Ads

Ads
Menu
Results for "East Java"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Akhirnya yaa sesudah 25 tahun masa hidup saya di Probolinggo, kesampaian juga menginjakkan kaki di riam paling hits se-kabupaten, yang bahkan orang-orang dari luar kota pada tiba ke sini, dan menempatkan tempat ini sebagai top list kunjungan mereka (setelah Bromo), apalagi kalau bukan Air Terjun Madakaripura!

Agak aib juga sebenernya masak warga lokal belum pernah ke sini, tapi ya better late than never kan? Hhe..



Libur tahun gres rasanya sayang ya kalau dilewatkan begitu saja tanpa main kemana gitu. Jadinya saya menggelontorkan “undangan” jalan-jalan di grup whatsapp rekan-rekan SMA. Saya mengajukan satu pertanyaan pada tanggal 30 Desember 2017 yang berbunyi: “Ngga dolen rek preian?” (“Ngga main guys liburan?”). Kemudian saya biarkan. Masih saya pantau.

Setelah puluhan chat, gonta-ganti tujuan dan tanggal, serta bongkar-pasang pemain (seperti rencana-rencana perjalanan pada umumnya) akibatnya diputuskan tujuan kami ke Madakaripura, berangkat 1 Januari 2018, dengan jumlah personil 6 orang sahaja. Finally.

Senin, 1 Januari 2018

Kami berangkat dari Kecamatan Leces sekitar pukul 07.00 dan kalau dari kawasan rumah kami, ada beberapa jalan alternatif untuk menuju ke sana, tapi basically rute ke Madakaripura itu sama dengan rute ke Bromo, cuman nanti ada tikungan ke arah Desa Sapih. Ikuti papan petunjuk aja atau GoogleMaps. Tempatnya praktis dijangkau kok, meskipun jalannya kadang bergeronjal-geronjal.

Kami hingga di Madakaripura sekitar pukul 09.00 dan ternyata kondisi di sana jauh lebih baik dari yang saya pikirkan. Saya pernah dengar kalau dulu sering ada oknum-oknum yang meminta pungutan liar, dan memaksa pengunjung untuk membayar jasa memandikan motor yang bahkan kita tidak minta. Tapi tetep mereka nyiram-nyiram motor kita. Kan kzl.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kesadaran pemerintah & warga untuk memajukan wisata riam ini, kini sudah dibangun sarana dan prasarana yang mumpuni, serta dijaga keamanan dan ketertibannya. Makara kita sudah tidak perlu khawatir akan ada pungli-pungli menyerupai zaman jahiliyah.

Tiket masuk riam dipatok seharga Rp11.000 total, Rp6.000 dari Perhutani & Rp5.000 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Cukup terjangkau lah ya bila dibandingkan dengan keindahan yang akan kita nikmati. Setelah dari counter tiket, kita masih harus berjalan kurang lebih 20-30 menit menuju pintu masuk, yang mana nanti tiket kita akan diperiksa. Oiya, kita juga sanggup menggunakan jasa guide kalau mau, tapi jalan sendiri aja juga sanggup kok.

Ayo mlaku

Ada beberapa tips kalau mau ke Madakaripura ya gaes. Pertama, datanglah pagi-pagi (kayak kami waktu itu tidak mengecewakan lah) alasannya ialah perngunjung masih belum terlalu ramai dan praktis cari parkiran. Kedua, pakailah sandal yang nyaman dan lezat untuk jalan dan “memanjat bebatuan”. Sandal gunung is the best option. Yang terakhir, bawalah jas hujan/payung bila Anda tidak ingin “terlalu” berbasah-basah ria dan biar nampak lebih cerdik dari pengunjung lain, kecuali kalau Anda memang ingin mandi-mandi dan berair maksimal, ya, monggo.

Patung Gajah Mada

Di pintu masuk, kita akan disambut oleh sesosok patung Gajah Mada yang sedang bersila. Madakaripura memang erat hubungannya dengan sosok patih Majapahit tersebut. Konon katanya, riam ini ialah tempat semedi terakhir Gajah Mada hingga mencapai moksa. Di erat patung ini terdapat musholla, pura, toilet, dan kursi-kursi untuk istirahat sebelum kita melanjutkan perjalanan ke air terjunnya. Jangan syedih ya, soalnya masih harus jalan kaki lagi sekitar 20-30 menit lagi.


Yok mlaku lagi

Di sepanjang perjalanan, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tebing-tebing menjulang, pohon-pohon hijau, juga sungai. Very refreshing!


Refreshing scenery

Kami kemudian hingga di sebuah tikungan di mana sudah mulai terlihat air yang berjatuhan dari dinding-dinding tebing. This is it! Kami sudah sampai. Yey! Dan saatnya kami menggunakan jas hujan dan mengamankan semua bawaan. Buat yang ngga bawa jas hujan, tapi pengen pakai, jangan khawatir di sini ada yang menyewakan.

Get ready fellas!

Kami kemudian melangkahkan kaki di antara licinnya bebatuan dan dinginnya air sungai. Dan.. wow.. apa yang saya lihat waktu itu cukup amazing sih. Saya udah lupa ya kapan terakhir kali ke riam (apa jangan-jangan belum pernah). Guyuran air dari tebing-tebing yang tertutup flora rambat itu membentuk tirai putih yang sungguh cantik. Sayang pabila tidak didokumentasikan dan diunggah di media sosial.


Eits, tapi ini masih belum riam utamanya lho pemirsa! Setelah puas foto-foto di “tirai” pembuka itu, kita masih perlu jalan lagi menyusuri sungai. naik turun bebatuan, kemudian memanjat semacam dinding tebing yang sempit nan licin, gres kemudian kita hingga di lokasi inti.

Air terjun setinggi ±200 meter yang jatuh dari puncak tebing melingkar berdiameter ±25 meter. Kita serasa berada di dasar tabung raksasa, dan sekali lagi, it was sooo AMAZING!

The hole

Maka tak salah bila Madakaripura dijadikan destinasi wajib ketika berkunjung ke Probolinggo. Keindahan yang ditawarkannya menciptakan siapapun betah berlama-lama di tempat ini, kalau ngga kedinginan. Kami pun demikian, cukup usang kami menikmati keindahan ciptaan Tuhan itu sembari, tentu saja, mengabadikannya lewat foto.



Kami beranjak sesudah pengunjung yang tiba semakin ramai dan tanpa terasa, air pun jatuh juga dari langit. Gerimis say. Meskipun pegel-pegel dan basah, saya tetap bersyukur dan senang akibatnya sanggup menyaksikan secara pribadi keindahan Air Terjun Madakaripura. Dan juga tercoret satu syarat lagi untuk menjadi nak hitz Bolingo, hhe..

It was a great way to start a new year anyway! J

Jadi, ada yang udah pernah ke sini? Share your thought below...      



NaraHubung:
Air Terjun Madakaripura
Branggah, Sapih, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur 67183



Thanks-List:
@friskadevimellan@thia.rhio, @lindanoviana14, @rizka.dwitya, & Jimmy for such a fun new year trip and for the pics
wikipedia.org, for the info
YOU, for reading this! J

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Akhirnya yaa sesudah 25 tahun masa hidup saya di Probolinggo , kesampaian juga menginjakkan kaki di riam paling hits se-kabupaten, yang bah...
Ha Njo Dolan Selasa, 30 Januari 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Buat para pecinta acara outdoor, rasa-rasanya resto yang akan saya review kali ini cocok banget dijadiin kawasan nongkrong. Ngga cuma tempatnya yang unik, makanannya juga asik-asik. Nama tempatnya, Travelmie! Dari namanya aja udah catchy yes. So, here’s my review.. 



Hari Senin sore, 6 Februari lalu, saya berkesempatan mengunjungi Travelmie. Tempat makan yang lagi hitz di kota pahlawan, Surabaya. Bersama rekan saya @ariretna, kami tiba di lokasi sekitar pukul 18.00. Dari luar, kelihatan kawasan parkirnya penuh sesak. Mayoritas motor. Dan sehabis menempatkan si kuda mesin, kami pun memasuki lokasi.

Sign board

Begitu datang, kami disambut oleh mbak-mbak berpakaian safari. Kami kemudian diberi buku hidangan dan SIMAKSI. SIMAKSI di sini bukan Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi ya, tapi diplesetkan menjadi Surat Ijin Memasuki Kawasan Travelmie! Ya, kawasan makan ini memang mengusung konsep camping atau outdoor.

Dari interiornya, kita akan menemui dingklik dan meja kayu yang ditata layaknya kita sedang camping. Selain itu, ada tenda-tenda yang dipasang di pinggir, yang dapat kita pakai juga buat makan. Makara terserah, mau milih makan di dalam tenda atau duduk di luarnya. Hiasan dindingnya pun bernuansa outdoor, dengan lebih banyak didominasi berbahan kayu. Lantainya juga diselingi dengan barisan rumput (kayaknya sih asli). Pokoknya, serasa di gunung dah!

Front view

Saya sama @ariretna duduk agak mojok alasannya yakni pengunjungnya tidak mengecewakan rame dan udah pada penuh. Kami pun mulai membuka buku hidangan dan melihat-lihat masakan dan minumannya. Ternyata menunya unik-unik! Makanannya tetep bertema camping/outdoor ya, macem mie instan dan nasi liwet. Tapi selain menjual mie instan yang original, mereka juga menyediakan olahan mie instan yang beda. Ada yang dikombinasikan dengan daging kelinci, jantung pisang, daging babat, kripik cabe, dsb. Saya waktu pesen Indomie Goreng Kelinci Bakar Madu, sementara si @ariretna pesen Indomie Yakult UHT, sementara minumnya kami pesen Susu Perah Strawberry & Green Tea. Oiya, selain makan besar, mereka juga sedia kudapan kayak roti bakar, pisang bakar, tahu, ketan, dsb. You can check the hidangan below.

Menu Book

SIMAKSI: Food 

SIMAKSI: Drinks

Setelah milih menu, dan menuliskannya di SIMAKSI, selanjutnya kita tinggal antri di kasir. Harus bersabar, alasannya yakni antrinya tidak mengecewakan panjang. Dan harus pastikan juga semua pesenan kita udah di input sama kasirnya, alasannya yakni waktu itu sempet ada satu pesanan saya yang kelewatan, dan disuruh ngantri lagi. Malez poll. Setelah bayar di kasir, balasannya kita tinggal nunggu aja makanannya dateng. Tapi untungnya, suasana di Travelmie ini tidak mengecewakan cozy, ditambah ada live music, yang kebetulan waktu itu mainin lagu-lagu beraransemen keroncong. Jadinya nyaman banget dan dapat mengurangin kebosanan.

Live music

Makanan kami pun datang. I was so excited karna itu yakni kali pertama saya makan daging kelinci. Agak ngga tega juga, tapi tetep pengen nyoba. Saya cobain mie-nya dulu. Ah, as I expected from the legendary Indomie. Yang dimasak biasa aja udah enak, apalagi ditambahin bumbu bakar madu-nya. Makara manis-pedes, wenak. Kemudian giliran daging kelincinya. Dan saya pun langsung... nge-DROP. Heft.

Our food

Rasanya sih enak, cuman teksturnya itu lho. Alot rek. Liat banget. Udah dicoba potong pake garpu sendok tetep susah. Entah ini masaknya kelamaan atau gimana ya. Alhasil mood makan saya pun turun. Sorry to say, ya. Akhirnya saya makan aja mie-nya, dan sesekali gigit-gigit daging kelinci yang dapat digigit. *sigh. Sementara diluar dugaan saya, pesenan si @ariretna, Indomie Yakult UHT (mie instan, campur susu UHT dan Yakult) malah rasanya tidak mengecewakan enak! But anyway, masih ada makanan-makanan lain yang kelihatan lezat juga, yang suatu dikala harus dicobain. J


Other menu

Downside dari resto ini berdasarkan saya (pribadi), yang pertama mungkin dari suhu ruangannya ya. Karena mereka mengusung konsep pergunungan, mungkin dapat dipasang pendingin ruangan yang mumpuni, jadi suhunya ibarat di atas gunung. Ya ngga perlu dingin-dingin banget, cukupan aja. Soalnya waktu itu ngga ada bedanya sama suhu luar di kota Surabaya. Sempet ada asap-asap yang muncul dari akrab atap. Mungkin buat pengaruh kabut ya. Dan saya pikir asapnya dingin, ternyata engga, wkwk..Kayak asap biasa aja. Makara pengaruh kabutnya cuman visual, sementara rasanya ngga dingin. Mungkin akan lebih baik jikalau asapnya ini dapat dibikin hambar juga.

Suasana "kabut" di Travelmie

Downside lainnya, mungkin pihak pengelola dapat lebih merapikan lagi kabel-kabel di bawah meja. Soalnya beberapa kali kena tendang itu stop kontaknya. Dan kemudian, hal yang paling bikin saya ngga nyaman waktu itu yakni ada pengunjung yang ngerokok di dalem resto! No offense buat perokok ya. But, hey, kita itu lagi ada di restoran yang cukup tertutup, bukan di luar ruangan (meskipun konsepnya outdoor). Dan saya sangat terganggu jikalau lagi makan terus ada busuk asap rokok. Heft. Mungkin pengelola dapat pasang tanda “No Smoking” atau sejenisnya. Demi kenyamanan kita bersama.

So yeah, thats all my review for Travelmie, more or less. Meskipun ada downside-downside kecil, kawasan makan ini patut banget dicoba dan dikunjungin buat kau para kawula muda, terutama para pecinta outdoor, dan juga buat keluarga tentunya. Travelmie juga punya jadwal yang asik, ibarat gratis seporsi mie bagi mereka yang gres turun gunung, dan juga ada jadwal charity di hari Kamis (kalo ngga salah) dimana sebagian profit mereka akan disumbangkan kepada fakir miskin. Dan asiknya lagi, sekarang Travelmie sudah hadir di 4 kota, yakni Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan Malang. Akan menyusul di Kediri dan Sidoarjo.


Semoga review saya ini bermanfaat. Terima kasih.

So, ada yang udah pernah kesini? Atau berencana kesini? Share your story on comments ya... J



NaraHubung:
Travelmie, Puncaknya Soerabaia
Jl. Mulyosari 171, Surabaya, Jawa Timur
Open: 11.00—24.00



Thanks-List:
@puncaknyasoerabaia, for the pics & info
YOU, for reading this! :)  

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Buat para pecinta acara outdoor, rasa-rasanya resto yang akan saya review kali ini cocok banget dijadiin kawasan nongkrong. Ngga cuma tempa...
Ha Njo Dolan Kamis, 16 Februari 2017
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Hari Senin, 6 Februari lalu, aku menerima Surat Tugas dari kantor untuk pergi ke Kota Pahlawan, Surabaya. Sebenarnya keperluannya bukan termasuk jobdesk saya, tapi sebab ngga ada orang lagi yang sanggup berangkat, maka dengan penuh sukacita aku mendapatkan proposal tersebut. Sebab, dimana ada dinas luar kota, di situlah ada ‘liburan’! Hohho...




Saya berangkat hari Minggu (terpaksa) pagi-pagi sekali, sebab aku telah menciptakan sebuah kebodohan. Surat Tugas (ST) yang seharusnya aku bawa, malah ketinggalan di kantor, sementara hari Jumat-nya aku balik ke rumah Probolinggo. Jadilah pagi itu aku berangkat naik bus ke Jember, ke kantor ngambil ST, kemudian eksklusif berangkat lagi ke Surabaya. Heft. I love traveling, but, that stupidity was just... stupid!

Saya tiba di Terminal Purabaya/Bungurasih, Surabaya, sekitar pukul 15.00 dan eksklusif memesan GoJek menuju hotel. Untuk perjalanan kali ini, aku menentukan untuk menginap di Hotel Premier Inn, Sidoarjo (horang kaya :D). Awalnya, aku berniat pesen hotel yang dekat-dekat terminal, which is harganya banyak yang lebih murah. Tapi kemudian aku mikir licik, ini kan keperluan dinas, ntar juga diganti biaya hotelnya. So, aku cari hotel yang dekat dengan lokasi acara saya, jadi sanggup menghemat waktu. Sekaligus, “memaksimalkan” budget hotel yang aku punya (berdasarkan peraturan dari kantor, sekitar Rp500.000-an). Dan terpilihlah si Premier Inn ini. Sebenarnya, harga yang di publish mereka yakni Rp600.000-an, tapi berkat kelihaian dalam mengombinasikan promo dan diskon di Traveloka, aku alhasil cuman perlu bayar Rp400.000-an! Hahay...

Sekitar 10 menit, aku pun tiba di Premier Inn. Dari luar, hotelnya kelihatan kecil, tapi ternyata di dalamnya ada 7 lantai. Penampakan eksterior dan interiornya bergaya minimalis nan elegan ya (sok tau). Dengan tema warna ungu, menciptakan suasana semakin terasa homy. Saya memesan kamar bertipe Double-Room, dengan ranjang queen-sized (karena aku sendirian jadi ya pilih yang kasurnya sebijik). Setelah diminta KTP dan deposit sebesar Rp100.000, aku pun diberi kunci menuju peraduan yang ternyata ada di lantai teratas, lantai 7.

Premier Inn frontview

The Lobby

Begitu masuk kamar, ah, nyaman banget—secara hotel mahal. Fasilitasnya ya, ibarat hotel menengah-ke atas pada umumnya. Ada kulkas, brankas, TV, coffee/tea maker, 2 botol air mineral, hot/cold shower, amenities, dan free breakfast. Tapi yang paling aku suka dari kamar tersebut adalah... pencahayaannya. Penempatan lampu dengan sinar yang remang-remang, ditambah nuansa cahaya ungu, menciptakan perasaan menjadi damai dan seketika ngantuk! Itulah mengapa, aku yang tadinya mau eksklusif cuss hang-out sama temen di Surabaya, jadi mager alias males gerak. Pengennya gulung-gulung aja di kasur.

The Room

Oiya, for your info, Premier Inn ini yakni hotel kapitalis bertaraf Internasional dengan base di Inggris (dan merupakan merk hotel terbesar disana), yang didirikan oleh perusahan Whitbread pada tahun 1987, dengan lebih dari 700 unit yang tersebar di UK, Ireland, India, Jerman, Arab, dan Asia Tenggara. 

Premier Inn rearview

Malemnya, pengen nyobain makan di hotel. Ya sesekali ngga papa lah, nyobain kuliner mahal berkelas. Setelah baca menu, ujung-ujungnya pesen nasi goreng juga, wkwk... Karena ngga ngerti sama sajian yang lain dan harganya yang... membacanya saja bikin tersedak (dasar kampung). It turned out rasanya... ya.. reguler. Dan untuk set sajian nasi goreng, sup ayam-jagung, dan milkshake, aku harus merogoh kocek Rp130.000-an. Duh mak.

Paginya, aku balas dendam! Saya cobain hampir semua sajian yang disediakan, mumpung gratis (dasar kampung kuadrat). Ada macem-macem sih makanannya. Yang paling aku favoritin waktu itu, nasi kuningnya (teteup kuliner lokal yes), ditambah secarik roti dan susu. Yum. Saya pun siap memulai acara hari itu! :D

Tujuan utama dari ST aku waktu itu yakni yang pertama, memintakan tanda-tangan Surat Perjalanan Dinas (SPD) sobat aku ke Kanwil DJP Jawa Timur II which was ternyata ada salah ketik, kemudian kiprah kedua, aku diminta untuk mengambil Surat Keterangan Pensiun salah satu pegawai di kantor aku di Kantor Regional Badan Kepegawaian Nasional (BKN). Karena kedua kiprah ini praktis banget, aku sasaran selesai sebelum Dhuhur. Terlebih sebab aku musti cek out jam 12.00, if not, bakal kena charge. Pfft..

Kanwil DJP Jatim II

Saya pun berangkat menuju destinasi pertama, yakni Kanwil DJP Jawa Timur II, ngga jauh dari Premier Inn. Sekitar 10 menit jalan kaki, aku udah sampai. Kantornya tidak mengecewakan gede—namanya juga Kantor Wilayah, plus gedungnya digabung dengan KPP Madya Sidoarjo. Saya diarahkan menemui mbak-mbak di lantai 3, dan aku eksklusif mengutarakan maksud aku tiba ke sana. Ternyata pejabat yang berwenang tanda-tangan SPD sedang rapat. Heft. Saya sempat hampir disuruh nunggu. Namun, sebab aku acting bahwa ini mendesak, alhasil dibawa eksklusif sama mbak-mbaknya. Hehhe.. Tugas pertama pun selesai tak kurang dari 15 menit-an. *smirk J 

Next stop, Kantor BKN. Letaknya tidak mengecewakan jauh, jadi aku harus summon GoJek. Ah, benar-benar membantu sekali ya aplikasi ini Sekitar 10 menitan ber-GoJek, aku pun tiba di lokasi. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati banyak pegawai yang masih asyik bermain voli halaman gedung! WTF?! Ini hari Senin! Udah jam 8 lewat pula. Masih main voli?! Come on, guys.

Gedung Regional BKN II

Saya lantas memasuki gedung menuju resepsionis, dan kemudian aku diarahkan menuju sebuah ruangan. Setelah menjelaskan maksud kedatangan ke ibu-ibu petugasnya, aku pun disuruh menunggu. Sekitar 15 menit, dia bilang bila berkasnya belum ketemu, kemudian aku diarahkan menemui seorang bapak. Tapi ternyata bapak tersebut masih main voli! WTF?! Saya pun menunggu... menunggu... dan menunggu... Oiya, aku diwanti-wanti buat bawa duit, jaga-jaga bila dipersulit, tapi aku ngga berniat ngasih apapun! Saya pun menggunakan seni administrasi pasang wajah innocent dan merebut hati lewat obrolan. Karena bila seseorang sudah merasa ‘akrab’ dengan kita, orang tersebut akan lebih praktis untuk ‘diperdaya’ dan dimintai tolong. Akhirnya, aku pun berhasil mendapatkan SK yang dimaksud, meski perlu waktu hingga pukul 11.00-an. Heff.

Finally, my tasks were done! Yeay. Saatnya ‘liburan’. Heheh.. Saya lantas bergegas pesen GoJek dan kembali ke hotel. Sehabis packing, aku pun cek out. Sempet diwarnai bencana kartu jalan masuk hilang dan alhasil aku kena charge Rp50.000 (another stupidity on this trip). Anyway, aku melanjutkan perjalanan aku menuju—apalagi yang dituju bila anak desa pergi ke kota—Mall Tunjungan Plaza! Dan alhamdulillah banget ada GoJek yang sanggup dipesen, soalnya sekitar hotel itu agak sepi.

Tunjungan Plaza

Actually, itu pertama kalinya aku mengunjungi Tunjungan Plaza (TP), Haha, dasar kampung.. Saya masuk melalui TP 5, soalnya mau mampir ke beberapa outlet peralatan outdoor di sana. Begitu masuk, waaw, tempatnya guede banget. Saya jalan kesana-kemari, naik-turun. Sempet nyasar-nyasar dikit, hahha.. Pokonya kayak orang udik. Tapi jalan-jalan di mall aja (ngga beli apa-apa) udah bikin aku seneng, dan mengembalikan memori kegaulan aku ketika stay di Jakarta dulu, hahha.. How fun. Akhirnya, aku menemukan outlet-outlet yang aku maksud, tapi sesudah liat harga modelnya, ngga ada yang srek, wkwk.. Saya pun lantas pergi menuju Matahari dan beli titipan temen aku which was kemeja kerja. Saya alhasil beli kemeja juga. :P

Lelah berjalan-jalan, aku bergerak ke foodcourt di lantai atas, kemudian makan siang. Lanjut ke masjid di lantai paling atas, sampe sempet ketiduran di sana. Sekitar pukul 17.00, aku janjian sama temen aku @ariretna buat hang out sehabis dia pulang kantor. Dan kali itu kita mau ngunjungin salah satu daerah makan yang unik dan lagi hitz, berjudul Travelmie!

Sekitar habis Maghrib, kami hingga di lokasi tersebut. Tempatnya unik banget, dengan mengusung konsep camping/outdoor. Pun dengan pilihan sajian kuliner dan minumannya yang unik-unik juga. Meskipun berdasarkan aku masih ada beberapa downside dari resto ini, tetapi Travelmie yakni daerah yang patut buat dikunjungin dan ditongkrongin ngga cuma untuk kawula muda, tapi juga keluarga. (Tengok review aku selengkapnya di sini...)

Puas makan, sekitar pukul 22.00, aku dan @ariretna pun beranjak pulang. Namun, kami masih mau mampir ke satu daerah buat beli oleh-oleh. Oleh-oleh ini lagi hitz banget di Surabaya dan gres diluncurkan bulan Januari lalu. Tak lain dan tak bukan adalah... Surabaya Snowcake!
(Review selengkapnya di sini...)

Selepas beli buah tangan snowcake, aku alhasil mutusin buat eksklusif balik ke Probolinggo malem itu juga. Dan alhamdulillah si @ariretna mau nganter ke terminal. Heheh.. So, thats my workliday trip to Surabaya. Semoga goresan pena tidak bermanfaat ini sanggup menghibur.

Sekian, dan terima kasih J



NaraHubung:
Premier Inn Surabaya
Jalan Raya Juanda No. 73, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur 61254
Telp: (031) 8685555

Kanwil DJP Jawa Timur II
Jl. Raya Juanda No. 37, Semambung, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur 61254
Telp: (031) 8672483

Kantor Regional II BKN
Jl. Letjen S. Parman No. 6, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur 61256
Telp: (031) 8531038

Tunjungan Plaza
Jalan Basuki Rahmat No.8-12, Kedungdoro, Tegalsari, Surabaya, Jawa Timur 60261
Telp: (031) 5311088



Thanks-List:
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Hari Senin, 6 Februari lalu, aku menerima Surat Tugas dari kantor untuk pergi ke Kota Pahlawan, Surabaya. Sebenarnya keperluannya bukan ter...
Ha Njo Dolan Rabu, 15 Februari 2017
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Happy New Year 2017 fellas!!! J

Semoga di tahun ini kita sanggup meraih semua impian yang kita cita-citakan, semua wishlist yang udah kita susun sanggup terlaksana, dan tak lupa menerima berkah di semua sendi kehidupan yang kita jalankan. Amin

Anyway, tahun gres kemarin saya tidak ada aktivitas apapun buat merayakannya. Ngga pernah ngerayain juga sebenernya. Apalagi di tanggal 31 Desember itu, saya disuruh lembur di kantor dari pukul 19.00—24.00, jagain aktivitas Tax Amnesty-nya pemerentah. Which was such a waste  ‘cause nobody came to our office! Sucks. Jadinya, saya sama belum dewasa ngga ngerti mau ngapain. Naik turun lantai ga jelas. Ngemil. Nonton tv. Main hape & komputer hingga mata pedes. Tapi yah gimana lagi, namanya dapet uang lembur kiprah negara. Hhe..

Gara-gara piket ini juga saya balasannya ngga pulang ke Probolinggo. Hvft. Padahal lagi libur panjang (sampai 2 Januari karna cuti bersama). Tapi tak apalah. Untuk mengisi liburan, saya sama belum dewasa kantor ngerencanain buat jalan-jalan bareng. Dan kali ini, kita mau ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Woohoo...



Ini akan jadi kunjungan kedua saya ke Ijen. Setelah beberapa waktu lalu, ngga sanggup kesempatan untuk melihat blue fire gara-gara kita kesiangan hingga puncak (ceritanya di sini). Mudah-mudahan kali ini kenginan itu sanggup terwujud. Tuk balas dendam! Hhe..

Minggu, 1 Januari 2017. Awalnya kita ada 13 orang yang mau berangkat. Hmm.. bakalan seru banget niscaya rame-rame motoran ke sana. Kaya sinetron Anak Jalanan. Tapi gara-gara hari itu hujan ngga berhenti-berhenti, dari siang hingga sore, satu per satu mulai undur diri dari perjalanan ini. Saya sendiri awalnya juga agak males mau berangkat. Karena yang pertama, semua peralatan “pergunung”-an saya ada di rumah Probolinggo. Segala baju tebel, jaket, buff, celana, dan tetek bengek lainnya. Dan yang kedua, sebab males mau hujan-hujanan di jalan. Apalagi jikalau hujannya pas di atas nanti niscaya jadi tambah adem. Brrrr...

Tapi gara-gara dikomporin sama anak-anak, ditambah saya mau mem-“balaskan dendam” saya untuk menyaksikan blue fire, saya balasannya nekat ikut juga. Kami janjian di kantor pukul 19.00, tapi balasannya gres berangkat sekitar pukul 20.30. What can I say, we’re Indonesian, dude..  Dan dari 13 orang yang awalnya mau ikut, tinggal 8 aja yang berangkat. Jadinya kami bawa 4 motor. And off we go! :D

Kami pergi menuju Ijen melalui jalur Bondowoso. Dan jalur ini ternyata lebih cepat dibanding yang lewat Banyuwangi. Tanjakannya juga tidak terlalu curam. Cuman jalannya aja banyak yang rusak jadi harus ekstra hati-hati. Di sepanjang jalan, kami sesekali dijatuhi gerimis, tapi untungnya ngga hingga hujan deres.

Kalau melalui jalur Bondowoso ini, sebelum hingga di Paltuding, kita akan melewati 3 buah pos/portal. Beda dari Banyuwangi yang hanya ada 1 pos. Dan yang bikin gedeg, di tiap portal kita disuruh bayar! Heft. Kirain cuman sekali doang pos pertama, ternyata dua pos berikutnya bayar juga. Kalau ngga salah di pos pertama bayar Rp20.000, pos kedua Rp10.000, pos ketiga Rp10.000.

Kami hingga di Paltuding sekitar pukul 00.30 dan daerah loket karcisnya masih belum buka. Kami balasannya nongki-nongki dulu sambil ngupi-ngupi di salah satu warung di sana. Si bapak yang punya warung kisah jikalau ada pendaki yang hilang sehari sebelumnya. Wew. Serem juga. Akhirya, sekitar pukul 01.00, loket karcis pun di buka, dan kami pun memulai pendakian.

Overall, di pendakian kali ini, saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dari segi fisik juga ternyata saya masih tidak mengecewakan kuat, hehe... Kami juga cuman beberapa kali berhenti. Dan istirahatnya juga sebentar-sebentar. Ngga hingga buka lapak, terus bikin kopi. Alhamdulillah, cuaca juga bersahabat. Lumayan cerah. Kita jadi sanggup menikmati pemandangan bintang-bintang di langit malam. One of my most favorite things to do in this world. Stargazing!

Sekitar dua jam kami berjalan, kami hampir mencapai puncak. Namun, keadaan mulai memburuk gara-gara asap sulfur yang semakin menebal. Pokoknya parah banget, hingga mata kita perih dan batuk-batuk. Jarak pandang juga jadi makin memburuk sebab pekatnya asap. Sontak, kami dan pendaki-pendaki lain didatangi oleh para penjaja sewa masker. Maskernya yang hitam ada tabung-tabung itu.

Mereka pakai segala cara dan bahasa untuk menarik hati kami agar nyewa maskernya. Dan kebetulan, keadaan sekitar—asap sulfur yang lagi tebel—juga sangat mendukung promosi itu. Mereka bilang jikalau kita ngga bakal dibolehin ke blue fire jikalau ngga pakai masker hitam itu. Pft. Padahal sebenernya ya ngga ada melarang. Orang blue fire-nya ngga ada yang jaga.

Tapi berhubung asap belerangnya waktu itu bener-bener parah, jauh lebih parah dari terakhir saya kesana, balasannya kami mutusin juga buat sewa maskernya. Per masker dihargai Rp25.000,00. (pertama kali saya ke sana harganya masih Rp20.000). Dan memang masker hitam itu lebih yummy digunakan jikalau pas belerangnya lagi tebal. Bau telor busuknya jadi ngga terlalu tajam. Cuman masalahnya, mata masih kadang perih. Untuk mengurangi perihnya, kita sanggup pakai tisu yang dibasahi air, terus diusap ke mata. Cara lainnya, dengan berhenti sejenak membelakangi arah angin. Makara asapnya ngga eksklusif kena mata.

Beberapa dikala kemudian, kami hingga di percabangan. Kalau mau liat blue fire, kita sanggup ambil kiri terus turun ke kawah. Kalau mau ke puncak, kita ambil kanan kemudian naik. Dua orang teman saya tetapkan untuk tidak ikut melihat blue fire. Mereka nunggu di pertigaan itu. Jadinya, tinggal ber-enam aja yang turun.

The blue fire spot is somewhere downthere

Perjalanan turun ke blue fire ternyata ngga simpel juga. Sebenernya ada kayak tangga-tangga gitu, cuman sebab gelap banget jadi agak susah jalannya. Dan di situlah saya gres sadar jikalau penglihatan malam saya bener-bener buruk! Saya ngga sanggup ngeliat jalan SAMA SEKALI jikalau ngga dibantu senter. Saya jadi sering berhenti jikalau ngga dapet pencahayaan dari temen-temen atau dari pendaki lain. So from now on, saya harus bawa senter sendiri!

Perjalanan menuju lokasi blue fire memakan waktu sekitar 45 menit. Di pertengahan jalan, kita sudah sanggup melihat dari jauh siluet-siluet kebiruan dari blue fire. Temen saya yang cewek satu-satunya, mutusin buat berhenti jalan dan nunggu kita di situ. Di dekat kayak jembatan gitu. Sementara saya dan keempat teman lain meneruskan untuk ke bawah. Dua teman saya yang paling depan udah jalan jauh. Sementara saya dan dua teman saya mengikuti di belakang. Dan beberapa menit kemudian, sampailah kami di spot dimana kita sanggup melihat dengan terang blue fire yang populer itu.

MashaAllah. Cakep banget dah blue fire-nya! Saya bersyukur sanggup diberi kesempatan untuk menyaksikan salah satu keindahan ciptaan Allah SWT itu.


The magical blue flames
(sorry for the bad quality)

Blue fire di kawah Ijen sendiri muncul akhir gas sulfur yang bereaksi dengan oksigen, kemudian terbakar dengan suhu mencapai 600°Celcius dan sanggup menyala hingga 5 meter tingginya. Fakta uniknya, jikalau saja gas sulfur ini tidak terbakar, ia sanggup terakumulasi dan akan jadi berbahaya sebab sangat beracun! Saya tetapkan untuk tidak berjalan lebih jauh lagi untuk mendekati blue fire tersebut. Karena seringkali asap sulfur tebal  berhembus kesana kemari menciptakan sesek napas dan mata perih. Bisa melihat blue fire dengan mata kepala sendiri saja saya sudah sangat puas dan bersyukur. Finally, mission accomplished!

Buat ngambil foto aja susahnya minta ampun. Selain “gangguan” dari asap belerang, keadaan sekitar yang sangat gelap, spesifikasi kamera, dan kelihaian sang fotografer juga sangat menentukan. Semua faktor ini tentu tidak saya miliki, jadinya ya saya ngga sanggup dokumentasi yang bagus, wkwkwk.. But anyway, I was so happy with the experience tho J

We're climbing up


The infamous Ijen sulphur miner

Setelah cukup puas menyaksikan the magical blue fire, kami tetapkan untuk kembali. Jalan menanjak ternyata bikin ngos-ngosan juga. Namun untungnya, fajar mulai menyingsing sehingga menerangi setapak jalan yang kami hendak lalui. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang kamu ingkari?
Di atas, kami berdelapan balasannya berkumpul kembali. Asap sulfur masih saja pekat sehingga kami cukup kesulitan untuk mengabadikan gambar. Setelah beristirahat dan makan bekal, kami mulai berjalan turun.

At the top of Mt. Ijen

On our way down

The smog sometimes were so thick
(courtesy of @irwantris)

Kami hingga di Paltuding lagi sekitar pukul 10.00 atau 11.00. Dan sesampainya di bawah, kami disambut dengan kehebohan. Ternyata, si pendaki yang dikabarkan hilang sehari sebelumnya sudah ditemukan! (Kabarnya) dalam keadaan linglung dan tak bercelana. OMG. Dari kisah yang beredar, katanya si pendaki tersebut terpisah dari rombongannya pas waktu buang air kecil. Entah ditinggal sama temennya atau gimana. Dan temen-temen si pendaki itu gres sadar, waktu di parkiran, si pendaki itu ternyata belum turun. Tapi untunglah, kini si pendaki itu sudah sanggup berkumpul dengan keluarganya lagi.

(courtesy of @iqbalmohammadhasan)

Saya dan temen-temen pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jember. Sepanjang jalan, barulah saya sanggup melihat pemandangan pepohonan yang indah yang semalam sama sekali tidak terlihat sebab gelap. Namun, sepanjang perjalanan pulang , kami dihadapkan dengan series of unlucky events. Di awali dengan saya yang jatuh dari motor, temen saya yang masuk ke selokan, hingga balasannya kami diguyur hujan deras hingga Jember. Wew..

On our way home, we passed this cute little village named Sempol.
Everything is so neat, clean, and the people seems to live a happy simple-life.

Tapi yah, itulah yang menarik dari traveling, kan? Kita ngga pernah tau apa yang akan terjadi di jalan. The thing is, we just have to enjoy the ride, and eventually, we will learn something, and be grateful for anything... J




Thanks-List:
@miftah.jombang@i.am_thor, for the great experience
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Happy New Year 2017 fellas!!! J Semoga di tahun ini kita sanggup meraih semua impian yang kita cita-citakan, semua wishlist yang udah ...
Ha Njo Dolan Sabtu, 07 Januari 2017