Ads

Ads
Menu
Results for "Traveling"
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Tanggal 17 Agustus kemarin kebetulan banget ya jatuh di hari Jumat, jadi dapat dapet long weekend. Dan dimana ada long weekend, di situlah ada kesempatan buat jalan-jalan! Awalnya ada rencana ke Bali-Lombok, tapi kemudian secara mengejutkan ada peristiwa gempa bumi jadi ya terpaksa harus ditunda. Padahal temen aku udah ada yang beli tiket pesawat. Akhirnya kau pun memindah destinasi liburan, menuju kawasan Sulawesi Tenggara (dan Tengah), tepatnya di Labengki & Sombori.


Ini kali kedua aku menginjakkan kaki di pulau Sulawesi dan aku sangat excited untuk dapat mengeksplorasi kawasan lain di pulau ini. Labengki & Sombori sendiri merupakan dua gugus pulau yang berada di perairan perbatasan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Keduanya terpisah jarak yang tidak terlalu jauh, makanya sering dipasangkan dalam satu paket perjalanan (kalau di open trip-open trip). Labengki & Sombori ini seringkali dijuluki sebagai “miniatur” Raja Ampat di Papua!

Untuk perjalanan kali ini, aku bersama @dentajaya ikut open trip dari @sukawisata dengan paket perjalanan 3 hari 2 malam. Tadinya mau ambil yang 4 hari 3 malam, tapi tiba-tiba aku ada panggilan training sampe Kamis, jadi ya ngga jadi. Dan tadinya juga mau ikut operator trip lain yang lebih “oke”, tapi udah banyak yang full, secara juga long weekend kan.

Welcome to Kendari!

Kami datang di Bandara Haluoleo, Kendari, sekitar pukul 7.20 dan pribadi bergabung dengan akseptor trip lain yang totalnya berjumlah kurang lebih 17 orang. Badan rasanya remek banget gaes, semalem terbang dari Surabaya jam 21.30, terus hingga di Makassar jam 00.30, terus gegoleran di bandara sampe pagi. Anyway, tapi tetep semangat buat liburan! Yey.

Bajo village

Dari bandara, kami bergerak menuju pelabuhan yang ... tidak bernama. Saya ngga tau itu di kawasan mana, pokoknya melintasi kota Kendari. Kata driver-nya, itu desa Bajo. Tapi ya kan emang di sana sukunya suku Bajo (?) Well, kami nunggu kapalnya tidak mengecewakan lama, dan gres berangkat sekitar jam 11.00.

Bajo Village

Port at Bajo village

First impression: panas say! So hot. Baru agak adem pas kapalnya mulai jalan. Tapi ternyata, kecepatan kapal yang kami tumpangi tak ubahnya keong racun. Lambat banget ya Allah. Sampe udah ketiduran, bangun, tidur lagi, bangkit lagi, belum juga sampe. Total perjalanan kami sekitar 5 jam! Yes. Five, fvcking, hours! Padahal normalnya dapat ditempuh dalam 2 jam saja. Bye.

Off we go!

Blue everywhere

Sayang masih ada sampah

After 5 hours
Betapa bahagianya ketika kapal kami bersandardi Pulau Labengki Kecil. Yey. Perjalanan panjang dan menyiksa tadi dapat terobati, dengan keindahan pemandangan pulau serta permukiman penduduk. Airnya juga jernih banget lho. Dasarnya lautnya udah keliatan dari atas kapal.

Welcome to Labengki Kecil

Kami pun berjalan menuju homestay yang lokasinya pas di pinggir laut. Wew. We had a great view!

Namun sayang, alasannya ialah kami hingga sana udah kesorean jadi terpaksa ada spot yang di-skip dulu. Dan rencana kami hari itu ialah mengunjungi spot Raja Ampat View dan Teluk Love View. Kami pun berangkat ke sana sehabis bongkar barang bawaan dan makan siang.

Tempat yang akan kami kunjungi ini letaknya deket banget ternyata, di Pulau Labengki Besar yang  mana posisinya di ada seberang Pulau Labengki Kecil. Makara cukup naik kapal sekitar 15-20 menit.

Off to Labengki Besar

Sesampainya di Labengki Besar, kita masih harus naik tangga lagi untuk dapat hingga di 2 spot tersebut. Untungnya waktu itu cuman ada satu rombongan lain yang barengan sama kami, jadi ngga terlalu rame di atas. Spot-nya di atas itu ngga terlalu luas dan beliau ada di atas bukit karang, jadi tajem-tajem banget bawahnya. Harus ekstra hati-hati ketika melangkah ya gaes! Karena jikalau salah berpijak dikit aja, duh alamat, berdarah deh tuh. Alangkah baiknya jikalau pakai ganjal kaki yang mendukung juga. Sepatu ialah pilihan terbaik berdasarkan saya, alasannya ialah dapat melindungi seluruh permukaan kaki (ngga cuma telapaknya aja)

Labengki Besar Island
Sign Board

The path

And here we are, Raja Ampat View...

Raja Ampat View

Kece sih. Dari sini kita dapat melihat pulau-pulau kecil di Labengki Besar itu. Di bawah sana juga terlihat ada beberapa pondokan milik salah satu resort (kalo ngga salah Labengi Nirwana Resort), tapi sayang yang boleh masuk cuman pengunjung yang nginep disana. Padahal instagramable sih resortnya.

Berjalan sedikit ke sisi lain, kita akan hingga di spot Teluk Love View..

Teluk Love View

Kece juga tempatnya. Namun jikalau ingin dapat melihat secara terang bentuk “Love”-nya, temen-temen dapat foto pakai drone dari atas. Tapi foto dari angle ini juga udah cukup sepakat kok.

So that was our first day exploring Labengki-Sombori. Hari berikutnya, kami akan mengeksplorasi kawasan Sombori. Dan kami akan mengunjungi Rumah Nenek yang super populer itu!

(next part, read here)


Thanks-List:
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Tanggal 17 Agustus kemarin kebetulan banget ya jatuh di hari Jumat, jadi dapat dapet long weekend . Dan dimana ada long weekend , di situla...
Ha Njo Dolan Minggu, 19 Agustus 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Jumat, 13 April 2018


Hari kedua di Taman Nasional Tanjung Puting. Pagi itu kami disambut dengan bunyi Owa-owa, burung, serta serangga yang bersahut-sahutan. Menyadarkan kembali bahwa saya sedang berada di tengah rimba Kalimantan.

Saya sempat berjalan-jalan di sekitar Desa Sungai Sekonyer—tempat kami menginap—dan ternyata kondisinya ya sama menyerupai desa-desa pada umumnya. Saya pikir alasannya yaitu letaknya di tengah hutan, akan menjadikannya agak “wild” dengan rumah-rumah dari kayu dan beratap daun gitu. Ternyata enggak juga. Di sana bangunannya udah semi modern, meskipun sederhana. Ada masjid, perpustakaan, toko-toko, juga motor yang berlalu-lalang. It was a nice walk tho.




Sekitar pukul 08.00/09.00, klotok kami angkat sauh dan beranjak menuju lokasi feeding kedua, yakni Camp Pondok Tanggui.

Cruising Sekonyer River Day 2

Pemandangan indah di sepanjang Sungai Sekonyer masih menjadi “penghibur” kami di tengah panasnya cuaca hari itu. Saya berharap dapat melihat hewan-hewan liar lebih banyak lagi. Tapi ternyata ngga semudah itu mereka menampakkan diri. Sekali waktu ada seekor burung dengan bulu indah berwarna biru melintas di depan klotok kami. Kata Bang Faisal, itu burung jenis Kingfisher. Mereka memang sering mencari makan (berupa ikan) di sekitar sungai.

Cruising Sekonyer River Day 2

Kami juga sempat melewati pintu masuk Rimba Ecolodge. Salah satu penginapan ternama yang ada di Tanjung Puting ini. For your info, di daerah ini juga artis Hollywood Julia Roberts pernah menginap ketika menciptakan sebuah film dokumenter. Kalau mau nginep di sini dapat banget sih. Ada kok paket trip yang sekalian stay di sini. Tapi harganya tentu lebih melanbung jauh terbang tinggi yha

Rimba Ecolodge

Sekitar satu jam mengarungi sungai, kami pun tiba di Camp Pondok Tanggui. Untuk hingga ke lokasi feeding-nya, kita mesti jalan agak jauh (lebih jauh dari Camp Tanjung Harapan). Sebenernya, kata Bang Faisal, susukan dan keluar di Pondok Tanggui ini dibedakan (kayak muter gitu). Makara semacam one way. Tapi berhubung waktu itu ada pohon tumbang, kami jadi lewat satu jalur yang sama.

Briefing at Pondok Tanggui

Pondok Tanggui Track

Pas hingga di daerah feeding, ternyata di sana udah banyak orang. Dan lagi-lagi mayoritas bule. Namun, belum ada satu orangutan pun yang hadir di “panggung” feeding-nya. Para ranger juga masih sibuk teriak-teriak ala-ala tarzan gitu buat manggil orangutannya.

Waiting...

Berjam-jam kami nunggu, tapi ngga dateng-dateng juga orangutannya. Beberapa pengunjung ada yang “menyerah” dan pergi meninggalkan lokasi feeding. Hal kayak gini sebenernya wajar-wajar saja terjadi. Mungkin bagi kita (para turis), agak kecewa ya ngga dapat nonton orangutannya. Tapi sebenernya, ini dapat jadi menunjukan baik dari segi ekosistemnya. Dengan tidak hadirnya orangutan di daerah feeding, dapat menandakan bahwa cadangan makanan di hutan masih cukup tersedia. Atau dapat juga mengindikasikan bahwa orangutan-orangutan tersebut sudah tidak bergantung lagi pada “bantuan” manusia.

Dan akhirnya, kami pun “menyerah” juga dan pergi meninggalkan Camp Pondok Tanggui. But that’s okay for me. Namanya lagi di alam liar, expect the unexpected kan.

Move On

Tujuan kami berikutnya—sekaligus yang terakhir— yaitu Camp Leakey. And I was sooo excited! alasannya yaitu dalam perjalanan menuju Camp Leakey ini, kita akan melewati salah satu daerah yang iconic dari Tanjung Puting, yakni sungai berair hitam!

Perjalanan menuju Camp Leakey memakan waktu sekitar satu jam. Dan kita bakalan tau jikalau udah deket lokasinya, ketika kita hingga di percabangan sungai, dan air sungai yang berwarna coklat akan bertransisi menjadi hitam! Like, literally hitam. Cool!

Color change!

Btw air hitam di sungai ini bukan alasannya yaitu terkotori lho. Tapi alasannya yaitu dampak lahan gambut di sekitar. Dan malah air di sini terbilang bersih. Beda dengan air sungai yang berwarna coklat sebelumnya.

Entah kenapa suasananya tiba-tiba berubah jadi makin dingin, sunyi, dan sedikit... misterius. Lebar sungai makin mengecil. Dan kayaknya hutan-hutannya juga tambah rapat, makin dense. Sebagian permukaan sungai juga tertutup tumbuh-tumbuhan.

Namun dibalik ke-eksotisan pemandangannya, sungai hitam ini merupakan “rumah” dari Buaya Muara (Crocodilus porosus) dan Buaya Sinyulong/Supit (Tomistoma schlegeli)! Kata Bang Faisal ada yang panjangnya mencapai 6 meter dengan badan hitam dan punggung berlumut. Heuheu! Dulu pernah ada kejadian turis meninggal gara-gara diserang buaya pas ia lagi berenang di suangi hitam ini. Jadi, rekan-rekan sekalian yang punya impian main-main air apalagi nyebur di sini, diurungkan saja ya.

Camp Leakey

Camp Leakey

Sesampainya di Camp Leakey, kita akan mengunjungi dulu information center. Di sini, kita ngisi buku tamu dan dapat baca-baca banyak sekali macam informasi perihal orangutan dan TN Tanjung Puting.
Satu hal yang menarik saya yaitu dongeng mengenai Tom, orangutan yang dulu merupakan jantan lebih banyak didominasi di Tanjung Puting ini. Pas saya baca-baca artikel, nama Tom kerap muncul sebagai highlight. Dia juga pernah jadi model sampul majalah National Geographic. Namun sayang, Tom telah menghilang selama berbulan-bulan or years (lupa mulai kapan). Kabarnya ia kalah tarung dengan pejantan lain, sehingga ia meninggalkan wilayah kekuasaannya dan pergi ke sisi lain hutan dan tak pernah kembali. What a though life!

Information Centre

Tom

Dari information center, perjalanan menuju lokasi feeding masih cukup jauh. Sekitar sejam-an jalan kaki. By the time we get there, baju dan badan ini sudah lembap bermandi keringat. Tapi semua terbayar ketika orangutan-orangutan mulai berdatangan dan memakan pisang-pisang yang sudah disediakan. So cute!

Camp Leakey Track

Camp Leakey Track


Feeding location

Feeding location

Ada banyak sih yang tiba dan pergi waktu itu. Tapi yang paling memorable, pas kita semua lagi fokus nonton ke “panggung”, tiba-tiba salah seorang ranger ngasih tau jikalau ada orangutan di belakang kita! Omg.


Meet Yuni!
Namanya Yuni, salah satu betina lebih banyak didominasi di sini. Dan ia lagi bawa bayi. Unch so cute! Para ranger pun menyuruh kami minggir dan ngasih jalan buat Yuni. Dan itu yaitu pengalaman yang exciting sekali untuk dapat sedeket itu sama orangutan liar! Wew.

Kami pun duduk kembali dan melanjutkan menikmati tingkah contoh orangutan (terutama yang bayi-bayi) yang memang sangat adorable. Namun tidak usang kemudian, kami dikejutkan lagi dengan kedatangan orangutan lain dari belakang (lagi), dan kali ini berjulukan Akhmad. Salah satu orangutan betina tertua di sini. Omg. Dua kali dapat sedeket itu sama orangutan, like, cuman berjarak 1-2 meter! Wagelaseh!

Meet Akhmad!

Sekitar 30 menit sebelum jam feeding berakhir, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya sehingga menciptakan semua pengunjung harus undur diri dari Camp Leakey. Mana jarak ke pintu keluarnya jauh amat ya alhasil lembap lah seluruh pakaian ini. But it was fun. Seriously! Gimana lagi cara terbaik menjelajahi hutan hujan, selain menikmati keindahan hutan beserta “hujan”-nya! Yakhaan...

Crew Para Petualang Cantik Trans7

Camp Leakey menjadi camp terakhir yang kami kunjungi dalam perjalanan ini. Sore hari itu, kami eksklusif bertolak kembali menuju Pelabuan Kumai.

Seeya again

So long, my orangutan friends!

Tapi jangan sedih, ada satu lagi “keajaiban” Tanjung Puting yang masih dapat kita saksikan! Dan keajaiban ini hanya dapat kita temui ketika malam tiba. Saat kelotok kita hingga di area hutan nipah. Di sini, kita akan disuguhi pemandangan ratusan bahkan ribuan kunang-kunang yang berkerlap-kerlip manja di antara pepohonan Nipah!

Itu yaitu salah satu pengalaman paling istimewa yang pernah saya lihat! Udah kayak lampu-lampu hias di pohon Natal. Namun sayang, pemandangan spektakuler itu ngga dapat direkam dalam bentuk foto maupun video. Entah apa kita yang waktu itu ngga punya cukup skill atau alat yang memadai, or else. Tapi memang, terkadang sesuatu yang indah itu cuman dapat dinikmati, tanpa dapat didokumentasi. Kalau mau lihat, ya harus kesini langsung! Hehe...

Seeya Tanjung Puting

Jadi, demikian dongeng saya selama 2 hari 1 malam menjelajahi Taman Nasional Tanjung Puting. Seperti yang saya bilang, it was like a dream come true! Untuk dapat pergi sejenak meninggalkan ke-riweuh-an pekerjaan, kemudian mblusuk ke hutan, ngeliat orangutan secara live, hmm... benar-benar pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dan supaya suatu hari nanti, dapat kembali ke daerah ini.

Sekian. Terima Kasih

Ada yang udah pernah ke Tanjung Puting? Share your story below.

        
Previous Episode...


NaraHubung:
Liborneo Travelguide
Telp./WA: 082230580313 (Dion)
IG: @liborneo.travelguide



Thanks-List:
Liborneo, for the amazing experience
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Jumat, 13 April 2018 Hari kedua di Taman Nasional Tanjung Puting. Pagi itu kami disambut dengan bunyi Owa-owa, burung, serta serangga ya...
Ha Njo Dolan Minggu, 29 April 2018
Travel Agent Penyedia Info Wisata

Meskipun orisinil Jember, saya jarang banget main ke tempat-tempat wisata yang ada di kampung halaman saya ini. Kalau diinget-inget, saya cuman pernah sekali main ke salah satu pantai di Jember, namanya Papuma (Pasir Putih Malika). Pantai yang kini jadi magnet wisata utama di "Kota Suwar-Suwir" ini. Saya ke sana beberapa tahun kemudian bareng temen-temen SMA. Pengen sih sebenernya keliling ke spot-spot lain di seputaran Jember. Tapi berhubung kini tinggalnya di Probolinggo, jadi lebih milih pulang ke rumah pas weekend.

Nah, beberapa hari lalu, saya balasannya sanggup kesempatan (dan juga ilham) sebenarnya ada libur tanggal merah, hari Jumat 30 Maret. Dan kebetulan yang "tidak terlalu menyenangkan" juga, saya disuruh lembur hari Sabtu-nya. Maka jadilah saya ber-ide buat jalan-jalan di Jember untuk memanfaatkan libur sehari ituh. Saya balasannya milih main ke beberapa pantai di kawasan selatan Jember. Total satu hari itu saya mampir ke tiga pantai, berhubung lokasi satu sama lain deket banget. 

And yes, I’m traveling solo again! ☺️

So here where the story begins...




Jumat, 30 Maret 2018

Tujuan pertama saya waktu itu ialah Pantai Payangan dan Teluk Love. Mungkin sobat ada yang udah pernah dengar dua tempat ini ya. Udah populer juga sih di Jember. Dan mereka ini ada di satu lokasi sama, atau lebih tepatnya bersebelahan, di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu.

Saya berangkat dari kota Jember sekitar pukul 06.45 dan perjalanan menuju Payangan memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Tentu saja lebih cepat bila menaiki motor dan mengebut. Rutenya pun sangat mudah. Ambil saja arah ke selatan (Ambulu), dan di sepanjang jalan sudah tersedia papan-papan petunjuk yang jelas. Jalanannya terbilang cukup mulus. Namun bersiaplah untuk sedikit bergoyang terkena lubang-lubang, ketika mendekati tempat tujuan.

Sign Board

Begitu hingga di area Payangan, tanpa tedeng aling-aling saya eksklusif “dihalau” oleh seorang bapak penjaga parkiran untuk menepikan motor. Entah itu parkiran resmi atau engga ya. Tapi saya lihat di situ ada beberapa motor yang udah parkir duluan, jadi ya saya percaya aja. Biaya parkirnya dibanderol sebesar Rp5.000.

Payangan Parking Area

Sepertinya bila kita berkendara terus hingga ke akrab Teluk Love (ke timur), bakal ada tempat parkir lain di sana. Tapi kata si bapak, bila kita parkir di tempat dia, kita sanggup eksklusif jalan dari Payangan ke Teluk Love tanpa harus bayar parkir lagi. Sungguh sebuah trik marketing belaka. Kerana meskipun kita parkir di mana aja, ya bakalan sama aja. Lha wong di dalam Payangan & Teluk Love kita bebas mondar-mandir.

Anyway, saya pun memasuki area Pantai Payangan.

So excited!

Namun semangat itu sirna tatkala saya di sambut oleh...

sampah!

Payangan Beach

Yup. Banyak sekali sampah bertebaran di pinggir Pantai Payangan ini. Sebuah warta yang menimpa hampir semua pantai di Indonesia.

Say hi to local residents

Saya berjalan ke arah barat. Karena melihat garis pantai yang panjang, semangat untuk menjelajah dan menyusuri pantai itu pun membuncah. Namun ternyata itu hanya etok-etok belaka, alasannya pas dilihat-lihat kok ya jauh banget jaraknya. Bisa tembus ke Watu Ulo deh kayaknya. Dan bila ditambah dengan berenang sedikit, bakal hingga di Papuma. Hmmm..

Akhirnya saya balik arah dan berjalan ke arah timur. Kalau ke timur, kita akan bertemu dengan bukit, pantai, bukit lagi, pantai lagi, bukit lagi, hingga balasannya ke Teluk Love.

Payangan East Side

Namun satu kesalahan besar yang saya lakukan waktu itu adalah.... jalan-jalan di pantai pakai sepatu! Ya Allah. Telapak kaki rasanya udah kayak dioven. Belum lagi harus berhenti beberapa kali buat ngeluarin pasir.

Pemberhentian pertama saya ialah sebuah bukit kecil dengan bendera merah-putih di puncaknya. Kalau ngga salah, Bukit Seruni namanya. Dari bawah sih benderanya kelihatan kecil. tapi pas hingga puncak, gede banget lho ternyata!

Seruni Hill

Bukit Seruni ini ngga terlalu tinggi, paling 50 meter-an lah. Namun, untuk ke atasnya juga tidak mengecewakan perjuangan. Belum ada tangga-tangga yang sejati. Hanya ada tanah-tanah yang diciduk, serta batu-batu sebagai pijakan. Makara kayak setengah rock climbing gitu. Akan tetapi, semua lelah dan keringat yang kita keluarkan akan terbayar ketika mencapai puncak gemilang cahaya. Pemandangan yang tersaji  di atas sungguhlah indah.

Up up up!

View from top of Seruni Hill

Goa Jepang

View from top of Seruni Hill

Turun dari Bukit Seruni, saya lanjut jalan ke bukit selanjutnya, yakni Bukit Samboja. Jaraknya hanya sekitar 100 meter saja ke arah timur.

Suroyo Hill (Far-Left) & Samboja Hill (Right)

Di sepanjang pantai waktu itu cukup sepi ya. Hanya ada beberapa cowok yang sedang memancing. Ada juga satu keluarga yang sedang asyik bermain air. Ada yang sedang duduk-duduk di depan warung. Makara sebenernya, tempat ini tuh sanggup jadi tujuan liburan keluarga yang cukup oke. Terlepas dari tingkat kekotoran yang agak memprihatinkan ya. Namun harus tetap berhati-hati, terutama buat adek-adek kecil, alasannya ombaknya cukup menyeramkan.

Beach between Seruni & Samboja Hill

Child's Play

Sebelum naik ke Bukit Samboja, kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp5.000. Di atas bukit ini, ada beberapa spot yang sanggup kita kunjungi, menyerupai Bukit Seribu Janji, Puncak Seribu Janji, Pantai Anak Panah Arjuna, Batu Buaya, Gunung Surya, & Teluk Love Sisi Utara. Sungguh kreatif ya masyarakat kita dalam pertolongan namanya. Tapi yang jelas, berdasarkan saya Bukit Samboja ini terpelihara dengan cukup baik. Bersih, dan tertata rapi. Banyak bunga-bunga (mungkin mengapa dinamakan “Samboja”, dari “Kamboja” (?)), banyak gazebo buat istirahat, ada pagar pelindung, tangga-tangga yang mumpuni, serta lampu-lampu penerangan.

Samboja Hill Entrance

Up up up!

Spot Seribu Janji

Top of Seribu Janji

Awalnya saya ngga nemu itu si "Teluk Love Sisi Utara". Karena pas di puncak bukit, saya ngga sanggup lihat bentuk "love"-nya. Sampai akhirnya, ketika saya sedang turun bukit, saya ketemu sama bapak-bapak penjaga & bapak pemotong rumput. Dari beliau-beliau inilah balasannya saya mendapatakan banyak sekali informasi. Salah satunya, ternyata Teluk Love atau Teluk Cinta itu ada dua lho! (menurut si bapak-bapak ini ya)

Saya pun scroll-scroll foto yang saya ambil dari puncak bukit tadi. Dan ketemulah itu si Teluk Love Sisi Utara! Ternyata udah saya jepret di HP, hehe..

Teluk Love Sisi Utara

Saya sanggup banyak kisah dari kedua bapak itu. Salah satunya wacana makam/petilasan yang ada di puncak Bukit Samboja itu. Kata bapaknya sih, itu makam keturunan kerajaan Majapahit, yang sebenernya dia sanggup jadi raja, tapi dianya ngga mau jadi raja, or something like that. Kadang-kadang ada juga pengunjung yang berziarah ke sana.

Mt Surya Island

Silence of The Hill

View from top of Samboja Hill

View from top of Samboja Hill

Selain itu, si bapak juga ngasih info wacana camping ground. Makara buat temen-temen yang mau buka tenda, sanggup banget nih. Ada area khusus di pinggir pantai yang disediakan buat camping. Biayanya Rp15.000 per orang, sementara untuk biaya titip motor selama 24 jam sebesar Rp6.000. Lokasi parkirnya beda sama tempat parkir saya tadi ya. Kalau di bapak tempat saya parkir itu, saya tanya Rp10.000 katanya untuk 24 jam. Makara mending parkir motornya di area Bukit Samboja aja.

Camping Ground

Anyway, dari Bukit Samboja ini kita sanggup ngeliat satu bukit lagi, yaitu Bukit Suroyo. Bukit yang jadi area utama untuk menyaksikan Teluk Love. Hmmm... melihat dari jauh saja, sudah menciutkan semangat saya buat ke sana. Tinggi banget cuy! Jauh lebih tinggi dari Samboja. Belum lagi bila ke sana, harus melewati “padang pasir” pantai yang amat luas, di tengah terik matahari, kemudian menyusuri jalur naik dan mengelilingi bukit. Hadew... 

Tapi udah jauh-jauh nyampe sana masak tidak merampungkan tujuan, ya khan? Akhirnya, saya membulatkan tekad untuk naik ke Bukit Suroyo ituh. Yosh!

Beach between Smaboja & Suroyo Hill

Beach between Samboja & Suroyo Hill

Biaya masuk Bukit Suroyo dibanderol sebesar Rp7.500. Kenapa harganya beda dari Bukit Samboja? Karena usut punya usut, berdasarkan hasil wawancara saya dengan bapak kebersihan di atas Bukit Suroyo, ternyata kedua tempat ini pengelolanya berbeza, dan ditambah, pekerja di Bukit Suroyo itu lebih banyak (secara areanya juga lebih gede kan).

Suroyo Hill Entrance

Teluk Love Monument

Dan perjalanan panjang saya menaiki bukit pun dimulai. Rute yang “bener” berdasarkan bapak penjaganya sih ke arah kanan dulu, tapi bila mau eksklusif ke kiri sebenernya ngga papa juga sih. Soalnya bila ke kiri sanggup eksklusif straight to spot Teluk Love. Tapi lantaran waktu itu saya ngga tau ingin mengeksplor lebih, saya ambil rute yang udah ditentukan saja.

Up up up!

Suroyo Hill Track

View from top of Suroyo Hill

I Love NKRI

Camping Ground

Di Bukit Suroyo ini ada beberapa spot menyerupai goa/bunker peninggalan penjajahan Jepang, goresan pena “I Love NKRI”, area camping, Gedung Bumi (yang saya ngga ngerti itu tempat apa maksudnya), dan tentu saja spot dengan view Teluk Love. And that was so beautiful!

Goa Jepang

Gedung Bumi

Total saya naik turun Bukit Suroyo ini memakan waktu sekitar satu jam.

Welcome to Teluk Love

Teluk Love

Teluk Love

Lanjut, sesudah Jumatan di akrab Payangan, saya memacu motor menuju Pantai Watu Ulo yang jaraknya hanya sekitar 9 menit saja (ke arah barat). Di akrab gapura, saya kembali di hadang, tapi kali ini bukan untuk parkir, melainkan tiket masuk seharga Rp8.000. Lagi-lagi entah itu resmi atau tidak, saya pun tak tahu. Dari gerbang itu kita masih harus berkendara kurang lebih 3 menit, gres balasannya hingga di pantainya. Di sana, saya di tarik lagi biaya parkir sebesar Rp5.000. 

Tapi nih ya, sebenernya bila kita parkirnya mbrasak-mbrasak di tempat yang sepi kayaknya sanggup gratis deh, hehe.. 

And, welcome to Watu Ulo...

Watu Ulo Beach

Watu Ulo Beach

Akhirnya yah sanggup ke sini. Dulu cuman denger dari cerita-ceritanya saja yang melegenda. Cerita wacana sesosok ular besar (sesuai namanya Watu Ulo=Batu Ular) yang katanya kepalanya ada di Banyuwangi, sementara potongan badannya ada di Pantai Watu Ulo ini. Dan kisah ini banyak lah versinya, sanggup sobat googling sendiri.

Yang katanya "badan ular"

Yang katanya "badan ular"

Waktu itu sepi banget sih di sana. Padahal lagi hari libur ya. But I enjoyed it so much lah. Saya jadi sanggup leyeh-leyeh sesuka hati di dingklik pantai, di bawah naungan payung. Kemudian menikmati makan siang berupa lobster bakar (Rp35.000). Lalu leyeh-leyeh lagi, ditemani deburan ombak, hmm.. wenak pokoke.

Santay cuy

Berpayung awan beralas kaca

Puas bersantai dan menikmati Watu Ulo, tadinya saya mau eksklusif balik ke kota. Tapi kok ya pengen mampir ke Papuma lagi ya. Akhirnya saya bablas dulu ke Papuma, berhubung juga jaraknya hanya sekitar 7 menit saja (ke arah barat).Tiket masuk Papuma dibanderol Rp20.000 di hari libur, plus biaya motor Rp2.000. Jauh lebih mahal ya dari kedua pantai sebelumnya. Tapi emang Papuma ini yang paling ramai sih. Fasilitasnya juga terbilang cukup lengkap.

Harga Tiket Masuk Papuma

Cuman satu yang saya sayangkan dari dulu. Harga tiketnya kan udah mahal, mbok ya jalannya diperbaiki gitu lho. Masak udah ngehits tapi jalannya masih bolong-bolong. Dari dulu ngga ada perkembangan deh. Apalagi jalan yang buat baliknya. For information nih, kita bila mau keluar dari Papuma, ngga boleh ambil jalur ke Watu Ulo lagi gaes. Kita nanti bakal diarahin buat muterin jalan kecil yang nanti tembusnya ke jalan Watu Ulo-Ambulu juga. Dan kondisi jalannya itu, mmhh.. rosak!

Hello again, Papuma!

Hello again, Papuma!

Sejak terakhir kali saya ke sana. ngga banyak yang berubah sih dari Papuma. Mungkin payung-payung sama dingklik pantainya aja yang tambah banyak. Tapi dari segi kemudahan memang Papuma ini yang paling baiklah sih, dari kedua pantai tadi. Makara ngga heran bila banyak orang yang mengakibatkan Papuma ini sebagai destinasi liburan favorit.
Papuma Beach

Papuma Beach

Well, saya mengakhiri perjalanan hari itu di Papuma. Sudah tiga pantai yang saya kunjungi sedari pagi. Meskipun ya, secara geografis ketiga pantai ini masih dalam satu garis, tapi masing-masing mempunyai daya tarik yang berbeda. Semoga ke depan, pantai-pantai ini, dan pantai-pantai di Jember lainnya sanggup lebih terawat dan terjaga kebersihannya ya. Makara sanggup makin meningkatkan pariwisata di Jember.

But overall, that was a fun one-day-trip! ☺️

Bye, Papuma!

Seeya

Ada yang udah pernah main ke tiga pantai ini? Share your story below... ☺️ 



NaraHubung: 
Pantai Payangan & Teluk Love 
Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember 

Pantai Watu Ulo 
Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember 

Pantai Papuma 
Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember 



Thanks-List: 
YOU, for reading this! :)

Sumber http://ferydyan.blogspot.com

Meskipun orisinil Jember, saya jarang banget main ke tempat-tempat wisata yang ada di kampung halaman saya ini. Kalau diinget-inget, saya c...
Ha Njo Dolan Jumat, 30 Maret 2018