Ads

Ads
Menu
Results for "Labengki"
Travel Agent Penyedia Info Wisata


The last day of our trip...

Selalu ada perasaan duka ya pabila akan mengakhiri sebuah perjalanan. Karena segera setelahnya, kita harus berpisah dengan kawan-kawan dan kembali ke dunia “nyata”. Kembali mengais rupiah demi rupiah untuk kehidupan perjalanan berikutnya. Namun kala itu, kesedihan makin bertambah! Sebab kami akan kembali terombang-ambing, di tengah lautan, selama... LIMA JAM!

Lagi. Seperti waktu kami berangkat di hari pertama.

Hmm.. memikirkannya saja sudah membuatku menderita.

Anyway, hari itu kami mengujungi satu spot terakhir di daerah Labengki-Sombori, dan satu spot “tambahan” di akrab Kendari. Mau tau apa aja tempatnya?

So, here where the story continues...


Malam sebelumnya, kami setuju untuk berangkat ke spot terakhir, sekaligus perjalanan pulang, pukul 07.00 pagi. Teng! Pokoknya jam segitu udah harus berangkat. Bukan siap-siap lagi. Mengingat kapal kami yang jalannya “super cepat” yakhan. Dan untuk memanfaatkan hari terakhir itu, sembari menunggu waktu berangkat, kami berencana jalan-jalan keliling Labengki Kecil dan mampir di sebuah mercusuar yang ada di balik pulau.

Pukul 05.00 pagi, di tengah kegelapan dan dinginnya kala itu, kami berjalan menuju mercusuar. Di sana udah tersedia jalan/trek semen yang mengarahkan kita keliling pulau. Makara lezat lah buat jalan-jalan. Cuman ya berhubung masih gelap jadi ngga keliatan apa yang kita injak, kerana sejatinya banyak “chocochip” kambing berantakan dimana-mana.

Sekitar 10-15 menit jalan kaki, kami pun kesudahannya hingga di sebuah pantai. Dan di sebelah kiri kami ada sebuah bukit karang kecil dengan tangga untuk menuju puncaknya. Di puncak itulah si mercusuar bertengger.

The lighthouse

Sesampainya di atas, ternyata kondisi mercusuarnya udah terbengkalai ya. Cocok untuk dijadikan lokasi uka-uka. Banyak tembok yang mengelupas, berlubang, dan pintunya pun sudah “disegel” dengan semen, jadi kita ngga sanggup masuk, apalagi naik ke puncak mercusuar. Makara ya, kami kesudahannya diem-diem aja disitu sambil menunggu matahari terbit. Meskipun langit waktu itu juga mendung. Mana banyak nyamuk pula!

Sesaat sesudah mentari terbit, kami turun ke pantai. Main-main bentar, sambil foto-foto. Baru kemudian balik ke penginapan.

The beach near the lighthouse

Pukul 07.00 tepat, kami pun berpamitan ke pemilik homestay, dan sekalian ibuk-ibuk juru masak yang ngurusin kami selama dua tiga hari di rumah itu. Best credit banget untuk mama mama ini alasannya ialah masakannya lezat semua! Aselik.

So, off we go. Sampai jumpa lagi Labengki Kecil!

Seeya again

Spot terakhir di Labengki-Sombori yang akan kami kunjungi waktu itu namanya Blue Lagoon. Jaraknya ngga terlalu jauh dari Labengki Kecil. Sekitar 20 menit berlayar (satuan waktu kapal kami). Jalannya ke arah Labengki Besar terus belok kanan (kek yang tau aja)

A race we'll never win

Mendekati lokasi, kami pun disambut dengan perairan berwarna biru muda yang super cantik!
Saya kira udah hingga di Blue Lagoon-nya, tapi ternyata, laguna tersebut ada di balik sebuah dinding karang yang ada di sana. Wow.

The wall "protecting" Blue Lagoon

Dari semua karang-karang yang pernah dilewati selama di sana, aku rasa karang di Blue Lagoon ini yang paling tricky untuk didaki. Bentuk-bentuknya ngga beraturan, tajem sudah tentu, pijakannya sempit, jadi harus ekstra hati-hati. Namun, jikalau kita sudah berhasil mencapai sisi lainnya, kita akan disuguhkan dengan kecantikan Blue Lagoon yang sesungguhnya!

Careful, careful!

Blue Lagoon
(courtesy of @dentajaya)

So pretty, right? Di sini kalo mau nyebur juga sanggup lho. Tapi kami waktu itu mau foto-foto aja, dan you know, mau foto aja di sini susah banget lho jalannya. Kalau salah berpijak, alamat..

Blue Lagoon
(courtesy of @dentajaya)

Di tengah kami foto-foto, ada rombongan lain yang dateng dan kesudahannya menambah sesaknya tempat itu. Guide kami juga udah nyuruh bergegas semoga ngga kesiangan pulangnya. So yeah, kami pun beranjak pergi dan bersiap untuk mengarungi lautan selama lima jam ke depan. Heft.

The pain starts now

It was a looong loooong sail.

Dari yang kita posisi duduk, senderan, sampe gegoleran di lantai kapal. Ombak juga kadang tidak mengecewakan gede sampe nyiprat-nyiprat ke dalam. Beberapa dari kami pun kesudahannya menerima jackpot mabok laut, kerana tak kuasa menahan goyangan-goyangan kapal.

Land!

Suasana terasa segar kembali ketika kemudian terlihat daratan di kejauhan. Itu artinya kami segera sampai! Yey.

More land!

Dan sebelum merapat kembali di dermaga Desa Bajo, kami mampir dulu di destinasi “tambahan” hari itu, yaitu Pulau Bokori.

Bokori Island

Pulau ini emang keliatan banget sih bener-bener dirawat dan dipoles sedemikian rupa untuk dijadikan destinasi wisata. Waktu kami kesana , masih terlihat beberapa pembangunan yang berjalan, menyerupai cottage-cottage “terapung” ala-ala Maldives gituh. Pantainya juga  terbilang bersih, banyak wahana permainan kayak banana boat, dsb. Cocok lah untuk liburan singkat keluarga. Dan memang waktu itu rame banget pengunjung disana. Ada yang rombongan kantor & sekolah juga sepertinya.

Tapi yang disayangkan sih saluran air higienis ya. Di sana ada kayak pancuran buat bilas (sehabis berenang) tapi airnya ngga keluar. Dan untuk ke toilet pun, kita masih harus beli air botolan sekitar Rp2.000 per botol 1,5 liter.

Di Pulau Bokori ini, kami beristirahat sambil makan siang. Dan menjelang sore hari, kami pun beranjak menuju dermaga Desa Bajo dan ke bandara deh buat pulang. Tapi sebelumnya jangan lupa ya beli buah tangan khas Kendari, yaitu kacang mete dan aneka olahan hasil bahari lain untuk keluarga dan teman-teman tercinta di rumah.

Seeya

Sekian. Terima Kasih

(previous part, read here)


Thanks-List:
@dentajaya, for the pics
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

The last day of our trip... Selalu ada perasaan duka ya pabila akan mengakhiri sebuah perjalanan. Karena segera setelahnya, kita harus...
Ha Njo Dolan Senin, 29 Oktober 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Hujan turun ketika kapal kami bergerak meninggalkan lokasi Rumah Nenek. Entah mengapa, suasana menjadi sedikit mistis. Mungkin alasannya ialah sebelumnya kami sedang bercerita wacana tulah rubuhnya Rumah Nenek. Kami sempat berspekulasi bahwa hujan waktu itu masih merupakan buntut dari tulah tersebut, hehe..

Anyway, tujuan kami selanjutnya adalah Gua Allo. Salah satu gua yang kerap kali masuk dalam itinerary saat kita berkunjung ke Sombori. Dan ternyata bentuk gua ini cukup unik lho!


Perjalanan menuju Gua Allo memakan waktu sekitar 20 menit dari Rumah Nenek. Dan ketika hingga di sana, aku cukup terkejut dengan kondisi goa tersebut.

On our way to Gua Allo

Gua Allo terletak persis di tepi laut. Kaprikornus mau tidak mau, kita harus basah-basahan untuk sanggup memasuki gua ini. Sebenarnya di bersahabat situ ada pantai, dan kita sanggup lewat pinggir-pinggirnya untuk masuk ke gua. Tapi alasannya ialah area lautnya dangkal, dan banyak karang yang menyebar, jadi kapal tidak sanggup merapat hingga ke pantai. Apalagi jikalau airnya surut, bisa-bisa kapalnya makin ke tengah “parkir”-nya.

Approaching Gua Allo

Kami pun satu per satu nyemplung ke bahari untuk berenang/berjalan menuju verbal gua. Saya yang ngga sanggup berenang (sama sekali), tidak mengecewakan jiper juga pas mau loncat dari kapal. Sebenernya ngga dalam-dalam amat, cuman kalo posisi kita di atas kapal terus ngeliat ke bawah itu kan agak-agak gimana gitu yha..

Namun kerana didukung dengan semangat yang tinggi, ditambah dorongan dari teman-teman lain di belakang (yang pada ngantri), kesannya aku nyebur juga. Dan jalan ke goanya itu tidak mengecewakan susah ya. Selain alasannya ialah karangnya tajam-tajam, ombak waktu itu juga tidak mengecewakan kenceng. Ditambah hujan pula.

Gua Allo
(courtesy of @dentajaya)

Gua Allo sendiri dalamya tidak terlalu luas, tapi tidak mengecewakan tinggi. Di pintu masuk gua, ada semacam cekungan yang terisi oleh bahari sehingga tampak menyerupai kolam renang alami. Kalau kita bergerak lebih dalam, kita akan menemukan tangga sederhana dari papan kayu, yang akan mengarahkan kita menuju kolam yang lebih besar dan kayaknya dalem sih. Kalau waktunya pas, kolam tersebut akan diterangi oleh berkas-berkas cahaya matahari dari atas gua. Berhubung waktu itu mendung bin hujan, jadi ya kolamnya keliatan gelap & so creepy.

Gua Allo "natural pool"
(courtesy of @dentajaya)

In front of Gua Allo
(courtesy of @dentajaya)

Behind the scene
(courtesy of @dentajaya)

Puas menjelajah gua, kami bergerak menuju spot berikutnya, yaitu Air Kiri. Tempat ini sebenernya gosong alias pasir timbul gitu ya. Pasirnya halus dan pemandangan sekitar juga cantik, dengan tebing-tebing karst-nya. Lokasi yang cocok untuk beristirahat sembari menikmati makan siang. Air di sekitar sini juga jernih, jadi jikalau mau snorkeling sanggup banget.

Air Kiri
(courtesy of @dentajaya)

Waters around Air Kiri

Nah, kawasan ini diberi nama Air Kiri (berdasarkan yang aku baca) alasannya ialah dari dinding tebing di bersahabat pantai ini, ada sebuah lubang yang jikalau kita masukin tangan ke dalamnya, ada tetesan air dan rasanya tawar. Karena bentuk lubangnya “membelok” ke kanan, maka akan lebih pas jikalau tangan kiri yang kita masukkan. So, jadilah namanya Air Kiri. Katanya sih begitu yha, aku sih ngga nyoba sendiri waktu itu.  

Sorry for my modeling-urge
(courtesy of @dentajaya)

Kelar makan siang, kami sempat mampir ke Pulau Mbokkita lagi, alasannya ialah ternyata makan siang yang kami bawa jumlahnya kurang untuk awak kapal. Kaprikornus mereka cari makan di Pulau Mbokkita. Sambil nunggu, ada teman-teman yang snorkeling di sekitar pulau. Tapi aku lagi males buat nyebur, jadi aku jalan-jalan keliling pulau.

Spot terakhir yang kami kunjungi hari itu ialah Sombori Hill. Tempat ini merupakan bukit karang dimana dari puncaknya, kita sanggup melihat keindahan pemandangan Sombori yang menyerupai Kepulauan Raja Ampat itu. Sebenernya di hari itu, ada beberapa kawasan lain yang mestinya sanggup kami kunjungi, cuman berhubung kami sanggup kapal yang jalannya lamaak banget, ditambah cuaca yang ngga mendukung, dan juga semoga ngga malem-malem hingga di penginapan, kesannya ya our final destination ialah Sombori Hill ini.

Untuk menuju puncak Sombori Hill ini tidak gampang lho pemirsa. Batu karangnya tajam-tajam banget, terus jalurnya sempit, jadi harus ekstra hati-hati dalam menentukan pijakan. Alangkah baiknya kita mengenakan ganjal kaki yang sesuai dan protektif, alasannya ialah bahaya tergores karang tidak hanya berasal dari bawah, tapi juga dari samping-samping. Dan jalannya juga harus ekstra sabar ya, jangan grusak-grusuk, apalagi jikalau pas rame banget. Harus saling membantu dan menjaga satu sama lain.

Sesampainya di atas, semua halangan & rintangan yang kita lalui, akan terbayar dengan pemandangan yang indah!

On top of Sombori Hill
(courtesy of @dentajaya)

On top of Sombori Hill
(courtesy of @dentajaya)

What a great way to end the day...

Going back to homestay

Perjalanan aku masih berlanjut lho, di hari terakhir aku berada di Labengki-Sombori.

(previous part, read here | next part, read here)

________________

Epilog:
Malam harinya, ketika kami di penginapan, terjadi perdebatan kecil antara kami dan kru open trip. Saya cuman dengerin aja sih. Masalahnya ya seputar kapal kami yang kondisinya buruk, sehingga harus melewatkan beberapa spot yang ada di itinerary. Itu memang hak kita ya untuk protes jikalau memang merasa dirugikan oleh alasan-alasan di luar force majeur. Akhirnya sehabis berdiskusi dengan pemilik operator trip, kami pun diberikan cashback Rp100.000/orang (yang kesannya kami kasih ke kru kapal buat tip). Dan di hari terakhir besok, kami akan diberikan satu spot suplemen yang sebenernya ngga ada di itinerary.


Thanks-List:
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Hujan turun ketika kapal kami bergerak meninggalkan lokasi Rumah Nenek . Entah mengapa, suasana menjadi sedikit mistis. Mungkin alasannya i...
Ha Njo Dolan Jumat, 21 September 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Hari Kedua di Labengki-Sombori! So excited, alasannya hari ini kami akan mengunjungi salah satu spot paling ngehits di sini. Yang fotonya udah buanyak banget berseliweran di Instagram. Apalagi bila bukan “Rumah Nenek”! Sedikit spoiler (seperti judul goresan pena ini), ternyata waktu kami ke sana kondisi rumah tersebut sungguh mengenaskan. Dan kejadiannya paaas banget sebelum kami ke sana!

So here’s the story...


Sebenernya ini rumah siapa sih? Terus nenek siapa yang tinggal di sini? Pertanyaan itulah yang selama ini menggantung di pikiran saya. Saya sudah sering melihat orang berfoto di tempat ini dan sangat ingin tau gimana tempat aslinya.

Off we go

Kami berangkat dari Labengki Kecil sekitar pukul 07.30, dan masih memakai kapal yang sama (red: kapal keong). Sebelum menuju tempat Sombori, terlebih dulu kami mengunjungi Pulau Mbokkita, alasannya semua pengunjung harus mengisi daftar kunjungan di sini. Makara semacam ijin manajemen gitu. Saya ngga tau bayar apa engga, alasannya semua (seharusnya) sudah diurus oleh pihak penyelenggara open trip.

Enroute to Mbokkita Island


Perjalanan menuju Pulau Mbokkita memakan waktu hampir 2 jam. Mungkin bila kapal “normal” dapat sejam-an ya. Pagi itu cuaca juga sedikit mendung, dengan ombak bahari yang agak gede. Beberapa kali kami kecipratan air dari samping kapal. Berasa lagi pake shower.

Seagulls on cloudy sky

Ada satu momen yang menarik di perjalanan itu. Saat mendekati Pulau Mbokkita, kami melihat sekumpulan burung yang gede-gede banget ukurannya. Kayaknya Burung Camar sih ya. Mereka lagi melayang-layang di udara, dan sesekali menukik ke arah laut. Wah, berati di sana lagi banyak ikan kecil ya. Daaan yang paling exciting, tiba-tiba kami melihat ada yang melompat di permukaan air!

Yup,itu Lumba-Lumba!

Dolphins!

Waah beruntung banget dapat ketemu Lumba-Lumba di sini. Dua kali lho!

Kami hingga di Pulau Mbokkita sekitar pukul 09.15, dan pribadi diarahkan menuju Kantor Kepala Desa untuk menuliskan nama di daftar pengunjung. Menurut informasi, rombongan kami yaitu rombongan ke-enam di hari itu. Hmm... udah tidak mengecewakan rame ya. Siap-siap buat ngantri deh nanti di spot-spotnya.

Arrived in Mbokkita Island

Btw, di pulau ini ada rumah-rumah penduduk yang terapung gitu gaes. Ngga terlalu banyak sih. Tapi ngga tau lagi ya bila masuk ke dalam pulau sana, masih ada rumah lain atau engga. Selain itu, di sini juga ada warung-warung yang menjual makanan berat, minuman, dan cemilan-cemilan.Ada toilet umum juga. Pakainya gratis, tapi airnya beli! Haha.. Kalau ngga salah Rp5.000 sebotol 1,5 liter. Makara bila mau full “gratis” ya bawa air sendiri lah buat pipis, hehe..

Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Rumah Nenek. Dan pemandangan di sepanjang jalan itu...gils keren banget sih!

Enroute to Rumah Nenek

Kita seakan diajak kembali ke zaman purbakala. Di kanan kiri berjajar pulau-pulau karang besar yang ditumbuhi lebatnya pepohonan. Sunyi...senyap...hanya ada bunyi angin, riak air, dan mesin kapal. Udah berasa di Jurassic Park gitu loh.

View along the way

Beberapa ketika kemudian, dari kejauhan tampaklah beberapa rumah terapung. Dan ternyata, kami sudah hingga di Rumah Nenek!

Approaching Rumah Nenek

Saat hendak merapat, kami pribadi di sambut oleh sesosok perempuan paruh baya, hmm, ngga ding, perempuan berusia lanjut lebih tepatnya, hehe.. Dan dia ini ternyata sang “nenek” yang punya “Rumah Nenek” itu! Waaw. Akhirnya dapat ketemu pribadi sama sang nenek yang selama ini membuatku penasaran.

Hello, Nek!

Makara si nenek ini sudah berusia ±100 tahun (tapi katanya berubah-ubah sesuai mood-nya) dan dia telah tinggal di sini semenjak zaman penjajahan. Kondisinya dapat dibilang tidak mengecewakan sehat ya. Masih dapat berkegiatan, cuman agak ada sedikit gangguan di penglihatan. Namun yang paling menciptakan kami tekejut, dia bercerita bila semalam rumah di sebelahnya, yakni rumah yang selama ini jadi spot foto... AMBRUK!

So sad

Ya Allah..Sedih banget loh. Padahal pengen banget mengunjungi rumah ini. Tapi syukurlah nenek-nya ngga papa.

Makara semalam memang ada hujan deras dan angin. Saya yang lagi tidur di homestay juga menyadarinya. Dan di tengah malam, si nenek katanya mendengar bunyi keras. Eh, ternyata bunyi itu berasal dari rumah di sebelahnya yang rubuh. Hiks.. Untung ketika itu si nenek lagi ada di rumah utama (sebelahnya).

I'm glad Nenek was okay

Namun, ada dongeng lain dari guide kami. Katanya, sebelum kami ke sana, ada pengunjung yang “nakal”. Mereka telah melanggar sebuah larangan di tempat Rumah Nenek itu. Jadi, di ujung teluk di area tersebut, ada sebuah celah yang kata guide-nya ngga boleh dimasukin/dilewatin. Eh, tapi si turisnya malah kekeuh main ke sana. Akhirnya, mungkin sang “penunggu” murka dan turunlah tulah berupa hujan topan yang hasilnya menenggelamkan Rumah Nenek!

That was the "forbidden" area

Terlepas betul atau tidak, sudah seyogyanya kita sebagai “tamu” harus meghormati segala hukum dan larangan yang ada di tempat tujuan kita ya gaes.

Meskipun sedih, kami tetap terhibur dengan pemandangan indah nan eksotis yang ada di sekeliling Rumah Nenek. Perbukitan karst yang menjulang dengan dihiasi lebatnya pepohonan hijau. What a breathtaking view!

The view

Lautnya jernih berwarna biru-tosca yang begitu mengundang untuk diceburin. Di sini kita dapat snorkeling juga lho.

Belum lagi suasana di sini yang sunyi, tenang, dan damai. Karena memang lokasinya yang dapat dibilang terpencil.

Seeya Nenek

So that was my trip to Rumah Nenek. It was sad, but happy at the same time. Saya harap sih ada pihak yang membantu pembangunan Rumah Nenek supaya pengunjung tetap tertarik untuk ke sana dan neneknya ngga kesepian, hehe..Dari sini, kami masih akan melanjutkan perjalanan menuju spot lain di Sombori yang tidak kalah cantiknya.

(previous part, read here | next part, read here)


Thanks-List:
YOU, for reading this! :)
Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Hari Kedua di Labengki-Sombori! So excited, alasannya hari ini kami akan mengunjungi salah satu spot paling ngehits di sini. Yang fotonya u...
Ha Njo Dolan Jumat, 07 September 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Tanggal 17 Agustus kemarin kebetulan banget ya jatuh di hari Jumat, jadi dapat dapet long weekend. Dan dimana ada long weekend, di situlah ada kesempatan buat jalan-jalan! Awalnya ada rencana ke Bali-Lombok, tapi kemudian secara mengejutkan ada peristiwa gempa bumi jadi ya terpaksa harus ditunda. Padahal temen aku udah ada yang beli tiket pesawat. Akhirnya kau pun memindah destinasi liburan, menuju kawasan Sulawesi Tenggara (dan Tengah), tepatnya di Labengki & Sombori.


Ini kali kedua aku menginjakkan kaki di pulau Sulawesi dan aku sangat excited untuk dapat mengeksplorasi kawasan lain di pulau ini. Labengki & Sombori sendiri merupakan dua gugus pulau yang berada di perairan perbatasan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Keduanya terpisah jarak yang tidak terlalu jauh, makanya sering dipasangkan dalam satu paket perjalanan (kalau di open trip-open trip). Labengki & Sombori ini seringkali dijuluki sebagai “miniatur” Raja Ampat di Papua!

Untuk perjalanan kali ini, aku bersama @dentajaya ikut open trip dari @sukawisata dengan paket perjalanan 3 hari 2 malam. Tadinya mau ambil yang 4 hari 3 malam, tapi tiba-tiba aku ada panggilan training sampe Kamis, jadi ya ngga jadi. Dan tadinya juga mau ikut operator trip lain yang lebih “oke”, tapi udah banyak yang full, secara juga long weekend kan.

Welcome to Kendari!

Kami datang di Bandara Haluoleo, Kendari, sekitar pukul 7.20 dan pribadi bergabung dengan akseptor trip lain yang totalnya berjumlah kurang lebih 17 orang. Badan rasanya remek banget gaes, semalem terbang dari Surabaya jam 21.30, terus hingga di Makassar jam 00.30, terus gegoleran di bandara sampe pagi. Anyway, tapi tetep semangat buat liburan! Yey.

Bajo village

Dari bandara, kami bergerak menuju pelabuhan yang ... tidak bernama. Saya ngga tau itu di kawasan mana, pokoknya melintasi kota Kendari. Kata driver-nya, itu desa Bajo. Tapi ya kan emang di sana sukunya suku Bajo (?) Well, kami nunggu kapalnya tidak mengecewakan lama, dan gres berangkat sekitar jam 11.00.

Bajo Village

Port at Bajo village

First impression: panas say! So hot. Baru agak adem pas kapalnya mulai jalan. Tapi ternyata, kecepatan kapal yang kami tumpangi tak ubahnya keong racun. Lambat banget ya Allah. Sampe udah ketiduran, bangun, tidur lagi, bangkit lagi, belum juga sampe. Total perjalanan kami sekitar 5 jam! Yes. Five, fvcking, hours! Padahal normalnya dapat ditempuh dalam 2 jam saja. Bye.

Off we go!

Blue everywhere

Sayang masih ada sampah

After 5 hours
Betapa bahagianya ketika kapal kami bersandardi Pulau Labengki Kecil. Yey. Perjalanan panjang dan menyiksa tadi dapat terobati, dengan keindahan pemandangan pulau serta permukiman penduduk. Airnya juga jernih banget lho. Dasarnya lautnya udah keliatan dari atas kapal.

Welcome to Labengki Kecil

Kami pun berjalan menuju homestay yang lokasinya pas di pinggir laut. Wew. We had a great view!

Namun sayang, alasannya ialah kami hingga sana udah kesorean jadi terpaksa ada spot yang di-skip dulu. Dan rencana kami hari itu ialah mengunjungi spot Raja Ampat View dan Teluk Love View. Kami pun berangkat ke sana sehabis bongkar barang bawaan dan makan siang.

Tempat yang akan kami kunjungi ini letaknya deket banget ternyata, di Pulau Labengki Besar yang  mana posisinya di ada seberang Pulau Labengki Kecil. Makara cukup naik kapal sekitar 15-20 menit.

Off to Labengki Besar

Sesampainya di Labengki Besar, kita masih harus naik tangga lagi untuk dapat hingga di 2 spot tersebut. Untungnya waktu itu cuman ada satu rombongan lain yang barengan sama kami, jadi ngga terlalu rame di atas. Spot-nya di atas itu ngga terlalu luas dan beliau ada di atas bukit karang, jadi tajem-tajem banget bawahnya. Harus ekstra hati-hati ketika melangkah ya gaes! Karena jikalau salah berpijak dikit aja, duh alamat, berdarah deh tuh. Alangkah baiknya jikalau pakai ganjal kaki yang mendukung juga. Sepatu ialah pilihan terbaik berdasarkan saya, alasannya ialah dapat melindungi seluruh permukaan kaki (ngga cuma telapaknya aja)

Labengki Besar Island
Sign Board

The path

And here we are, Raja Ampat View...

Raja Ampat View

Kece sih. Dari sini kita dapat melihat pulau-pulau kecil di Labengki Besar itu. Di bawah sana juga terlihat ada beberapa pondokan milik salah satu resort (kalo ngga salah Labengi Nirwana Resort), tapi sayang yang boleh masuk cuman pengunjung yang nginep disana. Padahal instagramable sih resortnya.

Berjalan sedikit ke sisi lain, kita akan hingga di spot Teluk Love View..

Teluk Love View

Kece juga tempatnya. Namun jikalau ingin dapat melihat secara terang bentuk “Love”-nya, temen-temen dapat foto pakai drone dari atas. Tapi foto dari angle ini juga udah cukup sepakat kok.

So that was our first day exploring Labengki-Sombori. Hari berikutnya, kami akan mengeksplorasi kawasan Sombori. Dan kami akan mengunjungi Rumah Nenek yang super populer itu!

(next part, read here)


Thanks-List:
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Tanggal 17 Agustus kemarin kebetulan banget ya jatuh di hari Jumat, jadi dapat dapet long weekend . Dan dimana ada long weekend , di situla...
Ha Njo Dolan Minggu, 19 Agustus 2018