya sehabis membayar sewa papan – kembali ke penginapan. Niat untuk ke salon dulu sebelum ke resepsi pun buyar, tak ada waktu lagi.

Gumuk Pasir Parangkusumo, saya akan kembali, suatu hari, entah kapan. Semoga pasirmu masih asyik untuk main sandboarding!





Sudah berkali-kali ke DI Yogyakarta sejak kecil, saya belum juga bosan dengan provinsi ini. selalu ada saja hal gres bagi saya, yang ...
Ha Njo Dolan Kamis, 15 Februari 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Hari terakhir di Yogya...

Tadinya pengen main-main ke pantai atau ikut Merapi Lava Tour, tapi kok ya mager banget yak. Langit juga masih mendung. Sewaktu-waktu sanggup turun hujan dan saya tak ingin insiden malam pertama itu terulang kembali. Sudah cukup saya berbasah-basah ria. Terlebih, saya ngga bawa baju lagi. Walhasil, saya tetapkan untuk keliling kota Yogyakarta saja.

And here where the story continues...



Jumat, 1 Desember 2017

Btw pemirsa, hari itu saya pindah hotel ke kawasan deket Stasiun Lempuyangan, lantaran besok Sabtunya saya balik naik kereta pukul 07.00 pagi dan masih harus balikin motor yang lokasi markasnya ada di sekitar stasiun. Nama hotel kedua saya Hotel Kalingga (Kalingga Inn) yang saya pesan lewat reservasi.com seharga seratus ribuan. Lupa pastinya.

Jadi, sesudah check out dari Hotel Metro, saya meluncur menuju destinasi pertama, yang telah saya pilih-pilih dari sekian banyak pilihan (?) dan pilihan tersebut hasilnya jatuh kepada... Taman Sari. Heheh. Sungguh mainstream ya. Tapi ya emang belum pernah kesana sih. Jadi, kenapa engga kan?
Berhubung belum sanggup check in di hotel kedua dan semoga ngga bolak-balik juga, saya tetapkan untuk jalan-jalan sambil menggembol tas yang berisi semua bawaan saya, just like day one. Berat? Jangan ditanya. Legrek say.

Singkat cerita, berbekal panduan GoogleMaps, sampailah saya di parkiran Taman Sari, di erat Pasar Ngasem. Tapi tunggu deh, ini istananya sebelah mana sih yak? Di sekitar situ, tak tampak pun ada bangunan-bangunan besar, atau bangunan-bangunan bau tanah Taman Sari menyerupai yang saya lihat di internet.

Ternyata gaes, kita masih harus jalan kaki lagi. Agak mblusuk-mblusuk, melewati plasa di Pasar Ngasem, masuk ke perkampungan, hingga hasilnya sampailah kita di suatu reruntuhan bangunan.
Saya tahu ini bab dari kompleks Taman Sari, lantaran banyak remaja-remaja tanggung yang asyik berkerumun dan berfoto ria di sana. Tapi ada yang aneh, masak iya ngga ada yang jual tiket masuk? 

Akhirnya saya jalan lagi, lebih dalam ke perkampungan. Sampai saya ketemu dengan sebuah terowongan bawah tanah—yang sering juga digunakan swafoto oleh netizen. Dimana di ujungnya, yaitu tempat dimana saya seharusnya memulai perjalanan ini, yaitu loket tiket masuk.

Pintu masuk terowongan

Underground tunnel

Tiket masuk ke tempat ini cukup Rp5.000 saja, ditambah Rp2.000 bila membawa kamera selain hp. Kalau mau pake jasa guide ada juga, katanya sih biayanya terserah kita. Guide yang resmi pakai seragam tradisional Jawa.

Pintu masuk yang sesungguhnya

\
Gedong Gapura Panggung

Lanjut, kita akan berjalan melalui sebuah gerbang berjulukan Gedong Gapura Panggung yang dihiasi dengan dua buah patung naga (dulu katanya ada empat). Di tempat ini, tiket kita akan diperiksa. Dan tersedia brosur juga buat informasi. Kita kemudian memasuki sebuah halaman dengan bangunan-bangunan yang disebut Gedong Sekawan. Disebut “sekawan” (artinya: empat) lantaran di sini terdapat empat buah bangunan kembar yang digunakan sultan dan keluarga untuk beristirahat. Baru sesudah itu, kita akan memasuki sebuah tempat yang menjadi highlight di Taman Sari ini, yakni Pasiraman Umbul Binangun.

Umbul Binangun

Lokasi ini udah banyak banget deh fotonya di internet. Selain photogenic, kondisi tempat ini juga masih terjaga dengan baik. Di sini ada tiga kolam dan dua bangunan. Bangunan paling utara yaitu tempat istirahat dan ganti pakaian untuk para putri dan selir. Kemudian, di selatannya terdapat dua kolam yang dipisahkan dengan sebuah jalan setapak. Ini tempat putri dan selir mandi-mandi.

Umbul Binangun & Menara "Observasi"

Kemudian di tengah, terdapat bangunan dengan sebuah menara. Menara ini dijadikan sultan sebagai tempat mengobervasi para putri dan selir yang sedang asyik berbasah-basahan. Dan bila ada selir yang dirasa menarik perhatian, selir tersebut akan diundang ke menara untuk hohohihek. Ehm.

Jendela Menara untuk "mengobservasi"


Pemandangan kolam dari puncak menara

Kemudian, di bab paling selatan terdapat kolam kecil yang khusus digunakan oleh sultan dan permaisuri. Dan pada zaman itu, hanya sultan dan para perempuan yang diperbolehkan masuk ke area pemandian ini lho. Wew.


Kolam khusus sultan dan permaisuri

Meninggalkan pemandian, kita akan memasuki sebuah kebun berbentuk segi delapan dan sebuah gerbang besar berjulukan Gedong Gapura Hageng. Dulu, gerbang ini merupakan terusan utama untuk memasuki area pemandian. Di dindingnya terdapat goresan burung yang sedang menyesap madu dari bebungaan. Ukiran ini ada artinya lho!

Kebun oktagonal

Gedong Gapura Hageng & goresan burung

Ukiran ini yaitu sebuah kronogram (angka tahun yang disimbolkan dengan kata, gambar, atau benda). Dalam bahasa Jawa disebut sengkalan memet. Ukiran di Gedong Gapura Hageng sanggup dibaca sebagai Lajering Kembang Sinesep Peksi. Lajering berarti “inti” melambangkan angka 1, Kembang berarti “bunga” melambangkan angka 9, Sinesep berarti “menyesap” atau “minum” melambangkan angka 6, dan Peksi berarti “burung” melambangkan angka 1. Dibaca dari belakang, 1691 tahun Jawa atau sekitar 1765 Masehi, tahun di mana pembangunan Taman Sari selesai.

Setelah melewati gerbang tadi, kita akan menemui... labirin perkampungan. Masih ada beberapa tempat kali yang sanggup dikunjungi di Taman Sari ini. Namun untuk kesana, kita mesti menyusuri gang-gang sempit di antara rumah-rumah penduduk. Akan memudahkan bila kita menggunakan jasa guide. Tapi buat yang ngga pake, kita sanggup ngikutin orang-orang aja, atau tanya-tanya sama penduduk.

Area perkampungan ini dulunya merupakan bab dari kompleks Taman Sari. Makara kebayang kan segimana gedenya tempat ini dulu. Perkampungan tersebut dulunya yaitu danau buatan, dimana di tengahnya terdapat pulau buatan yang disebut dengan Pulo Kenongo (Pulau Kenanga) lantaran dulu banyak tumbuh pohon Kenanga di sana. Reruntuhan gedung yang saya datangi pertama kali tadi, namanya yaitu Gedhong Kenongo. Dan bila dilihat dari jauh, dulu, Gedung Kenanga ini tampak menyerupai mengambang di atas air. Makanya tidak heran bila Taman Sari dijuluki sebagai “Istana Air”.

Underwater tunnel

Bangunan-bangunan di pulau buatan ini terhubung dengan terowongan bawah air, menyerupai terowongan saya lewati tadi. Konon katanya, ada juga terowongan diam-diam yang terhubung dengan Pantai Selatan, tempat Nyi Roro Kidul bersemayam. Seperti yang kita tahu, Nyi Roro Kidul ini kan konon katanya menjadi istri spiritual Sultan Hamengkubuwono.

Salah satu bangunan yang hanya sanggup diakses melalui terowongan tersebut yaitu Sumur Gumuling.
Bangunan yang juga sangat hits di kalang netizen dikarenakan bentuknya yang unik dan instagramable. Bangunan ini difungsikan sebagai masjid. Memiliki dua lantai, dengan relung yang digunakan sebagai mihrab. Di tengah bangunan, terdapat empat buah tangga yang bertemu di tengah, dan dari pertemuan ini ada satu tangga lagi menuju lantai dua. Sementara di bab bawah tangga tersebut, ada kolam kecil yang digunakan untuk berwudhu’. Nah, di tempat ini nih biasanya para netisen berfoto-foto ampe ngantri ngga selese-selese.

Sumur Gumuling

Mihrab

Untuk keliling ke tempat-tempat ini, saya ngga sendirian lho. Secara tidak sengaja, saya ketemu dengan sesosok ibu-ibu gaul nan nyentrik, yang tadinya cuman saya tanyain arah ke Sumur Gumuling, eh malah ditemenin jalan ke sana, bahkan sampe di antar ke Gedhong Kenongo dan Pasar Ngasem.


Reruntuhan Gedong Kenongo

Nama dia Bu Kecik. Rumahnya tidak jauh dari gerbang Gedhong Gapura Hageng. Beliau ini pernah beberapa kali nganter artis juga lho, buat keliling-keliling di Taman Sari. Orangnya asik banget, ramah, dan suka cerita. Meskipun perawakannya sudah tidak muda lagi, tapi jalannya cepet banget dan masih semangat. Makara bila pemirsa main-main kesana, sanggup deh dicari namanya Bu Kecik. Beliau udah populer di sana. Dan dia ngga meminta bayaran sebenernya buat nemenin, cuman ya sebagai rasa terima kasih ngga ada salahnya juga kita mengembangkan rezeki.

With Bu Kecik

Setelah dari Taman Sari, saya melanjutkan perjalanan menuju Museum Benteng Vredeburg. Pasti tau lah ya tempat ini. Buat yang pertama kali ke Yogya, kayaknya harus banget dateng ke sini. Singkat cerita, saya hingga di Jalan Margomulyo dan di sana udah penuh banget sama orang. Padahal hari Jumat ya, bukan hari libur. Saya gres sanggup parkir di depan Kantor Pos Besar, dan masih harus jalan kaki ke museumnya. Pas gres nyeberang, tiba-tiba ada bapak-bapaj polisi yang berlalu-lalang dan menghalau orang-orang yang memenuhi jalan raya. Ini pada ngapain sih yha?

Pasukan Gajah Kerajaan

Ternyata pemirsa, hari itu bertepatan dengan Grebek Maulud! Wew, kebetulan sekali ya. Jadinya saya tunda sejenak perjalanan ke Vredeburg untuk menyaksikan kemeriahan program tersebut. Parade dimulai dengan barisan prajurit keraton yang menunggang gajah, kemudian ada prajurit-prajurit lain yang bawa tombak, ada barisan abdi keraton, dan yang paling mencuri perhatian tentu saja parade gunungan berupa hasil bumi. Seru sih. Saya belum pernah liat secara langsung.



Prosesi Grebeg Maulud

Setelah parade tersebut usai, saya lanjut jalan menuju Vredeburg. Tiket masuknya murah saja, hanya Rp3.000. Ruang pertama yang saya masuki yaitu Ruang Pemutaran Film. Lumayan, sanggup istirahat dan ngadem, sambil menambah pengetahuan. Benteng Vredeburg ini mulai dibangun pada zaman kolonial (1760) dan awalnya hanya berupa benteng sederhana dari kayu. DI tahun 1767, benteng tersebut diperluas dan dijadikan bangunan permanen, hingga selesai di tahun  1787 dengan nama pertama “Fort Rustenburg” (“Resting Fort”/”Benteng Peristirahatan”). Di tahun 1867, bentengnya hancur kena gempa, kemudian dibangun kembali dan diberi nama gres yakni “Fort Vredeburg” (“Peace Fort”/”Benteng Perdamaian”). Benteng ini dibuka sebagai museum pada 23 November 1992.

Fort Vredeburg

Ruang Film

Setelah dari Ruang Film, saya beranjak menuju Ruang Diorama, yang berisi koleksi foto-foto jadul, benda-benda bersejarah, dan diorama usaha rakyat Indonesia merebut kemerdekaan, terutama yang terjadi di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Saya kira museumnya bakal terkesan jadul dan boring, tapi ternyata engga kok. Desainnya ternyata cukup modern dan futuristik, ya meskipun banyak panel touchscreen-nya yang rusak.





Beberapa koleksi museum

Saya meninggalkan Museum Vredeburg bertepatan dengan adzan Jumatan. Dan sesudah sholat di masjid Polresta Yogya, saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yakni Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berhubung males mau nyetir motor, hasilnya saya tetapkan untuk jalan kaki, jaraknya ±650 meter dari Kantor Pos Besar. Kondisi jalan waktu itu ramenya minta ampun. Apalagi pas hingga di Alun-Alun Utara, ternyata disana lagi ada kayak pasar malam gitu. Ada banyak orang jualan dan banyak sekali macam wahana.


Alun-Alun Utara

Gerimis mengiringi saya memasuki area Keraton. Tiket masuknya cukup Rp5.000 saja, ditambah Rp3.000 untuk idhin photo. Fyi, tempat ini pernah jadi lokasi pit stop di program The Amazing Race Season 19 lho!

Sugeng Rawuh

Keraton as the 2nd pit stop of The Amazing Race S19

Bangunan pertama yang akan kita temui yaitu Bangsal Pagelaran. Tempat ini dijaga oleh bapak-bapak yang menggunakan pakaian watak Jawa dan kita sanggup juga menggunakan jasa dia sebagai guide. Bangsal ini biasanya digunakan untuk even-even wisata, keagamaan, dll disamping program watak Keraton. Di bangsal ini juga terdapat koleksi kereta kerajaan. Dan juga pakaian-pakaian kerajaan di dalam gedung sebelah timur.

Bangsal Pagelaran

Lanjut, kita akan memasuki area Siti Hinggil Ler setelah menaiki beberapa anak tangga. Di sini sudah tersedia alur berjalan untuk para pengunjung berupa rantai yang diberi papan anak panah. Di sekitar bangsal utama, terdapat bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai toko suvenir dan museum. Sementara di tengah bangsal utama terdapat Bangsal Manguntur Tangkil yang berfungsi sebagai tempat duduk sultan di singgasana ketika ada program kerajaan. Di selatan Manguntur Tangkil, terdapat Bangsal Witono yang digunakan untuk menaruh lambang-lambang atau pusaka kerajaan.


Memasuki area Siti Hinggil Ler


Beberapa koleksi museum

Bangsal Manguntur Tangkil & Bangsal Witono

Hari sudah semakin sore dan alhamdulillah sanggup check in juga di hotel kedua. Setelah beberes dan bebersih, saya lanjut jalan lagi dan kali ini tujuan saya yaitu Sindhu Kusuma Edupark. Tempat ini tergolong gres sih ya, gres diresmikan pada 2014 lalu. Konsepnya sendiri merupakan taman bermain dan edukasi ya, jadi cocok buat liburan keluarga.

Sindhu Kusuma Edupark

Satu wahana yang paling menarik berdasarkan saya yaitu bianglala yang diberi nama Cakra Manggilingan. Dan tau nggak sih, dengan ketinggian mencapai 50 meter, si Cakra Manggilingan ini kini menjadi bianglala tertinggi di Indonesia lho!


Cakra Manggilingan

Dari atas, kita sanggup melihat keindahan Yogyakarta dan kawasan sekitar, hingga ke Gunung Merapi. Tapi perlu diketahui, si bianglala ini tidak akan dijalankan ketika hujan tiba lantaran takut terjadi duduk perkara di mesinnya.


View from above

Tiket masuk Sindhu Kusuma Edupark dibanderol Rp15.000. Dan nambah bayar lagi bila main di wahana-wahananya. Atau beli terusan dengan paket-paket menyerupai di bawah ini. Selain main bianglala, saya mampir juga di Cinema 8D tapi penjaganya pada bgzt ya. Masak diputerin film horor, padahal udah tau kalo saya sendirian di dalem bioskop. Kzl.

Seeya

Untuk menutup perjalanan saya di Yogya, malam itu saya jalan-jalan di kawasan Malioboro. Ngga beli apa-apa juga sih. Cuman seneng aja, menyusuri sepanjang jalan yang populer itu, sambil melihat-lihat acara orang-orang.



Malioboro

Anyway, its been so fun tiga hari perjalanan saya di Yogya. Definitely akan kembali lagi kesini lantaran masih buanyak sekali tempat yang belum saya sambangi. Dan mungkin ajak keluarga juga kali ya.
So, til next journey guys! J
   



Narahubung:
Taman Sari
Komplek Wisata Taman Sari, Taman, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah spesial Yogyakarta 55133
Telp.: 0817265343

Fort Vredeburg Museum
Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah spesial Yogyakarta 55122
Telp.: (0274) 586934

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Jalan Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah spesial Yogyakarta
Telp.: (0622) 74373721

Sindhu Kusuma Edupark
Jl. Jambon, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah spesial Yogyakarta 55284
Telp.: (0274) 6429660

Hotel Kalingga (Kalingga Inn)
Jl. Juminahan No.50, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah spesial Yogyakarta 55166



Thanks-List:
wikipedia.org, for the info
YOU, for reading this! :)      

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Hari terakhir di Yogya... Tadinya pengen main-main ke pantai atau ikut Merapi Lava Tour , tapi kok ya mager banget yak. Langit juga mas...
Ha Njo Dolan Sabtu, 30 Desember 2017